part 12

124 9 3
                                    

Caffe di bandara.

Wulan duduk dengan mata tajam menatap pria-pria yang duduk di hadapannya. Sementara pria-pria itu hanya menundukan kepala seperti anak kecil.

" Aisshh...kalian membuatku frustasi," Keluh Wulan, " gimana ceritanya kalian bisa tau aku mau ke Malaysia? Siapa yang ngasih tau?"

Mereka terdiam sesekali melirik melihat wajah garang Wulan yang terus saja melotot.

Flasback.
Radit POV

Aku sengaja memanggil Iqbal ke sebuah caffe dan bertemu denganku. Aku tak banyak basa-basi. Langsung kuberikan sebuah tiket ke Malaysia padanya.

" Apa ini?" tanyanya terkejut ketika melihat tiket itu.

" Berikan itu pada Wulan dan bilang saja kamu dapat hadiah tapi kamu ga bisa pergi. Tolong ya." Ucapku dengan tersenyum sinis.

" Ini maksutmu apa sih?" Kata Iqbal yang meragu.

" Aku cuma mau mengenal gadis itu lebih dekat." Jawabku dengan tersenyum.

" Ah...kamu mau mencari tau soal dirinya?" tanya Iqbal yang masih dengan curiga.

" Ehhhmmm....bisa di bilang seperti itu." jawabnya enteng.

Flasback end.

Author POV

Radit hanya cengar cengir menatap Wulan yang menatapnya dengan tatapan menakutkan.

Wulan menatap mereka satu persatu dengan tatapan curiga.

" Gimana mungkin kalian bisa tau kalau aku mau pergi? Jangan bilang kebetulan! Itu alasan klasik. Tak ada hal di dunia ini yang kebetulan." ucap Wulan menyindir.

Mereka terdiam seperti anak kecil yang tengah ketahuan berbuat salah.

" Tau ah!!! Aku mau pulang aja!" bentak Wulan sembari berdiri dan bersiap pergi.

" Okay...aku gak akan ikut kamu ke Malaysia. Kamu boleh pergi." Cletuk Radit.

Semua menoleh menatap Radit yang terlihat dengan muka tegang.

" Kalau aku ga bisa ngebatalin. Aku ada urusan bisnis." seru Aldi sambil mengeluarkan berkas-berkas bisnisnya.

Wulan hanya terdiam menatap Aldi. Ia tak bisa marah ataupun membantah omongannya.

" Aku mau cek in. Kamu mau berangkat atau gak. Itu urusan kamu!" Kata Aldi ketus lalu melangkah pergi.

" Kenapa dia yang malah marah-marah? Harusnya kan aku?" kata Wulan komat kamit sambil menatap Aldi yang melangkah menjauh.

" Heh Kunyuk! Aku juga berangkat!" teriak Wulan yang menghentikan langkah Aldi.

" Baguslah." Jawab Aldi tanpa menoleh dan langsung melangkah pergi.

Wulan berdiri dan bersiap melangkah. Tangan kirinya sudah memegang ganggang koper. Namun ia menatap satu persatu pria yang masih duduk di hadapannya. Radit, Nathan dan Sani terdiam kaku.

" Jangan coba-coba mengikutiku!" ucap Wulan sambil mengambil tiket mereka yang sudah tergeletak di atas meja kemudian berjalan pergi.

3 jam kemudian.
Bandara,Malaysia.

Wulan keluar bandara dengan perasaan lega dan wajah ceria. Seakan bebannya telah hilang.

" Akhirnya aku bisa lepas dari mereka untuk beberapa saat." Serunya sambil mengambil nafas panjang.

" Wulan!" teriak seseorang dengan suara menggetarkan dan sangat Wulan kenal.

Gadis itu langsung menoleh ke pusat suara.

" Aya! Adit!" seru Wulan dengan mata melotot, " Oh my God. Apa yang kalian lakukan di sini!" Wulan langsung berlari menghampiri.

" Aku sama Adit langsung mutusin buat ikut ke Malaysia. Kita ga tegalah setelah liat tadi yang terjadi." Aya menjawab santai.

" Udahlah! Kita lanjutin ngobrolnya di rumah aja." Celetuk Adit sambil membukakan pintu mobil.

" Rumah siapa?" tanya Wulan terheran.

" Mana aku tahu! Aku sama Aya cuma menerima pesan dari bironya. Kita disuruh langsung ke sana. Mobil ini juga milik bironya. Noh udah lengkap dengan supirnya juga." Kata Adit menjelaskan.

Tanpa protes Aya, adit dan Wulan langsung naik ke dalam mobil. Adit duduk di dekat supir. Sementara Aya dan Wulan duduk di belakang. Di dalam mobil, Wulan terus saja menatap sopir yang berpenampilan rapi dengan jas hitam itu. Bahkan ia juga sedikit heran dengan mobil merci mewah yang di tumpanginya ini.

" Exusme Sir, where u from?" tanya Wulan pada supir itu.

" Ah...saya lupa memperkenalkan diri.  Saya Pak Danu asli Indonesia dari Klaten mbak." Jawabnya dengan nada sedikit medok.

" Oh...Klaten."

" Kalian ini dari Semarangkan? Ya deket sama Klaten." Kata Pak Danu dengan ramah.

" Bentar...kok bapak bisa tau kalau kami dari Semarang?" Wulan mulai membidik dengan pandangan curiga.

" Tadikan saya sempet liat tiket di koper kalian." Ucap bapak itu mengelak dengan wajah sedikit takut.

Mobil pun mulai memasuki sebuah gedung lalu mobil itu berhenti berjajar dengan mobil mewah lainnya.

" Ini ga seperti villa ataupun rumah pak. Ini dimana sih pak?" celetuk Aya ketika melihat beberapa mobil mewah terparkir.

" Ini gedung parkir appartement." Jawab Pak Danu enteng.

"Appartement?" ucap mereka serentak.

Seorang wanita berjas rapi menghampiri mobil itu. Pak Danu pun segera membuka pintu dan mempersilahkan kami turun.

"  Silahkan kalian mengikuti wanita ini." Ucap Pak Danu santai.

" Mari saya antar masuk!" seru Wanita berpenampilan rapi itu sambil menunjukkan sebuah jalan bertuliskan pintu masuk.

Mereka pun mengikuti wanita itu dengan tampang was-was. Langkah demi langkah seakan tak percaya saat memasuki gedung appartement mewah itu. Mereka melihat orang-orang kaya berdasi dengan penampilan mewah lalu lalang di hall.   Mereka pun berhenti di salah satu appartement bernomer 1123.

" Silahkan masuk. Semua orang telah menunggu anda." Kata wanita itu yang membukan pintu dengan sebuah kartu lalu memberiku kartu itu.

" Siapa yang menunggu?" tanya Aya curiga.

" Silahkan kalian lihat sendiri, saya permisi." Ucapnya kemudian melangkah pergi.

Mereka makin curiga. Antara ragu ingin masuk atau tak masuk sama sekali.

" Kita gak ada pilihan lain." Seru Adit yang langsung nylonong masuk.

Aya dan Wulan pun berjalan di belakang Adit dan mengikutinya.

" Eh...lihat!" ucap Adit melongo dengan badan tak berkutik.

" Apaan sih Dit!" seru Aya yang ikut-ikutan melihat kemudian terdiam melongo.

" Kalian kenapa sih? Kayak ngeliat hantu aja!" Wulan pun terdiam melotot menatap satu arah itu, " Kalian! Aldi, Radit, Joe, Sani dan Zaky? Kok bisa!" teriak Wulan terkejut.

Mereka berlima sedang duduk di meja makan panjang dengan hidangan lengkap di atas meja dan juga beberapa pelayan yang melayani mereka.

" Kalian sudah sampai? Sini gabung!" Ucap Sani santai.

" Mustahil!" Seru Aya.

" Kalian membodohiku?" teriak Wulan kesal.

Aldi berdiri dan melangkah mendekati Wulan.

" Aku hanya ingin menjagamu dan berlibur bersamamu." Ucap Aldi dengan tersenyum simpul.

------------------bersambung----------------------
Vote
Koment
Banyak vote biar cepet updatenya.
Heheh
Makasih dah baca.
Maaf jika salah2 ya.









Lets Get Married!! (Not Wedding With U 2)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang