Sekarang Farren sedang berbincang dengan Mahya, entah tentang apa. Aku tak berhak tahu, memang siapa aku? Haldo!
Ketika Mahya maksuk ke kelasnya, aku bergegas menghampiri Farren yang sedang duduk di teras.
Aku duduk di sampingnya. Jangan gempar! Di sini tak ada setan, karena hanya ada aku dan Farren.
Sekarang Farren terlihat seperti Farren yang asli. Bukan apa, sekarang Farren memakai headphone meskipun hanya dikalungkan saja.
"Ren, besok ada janji?" tanyaku memastikan.
"Ada."
Yah, gagal dong kalau gini.
"Janji apa?"
Farren memasangkan headphone-nya, kemudian memfokuskan diri pada lapangan yang diisi segerombolam siswa sedang olahraga.
"Janji ngacangin lo," ucap Farren tiba-tiba menjawab pertanyaanku tadi.
"Gak boleh dong, haram. Gue sebagai manusia paling gigih menaklukan hati lo, berhak diakui," ucapku bangga sendiri.
Memang benar. Jika orang lain yang di posisiku, pasti mereka kalah sebelum perang. Tetapi aku menang sebelum perang, menang atas kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"Gimana kalau besok kita JJS? Jalan-jalan sore?" tanyaku dengan penjelasan, siapa tahu Farren langsung mau.
Farren terdiam, yang otomatis tak menjawab pertanyaanku lagi.
Jika dilihat lebih dekat, Farren ternyata punya tiga tahi lalat kecil berurut seperti segitiga di dekat hidungnya. Lucu, makin suka.
Tiba-tiba Mahya datang tanpa diundang. Dia yang ketiga di antara aku dan Farren, itu artinya dia setan.
"Ren, dipanggil macan garang tuh, bayar uang kas katanya," ujar Mahya.
Dasar pengganggu!
Farren berdiri, meninggalkanku tanpa sepatah kata, bersama Mahya lagi!
"Dasar setan!"
[]
KAMU SEDANG MEMBACA
[BTS #01] : Andara's Wer
Short StoryDia Audi, aku memanggilnya seperti itu. Audi bukanlah seorang fangirl yang mengagung-agungkan idolanya, bukan anak populer yang semua siswa tahu, bukan juga anak sekolah yang mengutamakan gaya semata. Audi cenderung cuek, bahkan aku sempat menja...
![[BTS #01] : Andara's Wer](https://img.wattpad.com/cover/119982448-64-k214057.jpg)