Juki Stories (Part 1)

105 9 15
                                    

Sekarang, semua anggota The Seven Musketeers sedang menonton film horror berjudul The Wailing di kelas Juki melalui layar LED. Itu karena kelas Juki sedang jam kosong. Juki mengajak mereka semua ke kelasnya. Karena, Juki sedang bosan di kelas. Tapi, dia juga malas keluar keluar kelas.

Di dalam kelas Juki, tak ada siswa lain selain mereka bertujuh. Selama menonton film itu, mereka semua mengeluarkan reaksi yang berbeda-beda. Hassan dan Vicky yang heboh berteriak, Juni yang sesekali membalas pesan di handphonenya, Remy yang terlihat biasa saja. Itu karena ia pernah menonton film ini, Yogi yang terlihat datar. Tapi, sesekali ia membelalakkan matanya, dan juga Jiro yang terlihat sibuk memerhatikan lampu kelas Juki, sedangkan Juki lebih sibuk memerhatikan teman-temannya.

"Eh, bego! Cepetan susul anak lo! Udah tahu ceweknya itu iblis, malah di situ terus!" teriak Hassan yang terlihat sangat heboh sekaligus ketakutan. Vicky yang ada di sampingnya juga tak kalah heboh.

"Eh, gue yakin kalau bapak-bapak tua tadi yang iblis! Nurut! Lho harus nurut sama cewek itu. Kalau nggak nurut, keluarga lo bisa mati, Pak!" teriak Vicky yang tampak tidak sabar karena film yang ditonton itu sangat rumit. Anggota The Seven Musketeers yang lain melihat mereka berdua. Bagaimana mungkin ada orang yang seberisik mereka berdua di dunia ini? Sedangkan murid-murid lainnya malah mengintip mereka dari jendela karena keberisikan Hassan dan Vicky.

"Duh, malu-maluin tuh dua orang," gumam Juki sembari tertawa, Yogi yang ada di bangku sebelahnya pun berkata padanya.

"Nggak kenal, nggak kenal, gue nggak kenal mereka berdua," kata Yogi tanpa melepas pandangannya dari LED. Juni pun berkata kepada mereka.

"Eh? Gue baru nyadar kalau yang lain di luar," ujar Juni. Remy menyahut.

"Iya, ya? Kenapa mereka nggak masuk aja gitu? Kan ini kelas mereka," sahut Remy. Vicky lantas berkata kepada teman-temannya.

"Mungkin mereka merasa kalau dunia ini milik kita bertujuh, yang lainnya ngekos," sahut Vicky. Mereka semua tertawa mendengar perkataan Vicky. Terkecuali Jiro yang duduk di samping Juki. Ia terlihat masih sibuk memerhatikan lampu. Juki melihat Jiro, dan bertanya.

"Lo kenapa, Bang?" tanya Juki. Jiro seolah baru tersadar, ia pun bertanya kepada Juki.

"Itu lampunya kenapa kedap-kedip gitu?" tanya Jiro. Juki melihat lampu itu. Tentu saja ia sangat heran. Sebab, lampu yang ditunjuk Jiro sedaritadi tidak menyala.

"Enggak kok, Bang. Lampunya daritadi mati tuh," sahut Juki. Jiro baru menyadari bahwa penglihatannya salah. Ia terlihat bingung meskipun tak mengatakan apa-apa. Juki yang memerhatikan Jiro juga tak kalah bingung melihat reaksi Jiro.

"Gue... gue mau ke toilet dulu," ucap Jiro. Laki-laki itu terlihat sangat terburu-buru. Juki melihat ada yang aneh dengan Jiro. Karena penasaran, ia pun mengikuti Jiro hingga ke toilet.

Juki sampai di toilet. Ia mencoba menempelkan telinganya di pintu, di mana Jiro ada di dalam toilet itu. Ia mencoba mendengarkan sesuatu. Tapi, ia tak mendengar apapun, kecuali suara kran.

Tak lama kemudian, ia mendengar suara Jiro yang sedang menangis. Ia jadi bingung, kenapa Jiro menangis di dalam sana? Karena panik, Juki pun mengetuk-ngetuk pintu itu.

"Bang, lo kenapa?" tanya Juki sembari mengetuk pintu. Namun, ia tak lagi mendengar suara tangisan Jiro. Pintu itu pun terbuka.

"Gue nggak apa-apa," sahut Jiro sembari tersenyum. Juki melihat tangan Jiro memegang sapu tangan yang basah kuyup. Laki-laki itu pun pergi dari hadapan Juki.

Juki baru menyadari bahwa mata Jiro jadi terlihat sembab. Juki yakin bahwa Jiro sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dan ia juga yakin bahwa tak satupun dari member The Seven Musketeers mengetahui rahasia Jiro. Jiro berpikir keras, ia menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar karena saking frustasinya. Ia yakin bahwa hati kecilnya berkata benar. Tapi, apa yang disembunyikan oleh Jiro? Dan kenapa harus disembunyikan? Juki benar-benar tidak mengerti. Tapi, Juki sangat penasaran.

Pandangan Juki teralihkan kepada lantai tepat di hadapannya. Ia melihat ada sebuah kotak kecil yang berisi obat. Karena penasaran, Juki pun mengambil obat itu dan memerhatikannya.

"Punya siapa nih?" pikir Juki, ia jadi semakin bingung.

"Obat apa'an ya? Masa sih ini punya Bang Jiro?" gumamnya. Ia pun membaca tulisan di kemasan obat itu.

"Anjir, Bahasa Inggris. Gue mana ngerti beginian?" Juki tidak mengerti satupun kata yang tertulis di sana. Ia pun memutuskan untuk menyimpan obat itu untuk ia selidiki sendiri.

*****

Juki memerhatikan obat itu di dalam kamarnya. Beberapa hari yang lalu, teman-temannya membicarakan Jiro yang sudah jarang berkumpul dengan mereka, wajah Jiro yang selalu terlihat pucat, dan juga reaksinya yang terkadang aneh. Ia mencoba merangkai-rangkai semua itu.

"Apa mungkin ada kaitannya sama obat ini?" tanyanya kepada diri sendiri.

Disaat Juki sedang asyik melakukan analisa, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Juki pun segera menyembunyikan obat itu di saku celananya.

"Uki, ini gue," ucap suara di luar kamarnya. Oh, rupanya Alea.

"Masuk aja, Kak. Nggak dikunci kok," sahut Juki. Alea pun membuka pintu kamar Juki.

"Lo ikut gue, ya? Gue mau ketemu sama Juni," pinta Alea dengan lirih. Juki pun bertanya.

"Emangnya ayah udah pergi?" tanya Juki. Alea menggelengkan kepalanya.

"Ayah lagi nonton TV. Gue nggak dibolehin pergi kalau nggak bareng sama lo," sahut Alea. Juki mengerti, ia hanya dijadikan perantara oleh Alea agar bisa bertemu dengan Juni. Sebenarnya, Juki malas menuruti permintaan Alea. Tapi, ia sangat kasihan dengan kakaknya jika mengingat kisah cintanya yang dulu. Maka dari itu, ia terpaksa menuruti permintaan Alea.

Juki dan Alea pun sampai di Time Zone, tempat Alea dan Juni janjian. Tak lama kemudian, Juni datang dan memeluk Alea. Mereka berdua pun berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan mengelilingi area permainan itu. Sedangkan Juki, ia tertinggal di belakang sembari memerhatikan mereka berdua.

"Anjir, gue cuma jadi kambing congek!" gerutu Juki. Ia jadi berangan-angan, jika ia memiliki pacar, apa mungkin ia akan seperti kedua orang itu?

"Coba aja kalau gue punya pacar," gumam Juki. Kalau dia memiliki pacar, sudah pasti dia tidak perlu menjadi obat nyamuk seperti sekarang ini...

***** TBC *****

You Must Come Back!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang