Can you hear me, as I scream your name
Do you need me, before I fade away
~Spectre~
Mata tajam Fabian menatap Dewa sebegitu kuatnya. Namun di sisi lain, ia mengagumi cara Dewa membalas tatapannya dengan datar dan tenang. Setahu dia, orang lain pasti akan langsung menunduk saat Fabian menatapnya setajam itu.
" Dewangga Abirama." Katanya lancar meskipun dengan aksen Perancis yang masih begitu kental. " Aku sudah berusaha diam. Tapi melihat apa yang kamu perbuat pada Kana tadi siang, sepertinya aku harus menegurmu."
Fabian mengucapkan semua kata dengan dingin. Meskipun demikian, Dewa masih tidak bergeming dan membalas tatapan Fabian.
" Jangan dikira aku tidak tahu dirimu, Dewa. Aku perlu tahu siapa orang-orang di sekitar Kana, terlebih dirimu." Kata Fabian dengan suaranya yang dalam. " Bagaimana kabarnya restoran dan jaringan minimarket yang kamu akuisisi?"
Dewa menatap Fabian beberapa saat sebelum menjawab, " Sejauh ini lancar."
Fabian mengangguk-angguk sebelum duduk di meja kerjanya. Tangannya mengetuk-ngetuk meja sementara matanya tidak pernah lepas dari sosok Dewa yang duduk di hadapannya.
" Kamu menyukai Kana." Kata Fabian kemudian. " Kamu memutuskan untuk tetap menyukainya meskipun tahu bahwa kakakku sudah bertunangan dan sikapmu yang terlalu berani di bus sama sekali tidak bisa aku toleransi. Sekarang jelaskan padaku agar aku bisa menerima tindakanmu tadi."
Dewa mendapati dirinya tidak terlalu terkejut. Walau bagaimanapun, laki-laki bermata biru jernih ini adalah penerus Alexander Halid.
" Hanya terlalu menyukainya, aku rasa." Jawab Dewa setelah menghirup nafas dalam-dalam. " Aku minta maaf. Aku akui sikapku sangat tidak pantas."
" Aku sungguh ingin memotong kedua tanganmu karena berani menyentuh Kana. Bersyukurlah aku masih ingat kalau kamu seorang dokter." Desis Fabian dingin. " Setelah ini, jangan pernah berani mendekatinya!"
Tatapan Dewa menajam. " Ancamanmu sia-sia, Fab."
Mendengar itu, Fabian menyeringai. " Melihat tampangmu ketika Kana memeluk Samuel, aku tidak menampik."
Fabian menatap wajah tenang itu beberapa saat, " Perasaan itu musuh yang sebenarnya, dan aku harus memberimu pujian karena dulu kamu berhasil mengatasinya. Kali ini, jika kamu memutuskan untuk memberikan perhatian kecil tidak berarti demi memuaskan perasaanmu tanpa memikirkan Kana, lebih baik kamu pergi saja!"
" Aku tidak..."
" Tapi kalau kamu sungguh-sungguh mencintainya, jika kamu berjanji tidak akan menjadi pecundang lagi seperti dulu..." Fabian menahan kata-katanya sembari mencondongkan tubuhnya di atas meja untuk menatap Dewa lekat-lekat, " Lakukan dengan sepenuh hati."
Oke. Sepertinya Dewa harus lebih rajin membersihkan telinganya.
" Maaf?" Tanya Dewa menyipit.
Fabian tidak menjawab. Laki-laki itu menatapnya lekat-lekat sembari menarik punggungnya hingga bersandar di kursi direktur empuk miliknya.
" Kamu sudah mendengarnya." Celetuk Fabian. " Aku berterima kasih karena kamu mengobati Kana, meskipun itu juga akibat kamu yang tidak bisa menjaganya."
" Iya, aku minta maaf." Kata Dewa cepat. " Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa maksud kata-katamu tadi?"
Fabian mengangkat alis. Kemudian ia bangkit sembari menautkan tangan di belakang punggungnya dan berjalan ke arah pintu untuk membuka kuncinya. Ia menoleh dengan satu tangan berada di kenop pintu.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTWINED [COMPLETED]
Romance"Kamu melepaskanku dan aku melupakanmu. Itu wajar." Mana berhak Nala menyebutnya 'mantan'? Kata Jess, bertemu mantan adalah salah satu hal tersulit yang akan ditemui dalam hidup. Oh bukan! Mana berhak Nala menyebutnya mantan? Lebih tepatnya bekas-or...
![ENTWINED [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/120972213-64-k835583.jpg)