26 : Haldo dan Audi

126 27 19
                                        

Aku dan Audi berniat langsung pulang saat urusan di service counter sudah beres. Sebenarnya Audi sih yang minta pulang langsung. Padahal ini pertama kalinya kita jalan-jalan bersama.

"Bener, langsung pulang?" tanyaku pada Audi.

"Ya."

"Beli cemilan dulu, yuk? Gue laper cuma dikit kok," ujarku membujuk Audi. Semoga mau.

"Okay."

Aku membeli dua bungkus makanan kemasan semacam chiki, dan Audi hanya membeli ice cream rasa vanilla.

"Duduk di situ dulu, yuk? Pamali makan sambil berdiri," ujarku yang paling benar. Audi langsung mengangguk setuju, tumben.

Kita berdua duduk di bangku yang kebetulan ada. Aku menghabiskan satu bungkus lagi makanan, sedangkan Audi masih menggeluti ice cream-nya.

Jangan harap di sini ada adegan; Haldo melihat setitik kotoran atau bisa dibilang secuil ice cream yang dengan enaknya menempel tak cantik di ujung bibir manis milik Audi. Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, Haldo menjulurkan tangannya pada sudut bibir Audi. Audi terkesiap dengan gerakan tiba-tiba Haldo, tau-tau tangan Haldo dengan lebut mengusap kotoran di ujung bibir Audi. Mata mereka, mata mereka bertemu menghasilkan tatapan yang kian dalam dan sunyi. Terjerumus pada manik lawan tatapnya masing-masing.

No! Jangan harap adegan seperti itu muncul. Nyatanya sekarang tak ada secuil ice cream di ujung bibirnya Audi, Audi makan dengan baik.

Jikalau pun ada, aku tak akan mengusapnya. Biar Audi saja, ia juga bisa sendiri.

Tapi tiba-tiba Audi menengok ke arahku. Sekarang paket lengkap, dengan bumbu senyuman yang sangat manis. Aku tak tahu jenis senyum apa itu.

"Do," panggil Audi jarang.

"Ya, kenapa?"

"Nggak, gue mau pulang."

Audi bangkit dari bangku dan berjalan dahulu. Aku cepat-cepat menyejajarkan langkahku dan menghadang Audi agar berhenti.

"Apa?"

"Pilih paket satu atau paket dua?" tanyaku.

Jangan tanya untuk apa, nanti tahu sendiri.

Audi terlihat bingung bercampur kesal. Tapi Audi tetap cantik.

"Pilih aja," ucapku.

"Yang mana aja, asal cepet."

"Berarti paket dua. Gak perlu basa-basi, biar langsung inti," ujarku menyengir lebar.

"Dengan kekuatan yang dimiliki Audi Farren Andara dan kegigihan seorang Haldo Raksawan. Lo mau gak jadi pacar gue?"

Aku harap sih, yes.

"Gue gak suka lo, Do. Maaf," ucap Audi.

.
.
.

"Oh? gak apa-apa. Yaudah, yuk pulang," ujarku setelah berhasil menyerap jawaban Audi barusan.

Aku menyukaimu, Audi.

[]

[BTS #01] : Andara's WerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang