27 : Ada

115 24 16
                                        


Aku berjalan menuju kelas seperti biasa. Kembaran Harry Style tak boleh murung karena ditolak Audi. Sedih boleh, bego jangan.

Setitik hatiku bingung ketika harus mengambil sikap yang pas untuk berinteraksi dengan Audi nanti.

Mungkin Audi menolakku karena gayaku yang menurut orang lain, sedikit alay. Atau kau pikir aku laki-laki yang menye dalam porsinya? Ini tidak menye atau lembek. Ini pembawaan seorang Haldo Raksawan.

Namun sebuah penolakan bukan berarti memutuskan tali silaturahmi. Jadi aku biasa saja.

Aku akan tetap memperjuangkan Audi selama Audi masih sama denganku; makan nasi, bernapas, punya hati, tinggal di bumi.

Mungkin kau akan menganggapku bodoh karena ini, aku tak peduli.

Selama janur dan bendera kuning belum tertancap, aku bebas mendekati Audi. Seorang pejuang sejati dilawan!

Aku membenarkan rambutku yang membahana. Bersiap menemui Audi di kelasnya. Siapa tau jika melihat ketampanan hakikiku kali ini Audi akan meleleh dan menjadi makhluk satu-satunya yang ada di hatiku setelah ibu.

Aku berdiri di depan pintu kelas Audi dan mengetuknya. Setelah itu siswi berjilbab menghampiriku.

"Tolong bilang pada Audi, Haldo Raksawan ingin bertemu," ucapku dengan percaya diri yang full.

"Audi?" tanya balik siswi ini kebingungan.

"Farren," koreksiku.

"Oh, Farren. Sayang banget, Farren gak masuk."

"Hah? Sakit, alpa, izin, kabur?" tanyaku kemudian. Aneh sekali Audi tidak sekolah.

"Gak tau," jawab siswi berjilbab tersebut.

"Kalau Mahya ada?" tanyaku kembali.

"Mahya juga gak sekolah, ijin," wawar siswi tersebut.

"Oh ya udah, makasih," ucapku kemudian pergi dari kelas Audi.

Aku membuka aplikasi chatting dan mengirimkan pesan pada Audi. Sayang sekali, sepertinya Audi sedang offline, buktinya tak ada balasan sama sekali. Tanda sudah dibaca saja tidak.

Sabarlah, besok juga bertemu kembali. Biar aku tanya besok.

Aku menunggumu, Audi.

[]

[BTS #01] : Andara's WerCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang