Hassan Stories (Last Part)

72 9 10
                                    

Seperti biasa, para member The Seven Musketeer berkumpul di atas atap. Terkecuali Hassan yang seringkali menghilang.

"Mana Hassan?" tanya Remy kepada semua anggota. Vicky menjawab sembari menonton video kucing di instagram dengan raut wajahnya yang begitu menggemaskan.

"Biasa deh, lagi jadi secret admirer," sahut Vicky. Juni menggeleng-geleng kepalanya, ia keheranan dengan tingkah Hassan yang tak henti-hentinya jadi pengagum rahasia.

"Sampai kapan tuh anak kayak gitu terus? Sembunyi-sembunyi terus, nggak berani terang-terangan," ujar Juni. Yang lain hanya bisa mengangkat kedua bahu mereka.

"Sampai kiamat kali," sahut Yogi dengan santai. Sedangkan Jiro, ia hanya terdiam sedaritadi seolah-olah ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Di sisi lain, Hassan menghentikan laju motornya di sebuah florist. Ia turun dari motor, dan memilih-milih bunga. Ia menciumi bunga-bunga itu satu-persatu. Namun, pandangannya justru teralihkan kepada buket bunga yang terbuat dari kain. Bunga mawar merah yang terbuat dari kain flanel itu begitu cantik. Ia bertanya kepada karyawan toko bunga itu.

"Mbak, yang itu berapa ya?" tanya Hassan sambil menunjuk bunga yang menggantung di dinding itu.

"Oh, maaf kak. Itu tidak dijual," sahut karyawan itu. Hassan jadi lesu sekali. Ia batal membeli bunga di tempat itu.

"Dimana gue bisa dapatin bunga kayak gitu?" gumam Hassan. Namun, pandangannya tertuju pada satu motor yang berjalan melewati dirinya. Ia mengenali gadis yang berada di boncengan belakang.

"Mikha..." gumamnya. Ia melihat sang gadis tengah naik motor bersama dengan pria lain. Mikha memeluk tubuh pria itu dengan erat. Hal ini membuat Hassan begitu cemburu, ia sangat kesal melihat pemandangan itu dan tanpa sadar menendangi ban motornya hingga motor itu jatuh. Hassan jadi semakin kesal, ia tak peduli jika orang-orang memandanginya dan beranggapan bahwa ia adalah orang gila.

*****

Hassan tengah berada di taman bersama dengan Jiro. Mereka tak sengaja bertemu di taman itu, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pergi bersama. Mereka terlihat sedang duduk-duduk di taman. Jiro menangkap sesuatu yang aneh dari Hassan, seolah-olah laki-laki itu terlihat sangat frustasi.

"Lo kenapa, Bang?" tanya Jiro yang memecah kesunyian hati Hassan. Hassan mengembuskan napas panjang, seolah-olah beban besar sedang menghampiri dirinya.

"Kayaknya gue udah kalah..." sahut Hassan. Ia mengeluarkan satu tempat obat dari saku celananya. Tempat obat itu sudah dipenuhi beberapa butir obat. Hassan pun mengeluarkan beberapa butir obat itu di tangannya dan hendak meminumnya. Namun, jiro mencegahnya dengan cara mencengkram tangan Hassan. Ia benar-benar tak suka dengan kebiasaan Hassan yang satu ini. Ia membuang obat itu jauh-jauh dari Hassan.

"Ceritain sama gue, kenapa?" tanya Jiro dengan pandangannya yang tajam kepada Hassan.

"Gue ngelihat Mikha sama cowok lain..." sahut Hassan. Jiro jadi semakin kesal dengan Hassan, seburuk inikah mental sahabatnya?

"Segitu aja udah nyerah? Banci lo!" seru Jiro sembari menatap Hassan dengan penuh rasa jijik.

"Gue tahu, lo ngancurin diri lo sendiri karena lo nggak bisa menuhin permintaan kedua orang tua lo. Tapi, lo nggak bisa kayak gini terus. Apalagi lo semakin hancur hanya karena cinta sembunyi-sembunyi yang lo bikin sendiri!" lanjutnya. Ia jadi benar-benar emosi melihat Hassan. Lalu, Jiro menundukkan kepalanya.

"Manfaatin waktu yang lo punya selama lo masih hidup. Jangan sampai lo menyesali semuanya ketika lo sadar kalau lo udah nggak punya banyak waktu lagi..." Jiro mengatakan itu dengan lirih, ia menitikkan air matanya. Hassan tak mengerti, kenapa sahabatnya seperti itu? Jiro pun segera menyeka air matanya.

"Sorry, gue terlalu baper," lanjut Jiro. Ia menepuk-nepuk bahu Hassan berkali-kali.

"Pokoknya, lo harus buktiin kalau lo nggak seburuk yang gue pikir. Ini bukan buat gue ataupun orang lain, tapi ini buat lo sendiri!" seru Jiro. Hassan terdiam, ia pikir perkataan Jiro ada benarnya. Selama ini ia sangatlah pengecut...

*****

Pada saat istirahat, Hassan berjalan menuju kantin melewati kelas Mikha. Hassan berhenti sejenak, ia memandangi Mikha dari jendela. Gadis itu tampak memerhatikan buket bunga mawar merah yang terbuat dari kain flanel pemberian seseorang yang tidak diketahui oleh gadis itu. Bunga itu tampak cantik sekali, dan aromanya seperti bunga asli. Hassan tersenyum, ia benar-benar senang melihat Mikha yang tampak menyukai pemberiannya. Kali ini, ia tak menuliskan surat kecil di hadiahnya. Ia sengaja melakukan itu, agar gadis itu semakin penasaran.

Gadis itu melirik ke arah Hassan, itu membuat Hassan menjadi salah tingkah. Tanpa disadari, ia menabrak staf sekolah yang sedang mengepel lantai. Hassan terjatuh, dan air yang ada di dalam ember pun menumpahi seragamnya. Siswa-siswi di sana memandangi Hassan dengan heran. Orang ini kenapa? Mungkin itu yang ada di pikiran mereka.

"Maaf, Mas," ucap staf itu sembari membantu Hassan berdiri.

"Nggak apa-apa, Mang," sahut Hassan. Ia merasa sakit di bagian pantatnya. Untung saja bukan tulang ekornya yang sakit. Jika tidak, ia pasti sudah lumpuh.

Mikha tersenyum melihat kejadian aneh di luar kelasnya. Ia tahu bahwa laki-laki yang terpeleset itulah si misterius yang selalu memberinya hadiah, meskipun ia tak bisa melihat wajah laki-laki itu dengan jelas.

Hassan terburu-buru lari karena malu. Namun, ia baru menyadari sesuatu.

"Bego banget! Ngapain gue lari? Kan gue mau buktiin ke Jiro kalau gue bukan banci!" gumamnya. Ia membalikkan badannya. Namun, sang gadis idaman rupanya sudah ada di hadapannya.

"Kenapa kakak nggak bilang kalau semua ini dari kakak?" tanya gadis itu. Wajah Hassan menjadi sangat merah, ia sudah tertangkap basah.

"Sebenarnya, aku sudah tahu dari awal kalau semua ini dari kakak," lanjut gadis itu. Bagaimana mungkin gadis itu bisa tahu? Sedangkan Hassan selalu sembunyi-sembunyi.

"Darimana kamu bisa tahu kalau itu aku?" tanya Hassan. Mikha pun menjawab.

"Karena, kakak selalu meninggalkan catatan dengan inisial NN. Dan tulisan itu sama persis dengan tulisan kakak saat menandatangani buku kegiatan MOS milikku. Kakak menulis nama kakak sendiri di sana," sahut gadis itu. Hassan pun terdiam.

"Aku pikir, kakak bakalan ngomong kalau udah ketahuan gini. Tapi, kayaknya aku salah..." ujar gadis itu. Mikha melangkah meninggalkan Hassan untuk kembali ke kelas, ia kecewa kepada laki-laki itu.

"Aku bakalan ngomong sekarang, di hadapan semua orang...!" seru Hassan. Perkataannya membuat gadis itu berhenti. Entah darimana keberanian itu datang. Tapi, ia tak ingin terlihat begitu menyedihkan di hadapan gadis yang ia cintai.

"Aku cinta sama kamu!" seru Hassan. Gadis itu sangat terkejut mendengar perkataan Hassan.

"Kamu benar, semua hadiah-hadiah itu dari aku. Aku melakukan itu karena aku takut kalau kamu membalas perasaanku hanya karena harta..." ucap Hassan. Mikha benar-benar tak menyangka mendengar perkataan Hassan. Ia melangkah maju mendekati Hassan.

"Kakak salah. Kalaupun kakak menukar cinta itu dengan harta, maka lebih baik aku kehilangan seluruh harta itu daripada cinta kakak. Karena, aku juga cinta sama kakak..." ucap Mikha. Hassan bingung, ia jadi gugup dan salah tingkah karena saking bahagianya. Mikha tersenyum melihat tingkah Hassan yang memalukan.

"Terus yang kemarin pergi sama kamu itu siapa?" tanya Hassan sembari cemberut. Mikha menjawab.

"Kemarin? Aku cuma pergi sama kakakku kok. Emang kenapa?" tanya Mikha. Hassan sangat lega mendengar jawaban dari Mikha.

"Oh, syukur deh. Aku kirain siapa..." sahut Hassan sambil tersenyum. Mikha pun tertawa.

"Kenapa? Kakak kira itu pacarku? Kakak cemburu?" goda Mikha. Hassan sangat malu, sepertinya wajahnya sudah sangat merah seperti tomat. Hassan pun cemberut

"Enggak kok," sahut Hassan. Tak lama kemudian, mereka saling tersenyum. Hassan memeluk Mikha dengan erat dan mencium kening Mikha dengan lembut. Mereka berdua tak peduli bahwa mereka tengah menjadi tontonan para murid.

***** TBC *****

You Must Come Back!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang