Why?

300 9 2
                                    

Vicky dan Jiro telah memasuki kelasnya. Sebelum mereka memulai ujian, Vicky melihat ada yang aneh dengan Jiro. Wajah Jiro yang sangat pucat, rambut Jiro yang rontok dan berceceran di mana-mana, juga alat bantu dengar yang terpasang di telinganya.

"Ji, lo kenapa?" tanya Vicky. Jiro menatap Vicky dengan sedikit gugup.

"Gue? Emang gue kenapa?" Jiro berpura-pura tidak tahu. Ia pun mengalihkan pandangannya dari Vicky dan berpura-pura menyiapkan alat tulisnya. Vicky lantas menjawab.

"Beberapa minggu terakhir ini, lo agak aneh. Wajah lo pucat, lo sering ngelantur, dan sekarang..." Vicky mengambil beberapa helai Rambut yang berada di kedua sisi bahu Jiro.

"Rambut lo rontok, dan lo pakai alat bantu dengar," ujar Vicky sembari memerhatikan helaian-helaian rambut yang ada di tangannya. Ia pun kembali menatap Jiro

"Lo sakit, kan?" tanya Vicky. Jiro bingung harus berkata apa. Akhirnya, ia menjawab sembari tersenyum.

"Ntar lo juga tahu," sahut Jiro. Vicky tak mengerti dengan maksud Jiro. Raut wajah Vicky tampak dipenuhi dengan tanda tanya. Bel masuk sekolah pun berbunyi, Vicky kembali ke tempat duduknya dengan menyisakan tanda tanya.

Pengawas ujian telah masuk ke ruangan mereka. Semua murid telah mengumpulkan handphone mereka di meja pengawas. Para pengawas itu membagikan lembar soal dan jawaban. Semua murid- murid itu mulai mengerjakan soal yang ada di hadapannya.

Selesai menulis namanya, Vicky memerhatikan Jiro yang tengah menutupi hidungnya dengan sarung tangan. Kalau tidak ada apa-apa, kenapa Jiro harus seperti itu?

Disaat Vicky tengah memerhatikan Jiro, tiba-tiba tubuh Jiro kejang-kejang. Semua orang yang berada di dalam ruangan itu menjadi panik, terutama Vicky. Ia segera menghampiri Jiro. Vicky melihat, tubuh laki-laki itu kejang-kejang tiada henti, darah juga mengalir cukup deras dari hidung Jiro.

"Tolong, segera telepon rumah sakit!" seru Vicky. Namun, orang-orang itu terlihat enggan melakukannya. Mereka semua malah memilih menghindari Vicky dan Jiro. Vicky sangat marah dengan mereka semua.

"CEPAT!!!" bentak Vicky. Salah seorang pengawas ujian mengambil handphone, dan segera menelepon rumah sakit. Sedangkan Vicky terlihat sangat sibuk menyumbat hidung Jiro yang terus mengalirkan darah. Tapi, darah itu tak kunjung berhenti mengalir hingga sarung tangan yang Vicky gunakan untuk menghentikan mimisan dipenuhi dengan darah. Vicky pun membuang sarung tangan itu, dan mencoba menghentikan mimisan Jiro dengan tangan Vicky sendiri.

"Berhenti, berhenti, berhenti, please?" pinta Vicky. Ia tak peduli jika tangan dan bajunya dipenuhi dengan darah. Yang terpenting baginya adalah Jiro tak kejang-kejang lagi, dan darah itu berhenti mengalir dari hidungnya.

Ambulans telah datang dan membawa Jiro masuk ke dalam mobil itu. Vicky buru-buru mengambil handphone dan ikut masuk ke dalam mobil ambans itu.

"Apa? Apa yang lo sembunyiin dari gue?"

*****

Vicky termenung di luar ruangan ICU, di mana Jiro berada di dalam ruangan tersebut. Dokter sudah selesai memeriksa keadaan Jiro dan telah menjelaskan kondisi Jiro secara keseluruhan kepada Vicky. Dokter mengatakan kepadanya, bahwa Jiro tak memiliki harapan lagi. Karena kanker itu telah menyebar ke seluruh bagian tubuhnya. Vicky sangat shock mendengar penjelasan dari dokter. Ia tak tahu lagi dengan yang ia rasakan. Hatinya seperti menginjak ranjau. Kenapa ia bisa tidak tahu apapun mengenai keadaan Jiro? Ia menyalahkan dirinya sendiri yang begitu bodoh...

Vicky termenung di luar ruangan itu. Ia telah menghubungi keluarga Jiro dan sahabat-sahabat mereka. Vicky tidak berani masuk ke dalam ruangan itu. Karena, ia sangat takut melihat keadaan sahabatnya itu. Ia memerhatikan kedua tangannya. Bekas darah itu masih ada di tangan Vicky. Tangannya bergetar sangat hebat, getaran itu tak ada hentinya.

You Must Come Back!Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang