"TOLONG...TOLONG GUE..." Yola berlari berteriak tanpa arah. Mengalihkan perhatian orang-orang yang sedang dengan urusannya masing-masing di Area UGD rumah sakit. Tak diperdulikannya lagi peluh yang menghiasi wajahnya. Dirinya terus merapalkan doa-doa agar si kembar dapat diselamatkan. Karena ketika kita merasa sangat takut dan membutuhkan pertolongan hanya Allah lah tempatnya. Hanya kepada Dia-lah kita mengadu dan memohon. Tak ada lagi yang dapat membatu selain yang Maha Kuasa. Maha segalanya maha pemilik alam semesta ini.
Yola duduk di kursi tunggu dengan deraian air mata yang kian deras menyusuri tiap lekukan wajahnya. Hatinya terasa bagai di iris-iris tipis layaknya bawang, pikirannya kalut. Ia bingung harus bagaimana. Ini bagai mimpi buruk disiang hari. Secepat itukah waktu berlalu?. Bukankah baru kemarin ia merasakan benih-benih sebuah perasaan yang tumbuh di hati.
Tapi kini? Semua akan musnah. Yang ia pikirkan adalah, kondisi Duda Bangkotan nya. Ia pasti akan sangat terpukul dan Yola tidak sanggup melihatnya. Membayangkan Pak Tua itu menahan sakit didada.
Ia sudah pernah merasakan ini, merasakan sakitnya di tinggalkan orang-orang yang dicintainya. Orang-orang yang begitu berharga bagi hidupnya. Yola semakin terisak pilu tak kuat menahannya. Bayi kembar yang lucu walau menyebalkan baginya saat ini tengah berjuang didalam sana. Mempertaruhkan kehidupannya disana seorang diri.
"Anakku..." Suara lirih sedikit serak terdengar menyapanya.
Tangis Yola akhirnya pecah lagi ketika ia melihat Pak Tua nya duduk bersimpuh diatas lantai dingin rumah sakit dengan kondisi yang jauh sekali dari kata baik.
Pakaiannya berantakan sekali, kemeja putih yang membalut tubuhnya terlihat sangat kusut dengan dihiasi warna merah terang juga disertai bau amis yang menyengat. Tidak terlihat lagi ikat pinggang mahal yang membalut pinggang Pak Tua sebab baju putih itu telah keluar dari sarangnya.
Rambut yang semula tertata rapih kini sudah tak tentu arah. Wajah cerah berseri-serinya sudah tiada digantikan dengan mata merah yang berair dan kedua pipinya yang basah.
Yola berusaha menahan dirinya untuk tak menubruk Pak Tua di hadapannya. Rasanya Yola ingin memberi pelukan panjang mengusap lembut punggung lebarnya seraya memberi sepenggal kata-kata untuk menghiburnya.
"Ya Allah.. Cobaan apalagi ini...." Lirih Thomas dengan kepala menunduk meremas rambut hitam lebatnya.
Yola terus sesegukan menangis berusaha mengatur laju pernafasan nya. "Is-tigfar.... Om..hiks"dalam tangis pilunya Yola berusaha untuk mengeluarkan kata-kata menenangkan meskipun itu tidak terwujud.
Thomas mengangkat kepalanya menatap sendu yang juga sama kacaunya dengan dia. Gadis kecil... Batin Thomas. Thomas segera menggelengkan kepalanya menepis pikiran yang melintas di kepalanya.
"Apa aku memang tak pantas bahagia, gadis kecil?. Kemarin istriku.... Kini ibuku... Lalu... Apakah anakku akan meninggalkan ku juga? APAKAH SEMUA AKAN MENINGGALKAN KU JUGA? KENAPA....KENAPA....." Thomas berteriak kuat. Memukul kepalanya kesal merasa ia tidak diperlakukan adil oleh tuhannya.
"Astagfirullahall'azim Istigfar Om istigfar...."Lirih Yola. Tangannya sudah gatal ingin menjauhkan tangan Pak Tua yang giat memukul kepalanya sendiri.
"JAHAT!!! ALLAH JAHAT SAMA SAYA! SALAH SAYA APA......HAARGHHH....BRAKKKK" Thomas lebih menggila lagi setelah menendang kursi tunggu yang tak jauh darinya.
Yola meringis sakit melihatnya. "BERHENTI UNTUK MENYALAHKAN ALLAH! INI UJIAN UNTUK KAMU! TANDANYA ALLAH SAYANG SAMA KAMU!"
"CIH...SAYANG KAMU BILANG? KAMU TAU APA ANAK KECIL!" balas Thomas sengit.
Dada Yola kembang kempis mulutnya berucap A'UDZU BILLAHI MINASSYAITON NIRRAJIIM. Sebuah kalimat yang mujarab ketika Hamba Allah sedang dilanda emosi yang diciptakan oleh Setan-setan penggoda yang begitu senang melihat manusia kesusahan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Jodohku, Duda Bangkotan?
RandomSequel TEARS Benarkah jodohku si BANDOT TUA! BERANAK DUA! Ya Allah jelasin ke gue, apa gue kehabisan stok? Stok bujangan keren contohnya. Aisyah Yola Nurjannah menikah lagi? dengan anak kecil? kurasa aku akan gila Thomas Edison #313 -29 Juni 2017 #6...
