33. Album Photo

1.5K 136 11
                                        

Kadang dalam hidup, kita mesti berpikir dua kali mengenai keinginan kita. Karena kadang apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik buat kita. Beberapa bulan yang lalu, gue bersikeras untuk pergi ke Korea dan melepas karir gue sebagai guru. Gue menganggap dengan pergi Korea dan menjadi manager artis SM, gue akan mendapatkan apa yang selama ini gue gak dapatkan dalam hidup gue. Tapi setelah apa yang terjadi belakangan, gue mulai menyesali keputusan yang gue buat beberapa bulan lalu. Gue rindu kehidupan lama gue yang datar dan gak ada rasa. Gue rindu kehidupan gue yang gak sedrama kayak sekarang.

Gue menatap langit-langit kamar Mas Iko yang berwarna putih. Sudah dua hari gue tinggal di apartemen Mas Iko karena gue masih terlalu takut untuk balik ke apartemen gue sendiri. Gue sebenarnya bisa aja tinggal di dorm EXO. Tapi entah kenapa untuk saat ini, gue sama sekali gak mau bertemu dengan para member dan gue merasa lebih nyaman jika berada di dekat Mas Iko.

Gue mendengar suara pintu kamar Mas Iko diketuk. Gue bangun dari tempat tidur lalu melangkah ke arah pintu. Ketika gue membuka pintu, gue melihat ibu Mas Iko yaitu Bu Ratna, berdiri di depan pintu. Sudah seminggu Bu Ratna tinggal di Seoul.

"Makan dulu, yuk, Nduk," ajak Bu Ratna.

"Nanti aja Tante. Aku belum lapar," tolak gue halus. Gue sama sekali gak berselera untuk makan. Udah dua hari ini gue makan cuma sekali karena gak napsu. Itu pun gue mau makan karena dipaksa sama Mas Iko.

"Seharian kamu belum makan apa-apa lho, Cha. Nanti kamu sakit," kata Bu Ratna berusaha membujuk gue.

Karena merasa gak enak dengan Bu Ratna yang terus menerus membujuk gue untuk makan, alhasil gue pun menuruti Bu Ratna untuk makan.

Gue duduk di ruang makan yang terletak di dekat ruang tv

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gue duduk di ruang makan yang terletak di dekat ruang tv. Apartemen milik Mas Iko sebenarnya gak terlalu besar, tapi juga gak terlalu kecil. Ada dua kamar tidur, dapur, satu kamar mandi dan ruang televisi. Karena di apartemen ini cuma ada dua kamar, Mas Iko harus rela tidur di sofa ruang tv selama dua hari belakangan karena kamarnya gue ambil alih.

"Kamu suka ayam kalasan, kan ?" tanya Bu Ratna.

Gue mengangguk dan melihat ayam goreng kalasan yang tersedia di atas meja dilengkapi dengan sayur asem, tempe tahu, dan juga sambal. Udah lama gue gak makan masakan Indonesia. Terakhir kali gue makan masakan Indonesia ketika gue pulang ke Jakarta beberapa bulan lalu. Mendadak, gue jadi kangen masakan Nyokap.

Gue mulai mencicipi masakan Bu Ratna dan langsung terkejut dengan rasa masakan yang dibuat Bu Ratna.

"Sayur asem Tante mirip sama buatan Mama," kata gue.

"Oh, ya ? Wah ! Berarti jodoh yaaa buat jadi besan," kata Bu Ratna membuat gue tersedak saat menyeruput kuah sayur asem.

Bu Ratna cepat-cepat menyodorkan air putih ke gue. "Pelan-pelan, Nduk," kata Bu Ratna seraya menepuk punggung gue pelan.

Gue menarik napas panjang dan mengelus dada gue.

"Ibu !" gue mendengar suara Mas Iko dari arah pintu. Gue menatap jam yang tergantung di dinding dan masih menunjukan pukul tujuh malam.

The Manager [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang