Juni Stories (Last Part)

104 7 15
                                    

Alea memandangi langit sore di tepi pantai. Dia teringat dengan mendiang sang ibu yang sangat suka memandang langit sore di tepi pantai. Alea bertanya-tanya dalam hati, apakah ibu tengah melihatnya? Alea merasa hatinya sangatlah hampa. Ia tak tahu, bagaimana caranya agar hati itu tidak lagi terasa hampa?

Alea tiba-tiba memikirkan seorang laki-laki yang beberapa hari lalu menghindarinya. Alea tak tahu kenapa, tapi akhir-akhir ini ia selalu memikirkan laki-laki itu. Kenapa pada saat sang laki-laki itu menghilang, Alea justru tak bisa melepaskan pikirannya dari bayangan laki-laki itu?

Alea kembali menatap langit.

"Ibu, apa cinta itu selalu menyakitkan?" ia bertanya kepada sang ibu yang telah berada di sisi Tuhan. Ia benar-benar tersiksa dengan perasaannya. Tak terasa, air mata mengalir cukup deras di matanya.

"Cinta itu nggak selamanya menyakitkan,"  Alea mendengar suara seseorang yang cukup ia kenal. Ia cukup terkejut melihat seseorang yang ada di hadapannya saat ini.

"Ju... Juni?" ia tak menyangka bahwa laki-laki yang ada di pikirannya, muncul di hadapannya. Selama ini, ia mengabaikan semua laki-laki hanya karena tak ingin jatuh cinta lagi. Terutama, karena tekanan dari sang ayah yang memaksa dirinya menjalin hubungan dengan orang yang sederajat. Padahal, bagi Alea semua orang itu memiliki derajat yang sama di mata Tuhan. Namun, ia tak sanggup melawan perintah ayahnya.

Tapi, ia tak bisa membohongi perasaannya kepada Juni. Ia tahu bahwa Juni bukan berasal dari keluarga kaya. Namun, ia menyukai Juni. Tidak... ini bukan sekedar suka. Tapi, ini cinta.

"Darimana kamu tahu kalau aku ada di sini?" tanya Alea sembari menghapus air matanya. Juni tersenyum, dan duduk di samping Alea. Sejujurnya, Juni tahu keberadaan Alea melalui GPS. Namun, Juni justru berkata lain.

"Juki bilang kalau kamu suka pergi ke sini. Jadi, aku datang buat kamu, Alea," sahutnya. Senyuman Juni benar-benar menentramkan hati Alea.

"Jahat. Kenapa kamu udah nggak pernah muncul lagi? Aku ingin, kamu hubungi aku lagi tiap hari, kamu temuin aku tiap hari. Juga... jangan cuekin aku lagi..." ucap Alea. Ia tidak tahu, kenapa dirinya sekarang menjadi sangat cengeng? Air mata ini sudah ia hapus, tapi kenapa mengalir lagi? Juni menghapus air mata gadis itu.

"Aku nggak pernah cuekin kamu. Asal kamu tahu, otakku nggak pernah bisa lepas dari bayang-bayang tentangmu. Aku juga tersiksa, bahkan lebih dari yang kamu rasakan, Alea," sahut Juni. Ia menatap Alea dengan sangat dalam.

"Tapi, hati kamu sangat dingin. Hingga aku terpaksa ngelakuin ini, agar hati kamu bisa mencair meskipun itu membutuhkan waktu yang cukup lama," Juni memeluk Alea dengan sangat erat.

"Maafin aku karena udah bikin kamu tersiksa. Tapi, kamu harus tahu. Aku cinta sama kamu, Alea..." ucap Juni. Alea tak menyangka bahwa Juni benar-benar menyukainya. Alea menatap mata laki-laki itu dengan sendu. Tidak seperti biasanya yang selalu menatap orang lain dengan dingin. Tapi, laki-laki ini benar-benar mampu mencairkan hatinya yang telah membeku. Juni pun membalas tatapan Alea.

"Aku juga, Jun. Aku juga cinta sama kamu..." ucap Alea. Wanita itu tersenyum sembari menghapus air matanya. Ya Tuhan, baru kali ini ia melihat Alea tersenyum. Juni tak menyangka jika senyuman Alea benar-benar maut. Sepertinya, ia nyaris kehabisan napas karena terpesona dengan senyuman Alea. Juni pun membelai dan mencium surai Alea dengan sangat lembut.

Juni tahu coba'an besar akan menghadang hubungan mereka karena kondisi ekonominya yang tak sepadan dengan keluarga Alea. Tapi, apapun halangannya, ia berjanji kepada diri sendiri untuk takkan melepas Alea. Ia tak peduli, ia akan mengorbankan apapun yang dimiliki. Asalkan, ia bisa bersama Alea. Ia bertekad seperti itu, karena untuk menaklukan hati Alea itu sangatlah sulit baginya. Sehingga, ia memutuskan untuk memperjuangkan Alea meski hingga titik darah penghabisan.

*****

Hari demi hari Juni lalui dengan penuh semangat. Ia jadi begitu semangat sejak berpacaran dengan Alea. Kini, ia sedang bersama dengan anggota The Seven Musketeers lainnya di atap sekolah. Namun, Jiro yang tinggal satu daerah dengannya tiba-tiba bertanya.

"Bang Jun, emang ngurus surat keterangan tidak mampu itu bayar ya?" tanya Jiro kepada Juni. Juni sedikit heran mendengar pertanyaan Jiro. Tidak biasanya Jiro menanyakan hal-hal seperti itu.

"Nggak kok. Setahu gue gratis. Di mana-mana juga gratis," sahut Juni. Jiro terdiam sejenak. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Tapi, kok bapak susah banget ya ngurusnya? Disuruh bayar pula," gumam Jiro. Namun, Juni mendengarnya.

"Eh? Maksud loe dipersulit gitu?" tanya Juni. Jiro sedikit kaget, karena perkataannya didengar oleh Juni.

"Ah... em... ya gitu deh pokoknya," jawab Jiro dengan senyuman yang sedikit aneh.

"Emang siapa yang sakit?" tanya Juni. Jiro bingung harus menjawab apa. Harusnya ia tak menanyakan hal itu kepada Juni. Ia berpikir sejenak.

"Itu... oh, jadi gini. Bapak gue tuh kemarin bantuin tetangga gue yang lagi sakit ngurusin surat itu. Tapi, ternyata malah disuruh bayar," sahut Jiro sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Yogi yang sedang merebahkan tubuhnya justru menjawab.

"Aneh. Tetangga loe yang sakit, tapi kenapa bapak loe yang repot? Kan bisa diurus sendiri sama keluarganya," ujar Yogi. Jiro justru jadi semakin salah tingkah.

"Iya ya? Kenapa malah bapak gue yang repot?" Jiro kembali menunjukkan senyumnya yang aneh. Juni jadi berpikir, seharusnya mengurus surat seperti itu memang gratis. Tapi, kenapa malah harus membayar? Ia memang tak tahu apa-apa mengenai masalah kepengurusan seperti ini, tapi ia sedikit tahu beberapa hal.

Juni teringat bahwa ayahnya membeli handphone baru. Ia jadi membayangkan sesuatu yang buruk. Membayangkan hal itu membuatnya menjadi ketakutan. Namun, ia tak menceritakan kepada teman-temannya.

*****

Juni sangat shock membaca surat pemecatan ayahnya. Sang ayah dipecat karena terbukti melakukan korupsi. Ia melihat ayahnya yang tengah duduk di latar belakang rumah. Beruntung rasanya, karena sang ayah tidak sampai dipenjara. Namun, tetap saja ia sedih. Sang ayah tampak menatap dengan pandangan kosong. Ayah Juni terlihat sangat kacau. Juni benar-benar iba melihat sang ayah. Tapi, apa yang bisa ia perbuat untuk ayahnya?

Juni berpikir untuk beberapa saat. Kemudian, ia tersenyum. Seolah-olah baru saja mendapat pencerahan, ia memecahkan celengan yang ada di kamarnya. Uang yang ada di dalamnya pun cukup banyak. Ia memang selalu menyimpan uangnya di dalam celengan ayam, untuk berjaga-jaga jika ia sedang terdesak. Juni berpikir untuk berwirausaha. Karena ia suka memasak, ia bertekad untuk berwirausaha di bidang makanan. Meskipun dana yang ia miliki sangat pas-pasan, tapi tidak ada yang tidak mungkin kan?

You Must Come Back!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang