Remy dan Hassan memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Sedangkan Jiro dijaga oleh kedua orang tuanya. Keadaan laki-laki itu belum mengalami kemajuan pasca operasi. Tapi, setidaknya sel-sel kanker itu telah berkurang cukup banyak. Remy dan Hassan sangat memikirkan nasib Vicky yang terjebak dalam kegelapan. Hassan mencoba menghubungi Vicky. Namun, nomor Vicky tidak aktif. Tentu saja mereka semakin khawatir. Apa mungkin Vicky telah menyerahkan diri? Karena, sejak pengakuannya itu, Vicky sama sekali tidak bisa dihubungi.
Di sisi lain, Lisa mencari Vicky di rumahnya. Namun, dia tidak menemukannya. Yang ada hanyalah kucing-kucing Vicky yang diletakkan di dalam kardus di teras rumahnya. Gadis itu pun memungut kucing-kucing itu. Karena, ia sangat tidak tega melihat Conan-kun dan anak-anaknya ditinggalkan oleh pemiliknya.
"Sayang, kamu di mana?"
*****
Vicky sedang membawa makanannya, dan duduk di bangku yang tersedia bersama dengan para narapidana yang lain. Benar, dia sudah berada di penjara. Ya, inilah takdirnya. Ia tidak berniat lari dari perbuatannya. Ia juga sudah dijatuhi hukuman selama lima tahun penjara.
"Lima tahun? Huh, pasti nggak bakalan terasa," lirih Vicky. Ini sudah menjadi keputusannya. Jadi, dia tidak akan menyesalinya.
Ia memerhatikan makanan yang ada di hadapannya. Ada tempe, tahu, dan sayur yang terbuat dari kacang-kacangan. Bahkan, bagi Vicky, ini sudah sangat enak. Ia pun memakan makanan itu dengan sangat lahap.
Selesai makan, ia pun dibawa oleh petugas kepolisian. Karena, ada kunjungan untuk Vicky. Rupanya, kunjungan itu berasal dari para anggota The Seven Musketeers. Laki-laki itu pun tersenyum melihat mereka semua, meskipun sekarang mereka harus terhalang oleh kaca pembatas. Sesungguhnya, ia sangat merindukan suasana ketika bersama-sama seperti saat ini. Tapi, semua itu akan semakin lengkap jika Jiro juga ada bersama mereka.
"Kenapa lo ada di situ, Bro? Kok nggak ajak-ajak kita?" tanya Hassan. Mendengar pertanyaan itu, Vicky tersenyum tipis.
"Lo mau tinggal di sini? Enak, lho," canda Vicky. Semua orang di sana tersenyum mendengar candaan itu. Remy pun bertanya kepada Vicky.
"Lo nggak apa-apa di sana?" tanya Remy. Vicky menatap semua sahabat-sahabatnya.
"Gue nggak apa-apa," gumamnya. Ia pun menunjukkan kedua tangannya, dan seluruh bagian tubuhnya.
"Lihat, nggak ada yang luka, kan?" gumam Vicky. Melihat keadaan laki-laki itu baik-baik saja, semua sahabatnya jadi sangat lega. Mereka sangat takut jika terjadi hal-hal buruk kepada Vicky.
"Gue mau tahu, sebenarnya apa sih yang terjadi?" tanya Juni dengan raut wajahnya yang terlihat sangat serius. Vicky melihat jam dinding, apa mungkin waktu kunjungan yang sangat singkat itu cukup untuk menceritakan semua kejadian itu? Vicky pun mencoba menceritakan semua masalah itu dengan ringkas.
"Itu benar, Rem. Bokap lo juga terlibat," Vicky pun mengakhiri ceritanya. Sesungguhnya, ia merasa tidak nyaman mengatakan itu semua kepada sahabat-sahabatnya, terutama kepada Remy. Tapi, mau bagaimana lagi? Mereka semua harus tahu cerita yang sebenarnya. Mendengar semua cerita Vicky, hati Remy sangatlah sakit. Sejujurnya, ia tidak mempercayai perkataan Vicky. Tapi, ia juga tahu bahwa sahabatnya ini tidak bisa berbohong. Ia tidak menyangka bahwa ayahnya turut terlibat dalam korupsi. Yogi yang ada di samping Remy pun menepuk bahu sang leader itu.
"Sabar, Bro," gumam Yogi. Vicky pun berbicara dengan berbisik.
"Kalau lo semua mau dengar rekamannya, Hp gue masih ada di rumah. Gue sengaja tinggalin di sana," bisik Vicky. Tak lama kemudian, mereka pun berpamitan. Karena, jam kunjungannya sudah selesai. Mereka bertekad untuk menemukan rekaman itu. Ya, bagaimanapun juga, para penghisap uang rakyat itu harus dihukum seberat mungkin. Tak peduli jika pelakunya adalah keluarga mereka sendiri, penjahat itu tetap harus dihukum.
*****
The Seven Musketeers memasuki teras rumah Vicky. Remy mencari-cari kunci rumah itu yang selalu diletakkan di bawah pot oleh Vicky. Setelah menemukan kunci itu, Remy segera membuka pintu rumah itu. Seluruh isi di rumah itu sangat berantakan. Makanan kucing berserakan, meja dan kursi yang telah dirobohkan oleh Vicky, semuanya terlihat sangat berantakan.
Mereka pun berpencar untuk mencari handphone Vicky.
Setelah cukup mencari, Juki berteriak kegirangan begitu menemukan handphone yang tersembunyi di bawah kotak makan kucing.
"Udah ketemu!" seru Juki. Semua anggota menghampiri Juki, dan mendengarkan seluruh percakapan Ayah Vicky dan Ayah Remy bersama-sama.
Selesai mendengarkannya, mereka semua pun terdiam. Sedangkan Remy merasa sangat shock. Ia sangat ingin menangis. Tapi, air mata itu tak bisa mengalir. Pandangan matanya benar-benar kosong, ia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Yogi yang sedaritadi memerhatikan Remy pun berkata padanya.
"Rem, lo harus serahin bukti ini ke polisi," ujar Yogi. Remy bingung sekali, ia sangat tidak ingin jika ayahnya dipenjara. Tapi, di sisi lain, ia merasa yang dikatakan oleh Yogi ada benarnya. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan semua itu...
*****
Lisa mengunjungi Vicky di penjara. Gadis itu sangat sedih melihat kekasihnya berada di balik jeruji besi. Ia pun menitikkan air matanya, dan menyentuh kaca pembatas itu. Melihat gadis itu menangis, sejujurnya Vicky sangat ingin menghapus air mata itu. Tapi, ia sudah tidak bisa melakukannya.
"Kenapa? Nggak usah nangis. Aku bahagia ada di sini," gumam Vicky. Ya, dia harus berbohong kepada gadis ini.
"Bego, mana ada orang yang bahagia saat dihukum?!" seru gadis itu dengan tangisannya yang semakin kencang. Laki-laki itu justru tersenyum. Namun, yang ia pancarkan adalah senyum kesedihan.
"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi," gumam Vicky dengan pandangan matanya yang tajam. Mendengar perkataan laki-laki itu, gadis itu benar-benar tidak menyangka bahwa laki-laki yang sangat ia cinta berkata seperti itu.
"Apa?"
"Aku bilang, jangan pernah muncul lagi di hadapanku. Aku muak sama kamu, aku benci sama kamu, aku udah nggak cinta sama kamu!" bentak Vicky dengan tatapannya yang terlihat begitu marah. Gadis itu benar-benar tak bisa percaya dengan perkataan itu. Sehingga, ia tidak bergerak dari tempat duduknya.
Melihat gadis itu yang tetap di tempat, Vicky pun berteriak kepada petugas.
"Pak, tolong usir gadis itu! Aku udah nggak mau ketemu lagi sama dia. Bawa dia pergi!!!" mendengar teriakan Vicky, para petugas dengan sigap menyeret gadis itu keluar.
"Vicky, kenapa kamu tega sama aku?!" seru gadis itu. Ia tidak bisa melawan petugas-petugas itu. Karena, tenaganya sudah tidak kuat lagi.
"Asal kamu tahu, aku nggak peduli semua perkataanmu! Aku nggak akan berhenti sampai di sini!" mendengar teriakan gadis itu, Vicky benar-benar tak sanggup lagi. Ia kembali masuk ke jeruji besi, agar tak bisa mendengar suara Lisa lagi.
Sejujurnya, semua yang ia katakan kepada Lisa itu hanyalah kebohongan semata. Ia sangat mencintai gadis itu, dan sangat ingin selalu berada di sisi gadis itu. Tapi, ia sadar diri. Dirinya sudah menodai tangannya sendiri, ia bukan lagi orang baik seperti yang dikenal. Ia tahu, gadis itu pasti bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dirinya. Pasti...
***** TBC *****

KAMU SEDANG MEMBACA
You Must Come Back!
Fiksi RemajaBercerita tentang 7 remaja Bad Boy yang membentuk squad. Masing-masing dari mereka memiliki permasalahan hidup. Mulai dari cinta, hingga keluarga. Semua dirangkum dalam YOU MUST COME BACK!