En- Mati lebih baik?

2.8K 113 8
                                        

Aneh.
Ternyata mendapatkan maaf dari Lady tidaklah sulit.mudah.bahkan sangat mudah. Gue tau benar, Lady bukan wanita tipe tipe dongeng princess yang berhati lembut, murni,welas asih, penyabar dan sejenisnya yang jarang banget di miliki wanita wanita kekinian. Eittss tapi gue juga gak bilang dia jahat,atau nyebelin menurut gue dia itu baik, cukup hebat buat bikin gue ngerasa nyaman.

kemarin sore gue ngerasa aneh aja sama sikapnya,dia keliatan lebih fresh, enjoy, dan asik banget, enggak memaki atau nyumpah serapah ke gue. Syukurdeh

Secara garis besar, pertemuan gue sama lady kemarin berjalan sangat baik, gue bakal deskripsiin penampilan dia kemarin.
Di pakai dress warna kuning tapi gak mencolok, ada motif bunga bunga warna merah dibagian roknya, rambutnya dibiarkan terurai indah dengan sedikit curly-an di bagian ujungnya, seandainya dipakein jepitan pasti bakal terlihat tambah manis. Make-up nya simple, warna bibirnya peach benar benar terlihat natural, bulu matanya lentik dan panjang, cantik banget. Dia pakai sedikit perona pipi, yang makin buat dia terlihat lebih segar.

Kayak bunga yang baru mekar di pagi hari, yang Segar karena tetesan embun. Itulah Lady...

Kita berdua juga makan ice cream bareng, walaupun ada sedikit perdebatan sepele masalah rasa ice cream yang lady pilih, bukannya gue mau ngatur atau apa, hanya saja gue gak suka sama warna ice creamnya. Warnanya jelek, jujur gue gak suka lady milih ice cream blueberry  yang warnanya ungu. Dari sekian banyak warna gue paling benci warna ungu.

Setelah makan ice cream, gue ngajak dia ke jembatan Kota, tempat hiburan romantis yang murah meriah, disana ada kafe besar yang banyak nyediain jajanan yang rasanya enak.
Harga cemilan disana cukup murah, berkisar 100-500 ribuan per porsinya.

Disana kita duduk duduk sambil menikmati hembusan angin sore menjelang malam.

"Jalanin hidup masing masing nih?"

Dia menaikan alisnya, seperti mengejek
"Kenapa? Masih mau sama aku?

Gilak... gue gak nyangka kalau dia bakal se frontal itu.

Gue ngangguk angguk kayak orang bodoh

"Oh..."balasnya dengan nada datar

"Aku mau kita sama sama" akhirnya kata kata ini terucap juga dari mulut gue

"Kalau mau buat drama jangan sama aku" katanya, "aku gak tolol tolol banget, buat percaya lagi sama kamu"

Oh God. Hati gue mendadak menciut, cara ngomongnya biasa,datar dan tanpa ekspresi. Tapi justru itu yang buat gue ngerasa rendah diri banget di depannya

"Kita bisa tolol bareng,dy" gue gak niat ngelucu atau apapun tapi dia malah tertawa sinis

"Jangan, kita gak akan benar buat kedepannya"

"Kita bisa tolol bareng untuk sekarang, tapi seiring berjalannya waktu kita bisa sama sama belajar untuk jadi orang cerdas, saling membahagiakan satu sama lain,dy" gue meraih kedua tangannya coba ngeyakinin dia. Gue juga gak tau dapet Kata kata itu dari mana.

"Aku gak mau ambil resiko untuk jalin hubungan sama kamu" Dia narik tangannya dari genggaman gue

"Be brave, Lady!!!" Seru gue, menyemangati.

Dia berdecak
"Brave? Flim kartun yang ada tokoh cewek rambutnya gimbal? Yang ibu nya berubah jadi hewan buas, kan?"

Gue melongo.
Sumpah gak ngerti sama apa yang dia omongin. Flim kartun, rambut gimbal lah, hewan buas kek. I dont care!
Gue bukan balita, yang suka nonton flim Cemen, mungkin dulu iya, tapi sekarang gak lagi!

"Gatau deh" gue mengangkat kedua tangan "maksud aku itu, kamu harus berani ambil risiko,  sebagai manusia kita harus berani, Dy. Hidup itu cuma satu kali, Jangan sampai kita nyesel di kemudian hari. Kalaupun kita gagal seenggaknya pernah mencoba anggap saja sebagai pembelajaran" gue coba ngejelasin panjang lebar ke dia, tapi ekspresi wajahnya gak berubah.masih tetap sama. Datar.

"Oh.. gitu"

Sialan!!! Singkat banget jawabannya.

Cukup hidup aku aja yang singkat, tapi jangan cinta kamu, Dy...

Dan akhirnya gue ngeluarin juga senjata terakhir...

Cupp

Sumpah gue dari tadi gemes banget sama bibirnya, yang pelit banget buat ngomong. Rasain.

Tangan kiri gue sengaja nahan di belakang kepalanya supaya dia gak bisa menghindar, sedangkan tangan kanan gue menangkup pipinya.
Gue sadar ciuman ini kasar banget, tapi lady juga gak berusaha untuk nolak, jadi gue ambil kesimpulan kalau dia juga Nikmatin sensasi panas yang diciptain dari ciuman kasar kami.

"Lady.. liat aku!"

Dia membuka matanya perlahan, sebenernya gue nyuruh dia buka mata, biar dia bisa liat wajah  coolBoy gue yang lagi mencumbu bibir ranum nya dengan Maruk.

Gue yakin banget Lady bakal Terpesona, karena Sheila pun begitu, dia bilang dia selalu jatuh cinta lagi dan lagi, pas lagi ngeliat muka gue yang coolBoy Hot Hot gimana gitu, katanya.

Pada hakikatnya wanita itu punya penilaian yang hampir sama.

Gue gak akan melepas Lady begitu aja, gue sayang dia. Jujur. Rasa gue ke lady bukan mainan atau bercandaan semata, gue beneran ingin bahagiakan Lady.

Dengan berat hati gue melepaskan tautan bibir kami, karena dia hampir mati kehabisan nafas.
"Mendingan aku tutup mata" katanya dengan masih terengah-engah

"Kenapa emang?"

"Muka kamu ngeselin!"

Gue mendelik tajam kearahnya
"Yakin? Tapi pas aku tadi cium kamu mata kamu berubah jadi gelap, karena nafsu"

"Iya. emang berubah gelap karena nafsu, Nafsu pengen bunuh kamu" ujarnya sinis, yang malah bikin gue ketawa ngakak

"Iya.. iy-a terserah pendapat kamu aja, lagian sekarang udah malam aku anterin pulang yuk!" Gue langsung menarik tangannya, bawa dia masuk ke mobil, dan siap melaju menuju ke kediamannya.

Walaupun udah malam tapi jalanan ibukota masih aja macet, mobil gue berhenti di perempatan lampu merah.

Gue menoleh kearah Lady, ternyata dia lagi asik ngeliatin jalanan dari jendela, begitu gue mencoba mendekat tiba tiba-tiba aja dia berseru, yang bikin jantung gue rasanya mau copot
"Mau mati atau menjauh?" Katanya sambil ngeliatin gue dengan tatapan membunuh.

Gue langsung salah tingkah, dan kembali sok sok fokus ke jalanan.
Asli serem benget. Horor



Part ini di buat sebagai Pelengkap Part sebelumnya

The Peak of LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang