19. Safest Place

28.5K 2.7K 75
                                        

Still, I can't find a safer place than you

Sebuah klakson nyaring dan panjang menyadarkan Nala dari lamunan. Ia mendongak dan mendapati lampu sudah berubah menjadi hijau.

" Jalanan macet sekali." Keluh Nala pada Farel yang fokus ke depan.

" Karena ketergantungan menggunakan kendaraan pribadi masih tinggi, Nona." Jawab Farel melajukan mobilnya demi meredakan emosi pengendara lain yang sudah diburu waktu.

" Hmm, Jepang justru menggunakan sepeda untuk bepergian kemana saja. Dan sepeda itu kendaraan pribadi,ngomong-ngomong."

Farel terkekeh pelan, " Kalau begitu ada yang salah dengan gaya hidup orang-orang Indonesia."

Nala terkekeh geli. Farel, pemuda itu hanya bertugas menjadi sopir Nala selama berada di Indonesia. Dia mengajukan diri dengan sukarela dan menunda kuliahnya di Perancis demi menemani Nala, anak dari Alexander Halid yang telah berbaik hati memberinya beasiswa dan mengizinkannya tinggal di Mansion Halid begitu orangtua Farel telah tiada.

Untuk sesaat, keheningan melanda. Nala membiarkan Farel mengemudi dengan tenang agar mereka bisa segera sampai di hotel. Nala menghembuskan nafas lelah. La Belle Femme, masalah perusahaan dan kelas PE, semuanya menyita waktu Nala selama beberapa minggu belakangan. Dia memang sudah menyingkirkan Dewa dari pandangannya. Namun laki-laki itu terus datang di pikiran Nala. Menyela apapun yang sedang dipikirkannya hingga Nala jengkel dengan dirinya sendiri.

Farel menginjak rem kuat-kuat ketika mobil di depannya berhenti mendadak.

" Ck...dasar labil..." Gerutu Nala. " Ada apa sih?"

Nala menjulurkan leher ke depan agar bisa melihat lebih jelas, karena kini mobil-mobil di kanan kiri mereka juga ikut berhenti tiba-tiba. Kemudian matanya menangkap alasan mengapa mobil itu berhenti mendadak. Sebuah kerumunan di depan sana menarik perhatian Nala.

" Kecelakaan, ya?" Celetuk Nala menjulurkan kepala keluar dari jendela. Saat itu, matanya menangkap seseorang dengan seragam sekolah yang sangat familier bagi Nala. Mata Nala terbelalak. Ia segera turun dan berlari menuju kerumunan.

" Nona!" Seru Farel yang tidak digubris Nala. Kecemasan mulai melandanya.

" Gaby!!" Seru Nala saat kecurigaannya terbukti. Gaby menoleh dengan wajah pias. Gadis itu terkejut, namun segera berlari ke arah Nala.

" Ra..." Katanya kesulitan. Ia menunjuk kerumunan itu. " BU NALA, RAKA KECELAKAAN!!" Tangisnya meledak.

Demi mendengar itu, jantung Nala berdegup kencang. Nala berusaha menyibak kerumunan yang semakin bertambah.

" Maaf! Saya gurunya!" Ujar Nala gemetar bersusah payah menyingkirkan orang-orang yang memadat. " Maaf! Beri saya jalan! Permis..."

Kata-katanya berhenti ketika matanya menangkap pusat kerumunan. Saat itu juga, ia merasa darah surut dari tubuhnya.

Raka terbaring di sana, di tengah kerumunan dengan darah pekat keluar dari kepala dan hidungnya. Tangan kanannya mendekap sebuah tas tangan perempuan berwarna putih gading yang kini ternoda darah. Sedangkan tangan kirinya terpuntir aneh.

Nala menangkupkan tangannya ke mulut. Seluruh tulangnya meleleh. Ia susah payah menyeret kakinya untuk mendekat dan berlutut di sebelah tubuh yang terdiam dalam posisi ganjil itu.

Tidak!! Tidak tidak!!

Ia merogoh sakunya, hendak mengambil ponsel ketika seseorang menyentuh bahunya.

" Saya sudah menelfon ambulan dari rumah sakit terdekat. Ambulan akan datang sebentar lagi." Kata seorang wanita berpakaian seragam serba putih yang dilapisi jaket jeans. Ia menghadapi kerumunan yang riuh itu.

ENTWINED [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang