" I can't live without you"
" Disruduk truk dan cuma ringsek? Bener-bener mobil pembawa keberuntungan."
" Soalnya yang disruduk bagian belakang mobil. Lo liat lokasinya, kan? Dia nge-drift 180 derajat biar..."
Nala membuka matanya yang terasa berat. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit-langit ruangan berwarna putih.
" Ngghhh..." Nala mengerang kala merasakan tusukan panas di tulang belakangnya.
" La? Nala? Udah sadar?"
" Panggil dokter! Cepetan!"
" Dit?" Panggil Nala tidak berniat memfokuskan pandangan. " Radit?"
" Eh? Radit?"
" Cepetan ck! Nala, sadar! Lihat gue!" Seseorang menepuk-nepuk kecil pipi Nala, meminta perhatiannya. Nala mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mencari fokus.
" Le?" Panggil Nala serak. " Lo...mati juga?"
" HAH??"
" Gue ketemu Radit. Artinya gue mati kan? Lo ditinggal Katie ya?" Tanya Nala ngawur.
" Gue belum mati dan lo juga, Nala. Fokus sama suara gue. Lihat gue coba!" Kata suara tadi. Mau tidak mau, Nala menurutinya. Semakin dia berusaha mengumpulkan kesadaran, semakin ia bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Nala mengerang.
" Leon..." Panggil Nala saat wajah laki-laki itu masuk dalam pandangannya, hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
" Bisa lihat gue? Hm?"
Nala mengangguk lemah. Laki-laki itu menempelkan keningnya di kening Nala, mendesah lega. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Nala.
" Kalian itu ya, mau sampai kapan bikin gue harus bolak balik gini?" Ucapnya frustasi meskipun kelegaan membanjirinya.
Kalimat Leon menyentil nalar Nala. Tapi ia terlalu lemah untuk mencari lebih jauh.
" Ini dimana?" tanya Nala akhirnya berusaha memahami keadaan sekitar.
" Di rumah sakit Aditama. Apa kejadian terakhir yang lo inget, La?" Tanya Leon.
Nala memejamkan mata, berusaha memilah antara nyata dan mimpi yang beberapa waktu terakhir teraduk jadi satu.
" Truk." Ucapnya mengerjap. " Lalu cahaya yang terang banget. Terus, truk itu nabrak gue..."
Mndadak, gadis itu membelalak.
" Farel!" Serunya keras hingga kerongkongannya sakit. Tapi Nala tidak peduli. Sebuah gelayar ketakutan membuat perutnya mulas. " Farel gimana? Dia...dimana? Farel..."
" Easy girl, ajudanmu nggak papa." Sahut Leon cepat-cepat menenangkan Nala yang panik.
" T...tapi dia, beneran nggak papa? Maksudku..."
Leon menghela nafas, " Tulang rusuk retak, tapi dia keras kepala banget. Dia sadar lebih dulu daripada kamu dan sekarang nemeni Fabian. Cukup?"
Nala mengedipkan mata dengan mulut terbuka.
" Dia baik-baik aja. Lo yang nggak baik-baik aja." Kata Leon tegas. " Sekarang jawab gue, apa yang lo inget?"
Nala menatap Leon, berusaha menata memorinya lagi. " Truk itu oleng kayak...dikemudikan orang mabuk, rem blong, pecah ban atau apalah itu. Jalanan sempit banget terus dia..."
Nala mengerjap semakin cepat ketika detail memori semakin jelas. "Nggak. Truk itu nabrak mobil di depan gue. Mobilnya...hitam...Le! Gimana si pengemudi mobil di depan gue?"
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTWINED [COMPLETED]
Roman d'amour"Kamu melepaskanku dan aku melupakanmu. Itu wajar." Mana berhak Nala menyebutnya 'mantan'? Kata Jess, bertemu mantan adalah salah satu hal tersulit yang akan ditemui dalam hidup. Oh bukan! Mana berhak Nala menyebutnya mantan? Lebih tepatnya bekas-or...
![ENTWINED [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/120972213-64-k835583.jpg)