Nala membenahi flatshoes dengan satu tangan, sedangkan tangan yang lainnya sibuk menahan ponsel di telinganya. Ia berusaha keras agar tidak tertawa.
" Tidak, Pak. Saya sudah mendapat izin dari kepala sekolah." Kata Nala bergegas keluar apartemen.
" Tapi bu Nala, itu akan menyebabkan ketidaknyamanan dalam proses belajar mengajar!" Protes Pak Burhan, salah satu guru di sekolah tempat Nala mengajar. Ia baru saja protes pada Nala tentang gambar-gambar itu.
" Ini juga bagian dari belajar mengajar, Pak Burhan." Kata Nala bernada menjelaskan. " Mungkin, bisa jadi pembelajaran bagi bapak juga. Saya amati, guru-guru yang protes kepada saya adalah guru yang juga merokok."
" T...tapi bu Nala, proses belajar mengajar jadi terganggu! Tidak kondusif!"
Nala menahan diri untuk tidak tertawa. Nyata sekali guru yang satu ini sangat terganggu dengan alasan yang berbeda.
" Maaf, Pak Burhan. Tapi saya sudah diberi kebebasan oleh kepala sekolah sebagai wali kelas PE. Jika anda masih protes, silahkan menghadap kepala sekolah. Selamat pagi."
" Se...eh? Selamat pagi, kalau begitu. Kita diskusikan ini di sekolah!"
Nala memutar bola matanya saat menutup sambungan. Ia terkekeh. Ia tahu sekali bagi mereka yang merokok, teror yang ia tebarkan pasti terasa sangat mengerikan. Ia berterima kasih atas ilmu psikologi manusia yang diajarkan padanya. Paling tidak ia tahu cara memahami orang-orang berpikir.
" Selesai?" Terdengar suara dingin tepat di belakang Nala. Nala berbalik dan mendapati Raya berdiri di hadapannya dengan tangan bersedekap. Perempuan itu sudah rapi dengan terusan ketat berwarna ungu dengan lengan berjumbai. Sebuah tas tangan menggantung di lengannya, membuat Nala menaikkan alis.
Raya menyeringai saat sadar apa yang diamati Nala. Ia mengangkat tas itu sekilas.
" La Belle Femme, limited edision." Katanya angkuh. " Tapi jangan mengalihkan pembicaraan."
Nala mengalihkan tatapan pada Raya yang menatapnya tajam.
" Jangan ganggu Dewa."
Nala menghembuskan nafas lelah.
" Setelah delapan tahun, kamu masih ngomong hal yang sama. Nggak capek apa?"
Raya menggeram. " Jangan ganggu rumah tangga orang lain! Dewa calon ayah dari anakku. Kamu paham itu."
Nala tahu. Ia sangat tahu itu. Tapi kata-kata Raya seperti pisau berkarat yang dihujamkan di dadanya. Pandangan Nala mengeras.
" Aku nggak pernah ada niat seperti itu." Bisiknya dingin.
" Hmph! Kamu datang ke Indonesia! Apartemen kamu di samping apartemen kami! Kamu sengaja ngambil hatinya Dafa! Gitu kamu masih bilang nggak ada niat?" Decih Raya.
Nala lupa jika Raya adalah orang yang suka sekali berpikiran buruk.
" Aku nggak paham kenapa kamu ketakutan. Jelas-jelas kita udah punya kehidupan sendiri." Kata Nala tenang. Mungkin saja hormon ibu hamil ikut berperan pada sikap Raya yang menyebalkan, meskipun Nala ragu akan hal itu.
Tatapan Raya menggelap. Ia mendekati Nala yang mengambil satu langkah ke belakang. Oke, apa sekarang dia sedang menantang hormon labil ibu hamil? Dia harus ingat jika ibu hamil ternyata semengerikan ini. Raya meraih tangan Nala dengan kasar dan meremasnya.
" Kamu nggak akan pernah merebut Dewa dariku." Desisnya.
" Kana!"
Mereka berdua menoleh saat Fabian muncul. Matanya menajam menatap Raya yang meremas keras pergelangan tangan Nala. Raya segera melepaskannya meskipun masih memandang Nala dengan benci. Raya mendengus keras sebelum berbalik dan membanting pintu apartemen.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTWINED [COMPLETED]
Roman d'amour"Kamu melepaskanku dan aku melupakanmu. Itu wajar." Mana berhak Nala menyebutnya 'mantan'? Kata Jess, bertemu mantan adalah salah satu hal tersulit yang akan ditemui dalam hidup. Oh bukan! Mana berhak Nala menyebutnya mantan? Lebih tepatnya bekas-or...
![ENTWINED [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/120972213-64-k835583.jpg)