5. Kebodohan Nala

42.6K 3.4K 122
                                        

"Dan mata pisau itu bernama kenangan"

Kata Jess, bertemu dengan mantan adalah salah satu hal paling sulit dalam hidup. Rasanya, seperti kita tidak bisa menempatkan diri dengan baik. Kita akan banyak salah tingkah. Kita harus menganggapnya teman biasa dimana hati, pernah mempunyai tempat untuknya.

It isn't easy. Begitu banyak kesulitan yang disebabkan ketika kita bertemu mantan kekasih.

Tunggu dulu, mantan?

Mana berhak Nala menyebutnya demikian? Dia cuma...orang yang pernah berarti dulu sekali. Orang yang Nala doakan agar tidak pernah bertemu dengannya lagi.

Nala menghembuskan nafas panjang untuk kesekian kalinya. Nala tidak mengerti, apakah dirinya berbuat salah di masa lalu sampai-sampai Tuhan senang sekali bermain dengannya?

" Hei."

Nala berusaha mengenyahkan suara itu dari pikirannya. Suara itu bagai tabuhan genderang tepat di telinga Nala yang mampu merobek gendang telinganya.

" ...dan kunci pintu dengan baik. Aku akan memberimu kabar jika aku pulang. Jangan sembarangan menerima tamu! Jangan..."

Ocehan Fabian memotong pikiran melantur Nala.

" Iya Fabian." Potong Nala lelah sembari mengusap wajahnya. Fabian terdiam sebentar, Nala yakin anak itu merasa tidak puas.

" Jaga dirimu baik-baik. Aku tidak akan lama. Farel akan mengantar makanan yang tadi kamu pesan." Kata Fabian serius di seberang sambungan.

" Iya, oke." Ucap Nala. Terdengar hembusan nafas keras dari Fabian.

" Maafkan aku, Kana. Aku akan pulang secepat mungkin. Kamu tidur duluan saja. Sleep tight." Kata Fabian lembut dengan nada bersalah yang kentara sekali.

Mendengarnya, Nala menyunggingkan senyum samar. Bukan salahnya jika mendadak saja ada urusan di hotel pusat yang membuat Fabian menyegerakan makan malamnya. Sudah dibilang, anak itu tidak akan tenang jika meninggalkan pekerjaannya jam tujuh malam. Itu terlalu awal.

Nala menutup ponselnya dan menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan, merasa letih sekali seakan dirinya menua sepuluh tahun lebih cepat. Dalam kegelapan kelopak matanya, peristiwa yang baru saja terjadi berputar-putar tanpa bisa dicegah.

Tidak. Ada sebagian dirinya yang masih saja tidak percaya jika orang itu ada di sini, di sekitarnya, dan menjadi tetangga sebelahnya.

Saking tidak percayanya, tanpa sadar gadis itu melepaskan pelukan Dafa dengan cepat dan berlari ke apartemen, mengunci diri disana sampai membuat Fabian kalang kabut. Tapi mana bisa Nala menguasai diri di tengah tatapan sepasang mata lekat itu? Nala menelan ludah dan bergidik kala sensasi tertohok masih terasa di dadanya.

Itu terlalu...mengerikan.

" Isssss!!" Seru Nala mengusap kasar rambutnya yang tergerai. Dia berusaha mengenyahkan perasaan mengganjal di perutnya dengan mandi dan fokus pada pekerjaan dan jurnal. Tapi tetap saja, dirinya yang sudah terbalut kimono tidur itu tetap saja tidak bisa menghadapi pekerjaannya dengan baik.

" Ck!" Dirinya berdecak kesal. " Ayo dong, La. Jangan lemah gini! He's nothing but your past! Nggak pantas kamu pikirkan dalam-dalam! Mending kamu fokus sama pekerjaan, do it as fast as possible and then go back to Fra..."

Nala terdiam. Pendengarannya menajam.

Ting tong

Nala berdecak dan bangkit dari kursi. Ia merapikan rambutnya, tidak mau Fabian mencium sesuatu yang mencurigakan atau dirinya akan jadi obyek interogasi Fabian selama beberapa jam ke depan. Gadis itu keluar dari kamar, melirik sekilas jam dinding di atas televisi. Ternyata Fabian menepati janjinya untuk pulang cepat, pikirnya membuat Nala terkekeh.

ENTWINED [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang