43. The Last Stage, See You Again

1.7K 124 24
                                        

Kepala gue rasanya mau pecah karena banyak banget jadwal EXO yang bentrok bulan ini. Gue mengacak-acak rambut gue frustasi dan menatap layar laptop gue yang berisi catatan schedule EXO bulan ini. Gue meletakan kepala gue dan menimbulkan suara yang cukup keras.

"Kamu gak sayang sama kepalamu sendiri apa ?" ujar Sehun yang berjalan menghampiri kulkas dan mengambil sekaleng coke.

"Jangan berani-berani minum itu ! Kamu lagi diet !" seru gue ketika melihat Sehun hendak meneguk coke tersebut.

Sehun mengerucutkan bibirnya sebal. Dia kemudian meletakan coke itu di depan gue. Sebagai gantinya dia mengambil susu rendah lemak dan menuangkannya ke gelas.

"Kamu lagi ngapain, sih ?" tanya Sehun.

"Schedule kalian banyak yang bentrok. Aku pusing ngaturnya lagi," kata gue sambil berpikir gimana caranya memperbaiki schedule EXO yang bentrok.

Sehun duduk di samping gue dan ikut memperhatikan layar laptop gue.

"Bulan depan para hyung satu per satu akan pergi," gumam Sehun pelan.

Gue menatap wajah Sehun yang kini terlihat sedih. Ya, bulan depan para member EXO sudah mulai pergi untuk menjalankan kewajiban mereka sebagai warga negara yang baik, yaitu menjalankan wajib militer. Dimulai dari Xiumin dan Chanyeol. Kemudian Baekhyun, Suho, Chen dan D.O. Lalu yang terakhir adalah Kai. Sementara Sehun, dia belum mendapat surat panggilan sama sekali. Kemungkinan tahun depan, tapi itu pun belum pasti.

"Dorm pasti sepi," kata Sehun.

Gue menepuk bahu Sehun pelan. Sehun adalah anggota termuda di EXO dan dia memang agak sensitif jika sudah bersangkutan soal para hyungnya.

"Masih ada aku, HaHa manager dan Lay," kata gue.

Sehun tersenyum tipis. "Lay hyung pasti akan sibuk di China selama EXO tidak aktif sebagai grup. Aku hanya punya kamu dan HaHa manager."

"Semua akan baik-baik saja. Oke ? Gak ada yang perlu dikhawatirkan. Mereka cuma pergi ke wajib militer dan bukan perang beneran."

"Cewek semuanya sama aja. Gak ada yang ngerti gimana perasaan para cowok yang mau wajib militer," kata Sehun dengan nada merajuk.

Gue emang gak ngerti sih kenapa para cowok di Korea Selatan itu merasa khawatir berlebih ketika akan melakukan wajib militer. Mungkin karena gue cewek dan gue tidak menjalankan wajib militer makanya gue tidak mengerti akan perasaan itu. Sama aja kayak cowok yang gak akan mengerti gimana menderita dan gelisahnya para cewek ketika pms.

Gue mendengar suara derap kaki yang terburu-buru mendekat ke arah dapur. Gue dan Sehun menoleh ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari seorang Byun Baekhyun. Baekhyun menatap ke arah gue dengan mata sipitnya.

"Kamu !" seru Baekhyun sambil menunjuk ke arah gue.

"Apa ?" tanya gue bingung.

Baekhyun berjalan ke arah gue. Dia menarik tangan gue dan mengangkat tangan gue ke udara. Mata dia membelalak menatap sebuah cincin yang melingkar di jari manis gue.

"Kamu beneran mau nikah ?!" seru Baekhyun.

"What ?!" seru Sehun.

Gue menarik tangan gue dari Baekhyun.

"Apaan sih ?!" seru gue lalu kembali menatap ke arah layar laptop gue.

Baekhyun kembali menarik tangan gue. "Ini apa ?" tanya Baekhyun seraya menunjuk ke arah cincin yang gue kenakan.

"Aku gak mau nikah. Ya, setidaknya tidak dalam waktu dekat," kata gue.

Gue dan Mas Iko sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Kami akan menunda pernikahan kami sampai Mas Iko selesai menempuh S2 nya di London. Awalnya Mas Iko merasa berencana untuk membawa gue ke London. Tapi setelah dipikir-pikir lagi gue takut beban ke Mas Iko nya. Apalagi biaya hidup di London itu gak murah. Gue tahu sih Mas Iko memang berasal dari keluarga berada. Tapi gue tetap bersikukuh untuk menunda pernikahan kami. Gue menggunakan alasan kalau gue masih ingin mengeksplor diri gue karena gue belum bisa menemukan sesuatu yang benar-benar gue sukai.

The Manager [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang