empat belas

65 8 5
                                        

Mulai hari ini, kami bebas. Semua gerbang utama di seluruh balai perlindungan dibuka. Semua warga yang selamat pun telah merasakan udara kebebasan.

Hanya untuk sementara.

Begitupun di negara-negara yang masih 'hidup' seperti Perancis, Inggris, Jerman dan lain-lain.

"Hari yang normal, eh?" Ucap Lily padaku setelah kami melewati kubah kedua.

"Hari yang normal setelah hari-hari yang melelahkan." Jawabku sambil merapatkan jaket tebal yang kupakai.

"Hei, aku tahu taman dekat sini." Ucap Max.

"Taman bawah tanah rahasia..." terusnya dengan mimik wajah yang dibuat-buat.

"Ayo,"

Kami berbelok melewati bangunan-bangunan runtuh dan menemukan gang kecil. Kami beriringan masuk. Lalu berbelok ke kiri dan menemukan anak tangga yang tersusun spiral mengarah ke bawah.

Kami menuruni anak tangga itu dan kami menemukan sebuah lantai yang dipenuhi dengan patung bergaya Roma. Lengkap dengan lumut dan tanaman rambat disekelilingnya. Sinar matahari yang samar-samar memaksa masuk, menambah suasana hening yang semakin menjadi.

"Ini... bagaimana kau menemukan ini?" Tanya Anna sambil mengusap satu patung didekatnya.

"Dulu, saat pindah dari Boston, aku ikut ayahku bertugas disini. Aku mempunyai teman dan ia mengajakku kesini," jelas Max sambil tersenyum.

Aku mencabuti dan mengusap tanaman rambat yang menutupi sebuah kursi taman. Setelah cukup bersih, aku mendaratkan bokong mulusku ke kursi taman itu.

"Bagaimana lumut dan tanaman rambat bisa bertahan dari serangan Radians?" Ucap Yeori yang tiba-tiba duduk disebelahku.

"Mungkin Radians tidak tertarik pada tanaman kecil ini," jawabku sambil menyentuh daun kecil disampingku.

"Guys? Apa kalian mendengar sesuatu?" Ucap Sam sambil melangkah mundur.

"Ya, suara derap kaki," sahutku sambil berdiri.

Kami segera berlindung dibalik sebuah dinding besar. Dan derap kaki itu semakin mendekat.

"Jujur saja, Al. Pasti kau merindukannya, ya kan? Haha,"

"Apa sih, tidak! Aku tidak berbohong,"

Al? Aku bisa mendengar jelas suara Allison. Ya! Sangat jelas! Dengan seorang lelaki. Aku yakin pasti dia Allison!

Firasatku membawaku keluar dari balik dinding.

"Nick!" Bisik Lily sambil memegang erat tanganku. Tetapi, aku menepisnya.

"Nick?" Suara Allison memanggilku.

"A-allison? Apa itu kau?" Aku berjalan kearahnya.

"Tunggu! Siapa kau? Jangan berani-berani kau dekati Allison!" Laki-laki itu menyuruh mundur Allison dan mengarahkan senjatanya padaku.

"Hei hei! Chill! Dia tidak berbahaya!" Ivan melindungiku dan berhadapan dengan laki-laki itu.

"Tunggu Ivan!" Max maju dan menatap laki-laki itu."

"Archie?"

"Max?"

"Apa yang terjadi disini sih, ha?" Bentak Yeori.

UNSEENTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang