The Bad Boy [25]

6.1K 293 47
                                        

Gadis ini masih memperhatikan lamat-lamat saat mobil yang dikendalikan kakaknya mengitari area rumah, dan keluar melalui gerbang yang menjulang tinggi di depan. Setelah menglakson sekali lagi, mobil hitam itu benar-benar melesat pergi meninggalkan pekarangan.

Kana menunduk saat menghela napas. Tangannya yang mencengkram kuat handel pintu itu makin dia eratkan. Perasaannya sebenarnya berantakan, namun dengan segala pemikiran sabarnya, gadis itu mencoba tahan sekuat tenaga. Dan terus berpikir bahwa lebih baik dia memendam sakit daripada harus menyaksikan orang lain ikut merasakan sakit.

Ketika Kana mendongak lagi, pandangannya yang sayu mendapati Keenan yang sepertinya baru saja pulang.

"Hei" sapa cowok itu, menyapanya perlahan.

"Hai, Kee." balas Kana sama pelannya, bahkan terdengar serak.

Keenan meraih bahunya, merangkulnya hangat, lalu menggiring Kana masuk kembali ke dalam rumah seraya menutup pintu. "Karel barusan pulang, ya?"

"Iya," jawab Kana, kali ini menghirup napas cepat-cepat. "Dan lo juga barusan pulang, Kee."

Keenan menyeringai saat keduanya berjalan melewati ruang tamu. "Tadi gak sadar sih kalo udah malem banget gini. Sori ya, gue harus nyesuaiin diri kalo gue masih punya tanggung jawab nemenin lo di sini. Gue gampang lupa deh."

"Gak pa-pa, lagian lo tau juga kan kalo Karel bakal dateng dan nemenin gue?" sekarang, dengan lihai gadis itu mengerling dan membelokkan arah pembicaraan, "Abis darimana lo? Jalan yaaa?"

"Hehehe, lo perlu kenal sama dia, Ka!" ucap Keenan sumringah. "Ya gue emang baru-baru aja sih kenalnya sama dia, tapi gue rasa dia emang beneran baik deh. Gak nyesel deh lo kenal sama dia. Mau ya, kapan-kapan gue kenalin? Dia pasti cocok deh temenan sama lo."

Kana balas tersenyum. "Boleh deh. Semoga hati lo cepet keisi sama yang ini ya."

Keenan mengacak rambut gadis itu gemas karena merasa diledek, namun cowok itu menggumam penuh harap. "Amin deh."

"Gue seneng lo bisa mulai sama yang baru kayak gini, Kee. Nah, bahagia terus gini dong, jangan lama-lama sedihnya. Gak bagus loh mikirin orang terus-menerus," kata Kana dengan nadanya yang khas. Dan meskipun terdengar memberi nasihat, gadis itu sama sekali tidak terasa menyebalkan seperti beberapa orang yang seringkali memberi wejangan-wejangan seperti ini pada Keenan. "Kan mending kalo yang dipikirin jadi kenyataan buat dimiliki. Kalo nggak? Kan sia-sia."

"Iya deh iya, lo mah jagonya kalo buat ngomongin ginian," gerutu Keenan bercanda. "Eh iya, tadi kenapa kok kayaknya lo sedih banget gitu di pintu? Ada yang barusan gue lewatin, ya?"

Mendadak saja, raut wajah Kana kembali muram saat Keenan perhatikan dengan baik-baik. Dengan sangaja pula, Keenan menghentikan langkah di dekat buffet. "Nggak kok, Kee. Semuanya biasa aja juga"

"Iya, semuanya biasa aja.." kata Keenan menggantung. "Tapi, lo-nya gak biasa aja. Kalian abis ngapain emang? Berantem?"

Gadis itu memalingkan wajah. Tak ingin garis-garisnya ditelusuri lekat oleh bola mata Keenan yang memandanginya dengan serius. "Ng.. ya biasa, lah. Lo tau kan Karel orangnya gimana."

"Ya udah." timpal cowok itu pasrah. Walau begitu, tatapan matanya masih belum berhenti mengamati. Terbukti saat Keenan berkata lagi dengan nada yang lebih rendah, "Tapi jangan ragu ya, buat cerita sama gue tentang apa yang udah terjadi. Lo tau kan, gue bakal selalu di pihak lo—mau lo bener ato salah."

Senyum tipis Kana mengembang. "Thanks."

"Iya." ucap Keenan menyahuti. "Nah, udah malem banget nih. Lo kan harus sekolah besok, jadi mending istirahat deh. Takutnya besok lo kesiangan."

The Bad BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang