Nala bergidik di balik selimut berwarna merah bergaris. Udara malam terasa menusuk setiap pori kulitnya. Dengan secangkir susu panas di tangan kanan, Nala meneliti proposal jurnal yang harusnya dia kirim kepada profesornya berbulan lalu. Dia harus segera menyelesaikan ini agar bisa beralih di tugas selanjutnya, yaitu menyelesaikan desain pesanan yang menumpuk di mejanya, serta menyiapkan perpisahan anak-anak didik kesayangannya.
Khususnya, bagi Ali yang menyambar gelar juara satu nasional.
Nala terkekeh mengingat Ali yang melewati wajah-wajah melongo di lorong sekolah dengan sikap sombongnya, menuju ruang guru hanya untuk menyodorkan kertas pada Nala yang berisi urutan kegiatan yang dia dan anak-anak lain inginkan sebagai hadiah.
Mana mungkin Nala menolaknya.
BRAK!!!
Nala melompat kecil di kursinya. Gadis itu langsung mendongak untuk memeriksa balkon, karena dari sanalah suara mengejutkan itu berasal.
" Bagus, kamu belum tidur." Celetuk Dewa mengembalikan pot mungil Nala di atas tembok balkon. Nala ternganga.
" Kamu ngapain di sini? Kapan pulangnya?" Desis Nala menoleh cemas ke apartemen di sebelahnya.
Iya. Nala kembali tinggal di apartemen mereka yang berada di samping apartemen Dewa. Ini permintaan Rani dan Alex, alasannya agar mereka lebih mudah merencanakan pernikahan. Tapi bagi Dewa dan Nala, itu siksaan.
Dewa yang kemari di saat-saat seperti ini terasa salah. Kata ibu Dewa, masa-masa sebelum menikah adalah masa yang rawan sehingga Nala dan Dewa tidak diperbolehkan bertemu hanya berdua saja. Istilahnya, mereka dipingit untuk berduaan. Mereka diizinkan bertemu jika ada orang lain di sekitar mereka. Atas dasar itu pula Dewa terpaksa pindah kamar.
Bukannya menjawab, Dewa justru mendorong Nala masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintu balkon.
" Dewa! Ini...kalau ibu tahu gimana?" Pekik Nala cemas. " Mau apa malam-malam kesini? Nggak bisa lewat telfon, apa?"
Lagi-lagi, laki-laki itu hanya menatap Nala tanpa ekspresi. Ia menunjuk ranjang Nala.
" Duduk!" Perintahnya tegas. Nala mengerjap.
" Kenapa? Ada apa?" Tanya Nala semakin cemas.
Dewa menghirup nafas dalam-dalam sebelum mengulang perintahnya. " Duduk!"
Nala bungkam. Sepertinya, Dewa sedang dalam keadaan tidak bisa dibantah. Akhirnya ia mematuhi permintaan Dewa dan duduk di tepi ranjang. Dewa segera menyambangi Nala dan duduk di lantai tepat di depan Nala. Tanpa kata, laki-laki itu menarik pelan kaki kanan Nala dan mengamatinya.
Seketika, Nala langsung tahu sumber perilaku aneh Dewa.
" Nggak sampai jatuh kok, De. Tadi sempat pegangan tiang." Kata Nala menenangkan Dewa. Entah darimana Dewa tahu Nala yang diam-diam berjalan tanpa menggunakan tongkatnya.
Keadaan Nala sudah jauh lebih baik. Tangannya sudah terkoordinasi dengan baik. Hanya saja, kakinya masih sering tidak sejalan dengan otaknya. Itu alasan Nala harus memakai tongkat. Dan hari ini dia memutuskan untuk berlatih berjalan tanpa tongkat ketika tanpa sengaja seorang murid menyenggolnya dan nyaris membuatnya jatuh terjerembab.
Hasilnya, Nala dan guru yang lain harus menahan Raka kuat-kuat karena anak itu bernafsu sekali mematahkan hidung murid yang menabrak Nala.
Dewa menghembuskan nafas panjang sebelum melepaskan kaki Nala dan mendongak. " Lain kali hati-hati. Latihannya di tempat aman dulu."
Nala mengalihkan pandangannya dari Dewa dan mengangguk canggung. Mereka tidak bertemu selama beberapa hari karena Dewa pergi ke luar kota. Dewa tiba-tiba berdiri, membuat Nala menoleh kembali padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTWINED [COMPLETED]
Romance"Kamu melepaskanku dan aku melupakanmu. Itu wajar." Mana berhak Nala menyebutnya 'mantan'? Kata Jess, bertemu mantan adalah salah satu hal tersulit yang akan ditemui dalam hidup. Oh bukan! Mana berhak Nala menyebutnya mantan? Lebih tepatnya bekas-or...
![ENTWINED [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/120972213-64-k835583.jpg)