21. Cemburu?

932 56 6
                                        

"Perayalah karma selalu ada untuk semua orang, tanpa peduli siapa orang tersebut."
.

.

Suasana kelas kembali hening ketika Mr. Arfa menatap mereka dengan tatapan dingin dan juga menohok.

Bahkan teman-teman Rahel yang sedari tadi mengagumi ciptaan Tuhan yang berada di depan mereka ini tiba-tiba tersenyum masam melihat tatapan Mr.Arfa

Lelaki tampan yang mempunyai tatapan tajam ini berjalan menuju meja guru kemudian menjatuhkan badannya di kursi tersebut.

Mr.Arfa memijit pelipisnya seraya berpikir bagaimana cara mengatasi siswa kelas Rahel yang terkenal karena kenakalan mereka.

Walaupun mereka anak IPA tapi kelakukan nya seperti anak IPS.

Rahel dan teman-teman nya hanya memandang kearah Mr.Arfa dengan jidat yang berkerut tanda bahwa mereka bingung dengan sikap guru baru mereka ini.

Tiba-tiba Mr.Arfa menggulung lengan kemejanya sebatas siku dan membuka satu kancing atas kemejanya sambil membalik-balik lembaran buku cetak di hadapannya.
Dia kepanasan ternyata.

"Lihat halaman 97 nomor empat. Kerjakan sesuai contoh di papan tulis, yang tidak kerja tidak saya perbolehkan pulang, jika ada yang tidak mengerti bisa tanyakan langsung kesini."

Perkataan Mr.Arfa yang tenang namun menusuk itu membuat semua tangan bergerak cepat untuk mengerjakan soal yang diperintahkan, masalahnya waktunya tinggal 15 menit untuk mengerjakan soal tersebut.
Mr.Arfa sendiri hanya menyandarkan tubuhnya pada kursi yang ditempatinya sambil menatap murid-muridnya yang mulai ribut mengerjakan soal.

Seperti biasa mereka mengerjakan soal dengan rusuh, kesana-kemari bertanya, meminjam kalkulator, atau bahkan bertanya jawaban satu sama lain, beberapa murid menghampiri meja Mr.Arfa untuk sekedar bertanya pertanyaan yang menurutnya tidak perlu ditanyakan, sekedar modus mungkin.

Kali ini gilran Rahel yang menghampiri meja Mr.Arfa, ia ingin bertanya sungguh bertanya yah walaupun ada sedikit niatan untuk moduslah.

"Mr...ini gimana? Masa jawabannya gak ketemu?" Rahel meletakkan bukunya dan menunjuk hasil pekerjaannya yang tak kunjung mendapatkan jawaban.

"Rahel ini gimana mau dapat jawabannya kalau kamu salah hitung." Mr.Arfa menggelengkan kepalanya sambil menatap Rahel dengan datar.

'Ya Tuhan ini orang ganteng amat yak.' Kata Rahel dalam hatinya sambil tersenyum tanpa dosa kearah Mr.Arfa.

"Kamu disuruh mencari persamaan lingkaran melalui garis apa?" Tanya Mr.Arfa datar.

"Garis yang sejajar." Jawab Rahel sambil melihat bukunya.

Memang betul, disitu yang tertulis tentukan persamaan lingkaran berikut yang melalui garis yang sejajar, jadi dimana letak kesalahannya.

"Tapi Mr. Ini udah betul kok, tuh kan kalau sejajar m1=m2." Sambung Rahel lagi.

"Lihat persamaannya kembali Rahel, kalau gak saya culik nih kamu." Ancam Mr.Arfa sambil menatap Rahel gemas.

"Mr.Arfa main culik-culik aja, jangan dong saya masih mau sekolah, mau kerja, mau menikmati masa muda, jangan buru-burulah kitanya." Rahel menjawab perkataan Mr.Arfa sambil memamerkan deretan giginya dan sedikit menggodanya. Siapa suruh bilang main culik-culik emang Rahel apaan, tapi kalau yang culik sejenis cogan kayak Mr.Arfa, Rahel bisa apa mas.

Mr.Arfa hanya tersenyum dan kembali menyuruh Rahel kembali kemejanya untuk mengerjakan soalnya kembali, Rahel ternyata tidak sadar kalau ada dua pasang mata memperhatikannya sedari tadi.

HOLD ONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang