Gue berharap ada keajaiban dalam hidup gue. Ya ! Keajaiban ! Selama dua puluh tiga tahun gue hidup, gak ada satu pun hal spesial terjadi dalam hidup gue. Hidup gue terlalu biasa, terlalu datar dan hambar gak ada rasa.
Orang bilang, supaya hidup lo lebih berwarna lo itu mesti jatuh cinta. Ya, gue pernah jatuh cinta. Beberapa kali malah. Tapi sayangnya gue gak pernah jatuh cinta sama cowok beneran. Ya, cowok beneran ! Gue selalu jatuh cinta sama cowok yang 'gak beneran', yaitu...oppa Korea. Gue pun gak tahu apakah itu masuk ke dalam kategori cinta apa bukan. Di usia gue sekarang, gue bahkan gak tahu apa itu artinya cinta.
Gue menatap jam dinding yang menggantung di dinding kelas. Gue gak mengerti kenapa waktu selalu berjalan lambat saat lo mengharapkan waktu berjalan dengan cepat. Begitu pula sebaliknya. Waktu bakal berjalan dengan cepat ketika lo mengharapkan waktu berjalan dengan lambat. Gue menghela napas cukup keras dan membuat murid-murid gue menatap gue seketika. Gue diem sebentar dan melihat ke arah murid-murid gue.
"Lihat apa ? Kerjain !" kata gue galak membuat murid-murid gue langsung kembali menunduk menatap kertas ulangan mereka. Gue menatap ke sekeliling kelas, memastikan gak ada satu pun yang nyontek saat ulangan mata pelajaran gue.
Bel berdering, dan gue bisa lihat murid-murid gue panik. Gue pun tertawa jahat dalam hati. Haha ! Emang enak gak bisa ngerjain ! Siapa suruh kalau pas diajarin gak dengerin gue dengan baik.
"Oke semua dikumpulkan ! Saya hitung sampai sepuluh. Kalau kertas ulangannya gak sampai di tangan saya..." belum sempat gue menyelesaikan kalimat gue, murid-murid gue langsung menyerbu meja gue di depan dan meletakan kertas jawaban mereka.
Setelah semua kertas ulangan udah terkumpul di meja, gue pun mulai merapihkan kertas ulangan murid-murid gue.
"Bu ! Remedialnya kapan ?" tanya salah seorang murid. Gimana bisa dia nanya remedial kapan ? Setidak yakin itu kah dia sama hasil kerjaannya ?
"Diperiksa aja belum. Udah nanya remedial kapan," kata gue membuat beberapa murid memasang wajah masam.
"Remedialnya jangan susah-susah, Bu," kata salah seorang murid gue.
Gue hanya bisa geleng-geleng kepala dan mulai merapihkan barang-barang gue yang ada di atas meja. Tapi kemudian mata gue menangkap suatu hal yang tak lazim dilakukan di dalam kelas.
"Heh ! Kalian !" teriak gue kepada dua murid perempuan yang duduk di pojok belakang kelas. Mereka berdua melihat ke arah gue salah tingkah dengan alat catokan dan lipstick di tangan mereka.
"KALIAN PIKIR INI SALON ?!" seru gue membuat dua murid perempuan itu langsung nyembunyiin alat catokan dan lipstick mereka ke dalam laci meja.
Gue menghela napas frustasi. Melihat tingkah anak SMA jaman sekarang bikin gue sakit leher. W
Gue keluar dari dalam kelas dan berjalan menuju ruangan gue di lantai tiga. Gue menyapa beberapa guru yang berpapasan dengan gue. Sebagian ada yang menyapa balik gue dengan ramah, tapi ada juga yang membalas gue dengan muka asem kayak orang banyak hutang.
"Eh, Bu Ocha ! Abis ngajar, Bu ?" tanya seorang guru laki-laki yang usianya mungkin sepantaran sama bokap gue. Gue gak kenal sama ini guru karena secara gue ini kan guru baru. Dan gue punya masalah dengan perihal mengingat nama orang. Gue pun ngeliat name tag yang tersemat di dada kirinya. Kantil Hardiaja.
"Iya, Pak Kantil," jawab gue. Entah kenapa gue pengen ketawa ngebaca namanya. Namanya Kantil, gak cocok sama sekali sama kumisnya yang lebat.
"Kalau gitu mari, Bu," kata Pak Kantil lalu senyum-senyum genit dan bikin gue pengen muntah.
Gue sampe di ruangan guru dan langsung duduk di kursi gue yang ada di pojok ruangan. Gue melihat ke arah sekeliling gue. Ruang guru rame banget kalau lagi jam istirahat.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Manager [Completed]
Fiksi PenggemarJadi manager EXO ?? Well...gimana rasanya ??? Selama hampir dua puluh tiga tahun gue hidup, gue ngerasa kehidupan gue biasa aja. Gue mengharapkan sesuatu yang 'WAH' terjadi dalam hidup gue. Sampai pada akhirnya sesuatu yang 'WAH' itu terjadi. Tapi...
![The Manager [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/123055187-64-k769505.jpg)