34. Justice

1.6K 139 6
                                        

Kadang gue berpikir kalau gue adalah orang paling gak bersyukur di dunia ini. Gue selalu berdoa pada Tuhan untuk dicintai oleh seseorang secara tulus. Tapi ketika orang itu datang ke dalam kehidupan gue, gue malah kabur dan merasa takut.

"Kenapa aku ?" tanya gue setelah sekian lama terdiam menatap Mas Iko.

Mas Iko hanya diam menatap gue. Dia menarik napas panjang dan meraih tangan gue yang masih menyentuh alisnya.

"Bukan saya yang berhak menjawab. Tapi Tuhan. Karena asal kamu tahu, yang bisa membuat saya memilih kamu adalah Tuhan. Karena hati saya adalah milik Tuhan dan bukan milik saya seorang."

Lagi-lagi gue diam. Gue menundukan kepala gue.

"Saya gak pernah memaksa kamu untuk menerima saya. Jika memang kamu tidak akan pernah bisa menerima saya..." Mas Iko terdiam menggantung kalimatnya

Gue mengangkat kepala gue dan menatap Mas Iko yang tersenyum getir.

"Itu artinya kita gak jodoh," lanjut Mas Iko.

"Saya akan berhenti menunggu jika kamu menyuruh saya untuk begitu. Karena sebelum kamu menyuruh saya untuk berhenti menunggu kamu, maka saya akan terus menunggu kamu. Sampai kapan pun."

Gue benar-benar gak tahu harus berbuat apa. Seharusnya gue bisa bilang ke Mas Iko untuk berhenti menunggu gue karena gue gak bisa menerima dia untuk masuk ke dalam hidup gue. Ada sesuatu yang masih mengganjal di hati gue sehingga gue belum bisa menerima siapapun, entah itu karena Angga....

Atau Chanyeol....

"Ini udah malam. Lebih baik kamu tidur. Bukannya besok adalah hari persidangan Baekhyun ? Kamu datang kan ?" ujar Mas Iko.

"Ya, aku datang," kata gue.

"Udah sana masuk kamar. Atau kamu mau tidur disini sama saya ?" kata Mas Iko denga senyum miring tersungging di bibirnya.

Gue ikut tersenyum kecil. "Selamat malam, Mas," kata gue lalu berdiri dan pergi menuju kamar.

Ngomong-ngomong soal persidangan Baekhyun, gue jadi teringat dengan orang yang menculik gue dan wajahya mirip dengan Baekhyun.

"Mas Iko, aku mau tanya sesuatu ?" ujar gue seraya duduk di sofa yang ada di samping sofa yang digunakan Mas Iko untuk tidur.

"Tanya apa ?" tanya Mas Iko.

"Bagaimana Mas Iko tahu nama orang yang menculikku waktu itu ?" tanya gue.

Mas Iko diam sebentar. Kemudian dia bangkit dari tempatnya dan berjalan menuju kamarnya sendiri. Gak lama kemudian, dia keluar dari dalam kamarnya dan membawa sebuah buku jurnal berwarna biru tua. Mas Iko kembali duduk di kursinya dan membuka buku jurnal itu. Kemudian dia memberikan buku jurnal itu ke gue.

Di dalam buku jurnal itu, gue melihat foto Mas Iko bersama dengan seorang laki-laki.

"Namanya Han Minchul. Saya dan dia berteman baik ketika kami sama-sama menempuh pendidikan dokter di universitas. Dia cukup populer di kampus saya dulu karena dia pintar dan wajahnya yang memang mirip Baekhyun. Tapi di tahun ketiga dia berhenti kuliah karena kecelakaan dan memutuskan untuk pindah ke Amerika. Setelahnya saya putus hubungan dan gak pernah sekali pun berhubungan dengannya lagi. Sampai pada akhirnya akhir tahun lalu, saya gak sengaja bertemu dia. Tapi ketika saya menyapa dia, tiba-tiba dia kabur begitu saja," jelas Mas Iko.

"Jujur saya kaget waktu tahu dia tiba-tiba ngebawa kabur kamu. Saya benar-benar gak habis pikir. Apa saya pernah buat salah sama dia sampai-sampai dia berbuat hal seperti ini ?" ujar Mas Iko.

Entah mengapa alasan Han Minchul menculik gue bukanlah karena Mas Iko. Tapi karena alasan lain.

"Aku rasa alasan kenapa Han Minchul menculikku sama sekali gak ada hubungannya dengan Mas Iko. Aku punya dugaan kalau alasan Han Minchul menculikku adalah karena Baekhyun," kata gue membuat dahi Mas Iko mengkerut.

The Manager [Completed]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang