" Karena Tuhan selalu tahu apa yang terbaik bagi kita."
Dewa menatap refleksi dirinya tanpa ekspresi, merapikan rambut yang mulai memutih sebelum meletakkan sisirnya dan merapikan kemejanya kembali. Dewa memakai jam tangan dengan cepat sebelum berbalik memunggungi cermin.
Ia selalu menyukai momen ketika dirinya berbalik memunggungi cermin. Karena hal pertama yang ia dapati adalah sosok yang selama ini menemani hidupnya, tersenyum padanya, terbingkai dalam sebuah pigura besar tepat di hadapannya.
Gadisnya cantik. Selalu cantik.
Saat itu, pintu kamar tiba-tiba menjeblak terbuka. Seorang anak laki-laki menghambur ke arah Dewa dan memeluk kakinya, wajahnya ketakutan. Dewa tertawa dan menggendongnya.
" Kenapa?" Tanyanya sembari berjalan keluar.
" Mama galak." Isak anak berusia tiga tahun itu menyembunyikan wajah di leher Dewa.
Dewa terkekeh. Tangannya menepuk pelan punggung mungil anak itu. Sampai di dasar tangga, didapatinya dalang dari semua keributan ini. Perempuan itu berkacak pinggang sehingga perutnya yang membuncit semakin kentara. Serbet kotak-kotak tersampir di salah satu bahunya.
Sepasang mata legamnya menatap Dewa dan berdecak.
" Pasti lari ke kamar atas." Celetuknya.
" Kenapa lagi?" Tanya Dewa duduk di kursi makan dengan anak kecil tadi masih menggelayutinya. Perempuan tadi menghela nafas. Ia mendekati Dewa dan mengulurkan tangan pada anak laki-lakinya.
" Maaf ya sayang. Mama cuma nggak pingin lihat Adam buang-buang makanan. Itu nggak bagus. Nanti kalau nasinya nangis gimana?" Perempuan itu meraih Adam dari rangkulan Dewa.
Adam memberengut, tapi kemudian ganti memeluk mamanya dan mengangguk. Dewa tersenyum melihatnya.
" Jangan capek-capek. Nanti jadwal periksa jam berapa?" Tanya Dewa.
" Jam sepuluhan. Diantar Fabian aja, sebentar lagi dia sampai."
Dewa mengangguk-angguk paham. Ia melihat ke arah jam tangannya. " Berangkat dulu, ya."
" Eh! Makan dulu!" Seru perempuan itu menahan Dewa. Dewa menepuk puncak kepala perempuan itu.
" Nanti di kantin aja. Ada jadwal operasi sebentar lagi." Kata Dewa bersiap melangkah, namun lagi-lagi langkahnya tertahan.
" Dek, nanti kalau berangkat ke rumah sakit abang dikasih tahu."
Dilla mengangguk. Saat itu, Adam mengangkat wajahnya yang bersimbah air mata dari pundak Dilla.
" Ah iya sampai lupa. Om berangkat dulu, ya." Pamit Dewa pada anak kecil bermata biru itu.
" Bang!"
Lagi-lagi, langkah Dewa terhenti. Ia menoleh pada Dilla yang menatapnya lekat-lekat.
" Langsung pulang. Jangan mampir kemana-mana!"
Dewa menatap Dilla sejenak, kemudian tersenyum tipis. " Abang pergi sama Reno. Nggak perlu khawatir."
Namun Dilla mendekat dan menahan lengan jaketnya. Ia menatap Dewa dengan memohon. " Abang, berhenti bang..."
Dewa terdiam beberapa saat, kemudian menangkupkan tangan di pipi adiknya yang semakin beranjak dewasa. Dewa tersenyum menenangkan.
" Ini hari ulang tahunnya. Mana mungkin abang nggak kesana, dek." Kata Dewa. " Abang udah beli bunga buat Nala. Kalau Fabian mau ikut, bilang sekalian beli bunga buat mama Eva sama Radit."
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTWINED [COMPLETED]
Romans"Kamu melepaskanku dan aku melupakanmu. Itu wajar." Mana berhak Nala menyebutnya 'mantan'? Kata Jess, bertemu mantan adalah salah satu hal tersulit yang akan ditemui dalam hidup. Oh bukan! Mana berhak Nala menyebutnya mantan? Lebih tepatnya bekas-or...
![ENTWINED [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/120972213-64-k835583.jpg)