*
"Om harry, om tunggu"
Tangan harry ditarik oleh Ruby. Harry mendecak kesal, seraya melepaskan tangan ruby yang mengganggu-nya untuk bergerak bebas.
"APA LAGI?!"
"Om..om jangan galak-galak dong.. Ruby kan jadi takut mau ngomong"
Ruby memegangi pinggir kausnya. Seraya melihat kebawah karena takut menatap om-om tampa yang ada didepannya ini. Harry adalah tipe pria yang galak, dengan perawakan yang tampan. Tapi sayang dia menyukai seorang lelaki dan bukan perempuan.
"Ya udah mau ngomong apaan? Cepat!"
Ruby berdehem sebentar. Lalu mengangkat wajahnya mendongak keatas.
"Kita tak bisa batalkan pernikahan kita om, tante anne udah siapin semua-nya buat pernikahan kita" Lagi-lagi harry mendecak kesal.
"Oh! tentang pernikahan itu! Yang jelas aku tak mau menikah denganmu, karena mama tak akan mungkin membiarkan aku dan louis tetap menjalin hubungan kami" Jawabnya.
"Um.. m.. bisa kok om.. kan kita bisa rahasia-in ini semua dari tante anne, dan aku juga mau nikah sama om karena paksaan dari orang tua aku juga kok"
Ck, sebenarnya salah om, Aku mau nikah sama om, karena aku suka sama om, gumam ruby didalam hatinya.
"Kau serius?" Tanya harry dengan isi otak yang tengah dongkol. Dia lihat-lihat ruby sepertinya bisa diajak menjaga rahasa. Dan terlihat polos dalam urusan pernikahan seperti ini.
"I..iya om.."
"Baiklah, aku terima pernikahan ini"
*
Aku menatap kartu undangan ini dengan kecil hati. Aku yakin papa dan mama tak akan datang. Mereka tak akan berubah. Mereka akan selalu bertengkar. Kapan mereka bisa berubah? Ingat kepada tuhan? Mereka tak pernah ingat kepada tuhan. Jalan hidup mereka hanya uang.
Pernikahan kami tinggal 3 hari lagi. Dan hanya tante anne yang peduli.
"Makan-nya yang benar! Makan saja tak becus, begini kau mau menikah denganku hm? mungkin memasak saja kau mungkin tak bisa Ck." Sial. Om harry, lagi-lagi membuat telak perkataan-ku.
Baru saja aku keluar dari kandang singa, yaitu rumah-ku sendiri. Dan sekarang aku masuk ke-kandang macan. Yaitu rumah om harry. Kini aku baru sadari kalo om harry itu galak.
"Harry! Kau tak boleh ngomong gitu! Ruby itu calon istri-mu! Bersikap sopan-lah sedikit" Tante anne, sudahlah aku memang bukan perempuan yang pandai memasak.
Aku menggeserkan undang pernikahan kami tadi pada tante anne. Seperti-nya untuk mengembalikan om harry normal lagi itu susah. Om Harry pasti sama cuek-nya seperti papa dan mama.
"Tante.. biar Ruby aja yang mencuci piring-nya.. tante disin aja" Aku memunguti semua piring-piring kotor. Termasuk piring om harry. Matanya tajam sekali menatapku.
"Heh! Kalo mau jadi calon istri itu yang rapi dong! Ini masih ada bekas-bekas kulit jeruk!"
Detik itu juga tante anne pergi, mungkin tante anne sudah stress menghadapi om harry yang susah diatur.
Hanya karena kulit jeruk saja, dia perlu berteriak sekencang itu. Aku berjalan berbalik, memungut sampah kulit jeruk itu pula.Setelah itu aku kembali ke-dapur untuk mencuci piring. Disaat aku mencuci piring pun dia melihat gerak-gerik ku dibelakang.
"Tak usah lihat kebelakang! Cuci piring itu sampai bersih!" Dia berteriak lagi
"Iy..iya om" Akhirnya, pekerjaan ku selesai. Aku melepaskan apron itu dari tubuhku. Kemudian menggantungnya dibalik pintu. Baru saja aku mau berbalik. Dihadapanku sudah berdiri seseorang yang menyebalkan, tapi aku menyukainya.
"Sekarang kau sapu semuanya..."
Semua? Ayolah om harry pasti bercanda kan.
"Besok aja deh om, aku janji bakal nyapu besok kok"
"AKU NYURUH SEKARANG! DAN BUKAN BESOK" Ck, SIAL!
*
STOP! WDYT BOUT THIS CHAPPIE?! JELEK? I know...
gimme ur vomments?
10 votes (+) i'll update the next part
KAMU SEDANG MEMBACA
OM HARRY
Fiksyen PeminatI'm Ruby. Fall in love with a gay? Its ok. Thank you ! x @Desmarmen
