5

13K 745 5
                                        

Gue gak habis pikir gimana ceritanya gue sampe terpengaruh sama ucapannya. Maksudnya gue itu kok nurut banget sih semalem. Malah dia baik banget lagi sampe ngajarin gue untuk mengingat ayat kursi yang udah gue lupain itu.

Agak sedikit terganggu sih gue dengan setiap bayangan yang terjadi tiap malam. Yaa gue pikir dia type orang galak habisnya dia sering natap gue sinis sih. Eh gue juga gitu sih auk ah!

Kalau di lihat-lihat Si Duda Bangkotan itu ternyata keren juga. Oughh lihat gaya berjalannya sangat pas dan teratur bagaikan model kekar yang suka lenggak-lenggok gak pakai baju di atas catwalk. Garis-garis di wajahnya pun menawan.... Astaga.... Jadi begini Aura seorang bulek? Ternyata tidak seburuk paklek..ckck...

Tubuh tinggi menjulang kayak pohon kelapa, dada tegap dan lebar serta errr keras mungkin? Dan dia juga sedikit berbulu... Terlihat jelas dari rambut-rambut ganjen yang bertebaran di sekitar rahangnya.

Kalau di belai nanti .....
Astagfirullahallazim Yola stop! Kebiasaan lama belum musnah juga ini.

Tapi emang bener-bener dia itu paket lengkap! Tampan sopan mapan! Pantas aja janda-janda sekitar sini berubah drastis semua. Mereka mungkin tidak tahan dengan aura Si pria tua itu. Ya..ya gue akui dia sangat mempesona bahkan nyaris menggetarkan jiwa dan raga gue.

Asdjlgkfndksk
Kenapa dia ngelirik kesini lagi, ihh kan gue kepanasan nih.

"Terima kasih pak bu... Karena sudah menjamu untuk berbuka dirumah ini."

"Ahh tidak apa-apa pak Thomas. Nanti sering-sering kemari ya" Balas Umi Citra.

Ahh akhirnya dia pergi juga setelah nyaris saja gue mati kekurangan oksigen.

__________________

Kini sudah memasuki hari ke 10 Ramadhan yang gue tahu pria tua itu sudah pindah kerumah orang tuanya. Jadi ya intensitas pertemuan gue dengan pria tua itu jadi meningkat belum lagi belakangan ini dia menjadi guru tadarus di masjid.

Yaa kalau bukan Abi yang memaksa gue mana mau ikut. Namun dikarenakan gue yang menolak keras masuk pesantren jadilah menurut saja untuk ikut mengaji tadarus Al-qur'an di masjid.

Dengan mukenah hitam putih motif zigzag gue berjalan pelan menuju sekumpulan anak-anak yang sudah siap melakukan tadarus Al-qur'an. Pria tua itu langsung saja menyadari kehadiran gue. Huh! Memang nya gue Mate-dia? Ckck kenapa jadi melenceng begini, dia kan bukan werewolf dan werewolf itu tidak ada. Haiss korban pembohongan publik begini sih. Banyak menghayalnya.

Senyum nya... Astaga! Gua gak pernah lihat dia senyum begitu. Ajaib bhaks...

Ini suatu keajaiban dunia ck lebay sekali. Selama ini dia lebih sering menatap gue tajam tanpa belas kasihan. Tapi sekarang? Cih! Jangan bilang kalau dia pedhofil?. Mengerikan sekali.

"Kamu yang disana! Jika hanya ingin melamun lebih baik pulang lalu tidur dan jangan lupa melaksanakan  sunnah rasul sebelum tidur." Duda tua itu berkata seraya menatap tajam gue yang tidak bersalah ini. Menyebalkan bukan? Gue hanya melamun sebentar terlalu usil sepertinya dia. Harusnya dia yang pulang dan urus kedua bocah bandelnya itu kemudian cari istri biar gak jomblo sampe tua. Masa sih udah keriput, badan tinggal tulang hidup menjomblo? Mblo...mblo...

"Tidak perlu mengejek saya kamu!" Iuhh gaya mengintimidasi mulai memancar. Siapa dia? Sok berkuasa sekali. Dan apa ini? Hey! Dia seakan tau dengan pikiran gue?.

"Ohh jadi ceritanya bapak nyuruh saya pulang? Yaudah makasih pak" balas gue riang. Ini kesempatan namanya, cukup ngaji dirumah saja bagi gue udah kemajuan. Gak perlu lah tadarus lagi ke masjid. Ica aja gak pergi kok!

Jodohku, Duda Bangkotan?Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang