22 : Andoli Xerbox

101 26 12
                                        


Kata Mahya tadi, saat aku bertanya di mana Audi berada. Mahya bilang bahwa Audi ada di kantor atau ruang guru.

Aku berniat menyusulnya. Kalau ketemu nanti kuajak Audi belok ke kantin. Biar bisa berdua, dunia milik berdua meskipun banyak orang.

Aku berjalan menuju kantor sembari memikirkan topik apa yang akan dibahas ketika bersama Audi. Takutnya topik yang kuangkat tak sesuai dengan hati Audi, nanti ngobrolnya gagal.

Saat aku sampai di kantor, kebetulan Audi baru saja keluar. Jodoh memang sama.

"Hi, Di," ucapku sembari tersenyum. Jangan lupa, mirip Harry.

"Apa?" jawab Audi sembari berjalan. Aku mengikutinya.

"Gue mau ngasih uang sama lo." Aku meronggoh saku dan memberikan uang kepada Audi.

"Ini asli gak ngerepotin? Gue bisa perbaiki headphone gue sendiri," ucap Audi.

"Gue udah bilang, gue mau tanggung jawab. Lagian Ibu gue lagi ada rejeki, motor gue aja bisa dipakai sekarang," ujarku dengan yakin.

"Tuh, apalagi ini uang punya Ibu lo, bukan punya lo. Nanti Ibu lo marah," hardik Audi kemudian.

"Ibu gue bakal lebih marah, kalau gue gak tanggung jawab sama kesalahan yang gue buat," jawabku yang begitu indah. Jarang sekali.

Audi terdiam tak menjawab lagi argumentasi ini. Aku meluncurkan niatku kemudian.

"Ke kantin yuk?"

"Gak. Gue mau ke kelas."

"Eum ... pulang bareng yuk?"

"Gak. Gue mau ke rumah Mahya dulu."

"Ya udah, gue anterin ya?"

"Gak perlu. Gue bisa sendiri."

Salah hamba apa, Ya Tuhan?

"Okay, omong-omong di headphone lo ada nama siapa gitu, gue lupa," ujarku.

"Andoli Xerbox," jawab Audi segitu saja.

"Siapa? Gue gak kenal," pancingku.

"Lo gak tau? Dia artis papan atas tahun 1980-an, cakep," jawab Audi.

1980? Pantes aku tidak tahu. Bayangkan saja sendiri kenapa. Satu lagi yang kutahu dari Audi, dia menyukai hal-hal berbau histori.

Namun tentang cakep, pasti cakepan kembaran Harry ini, Haldo Raksawan namanya.

"Tapi kenapa lo punya tanda tangannya di headphone lo?" tanyaku lagi.

"Lelang. Kakak gue beli buat hadiah gue," ucap Audi.

Audi masuk ke kelasnya setelah dia pamit dengan imutnya padaku.

Andoli Xerbox, dia idola Audi di era 1980-an.

[]

[BTS #01] : Andara's WerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang