"Tell a lie once, and all your truths become questionable" Anonymous
Pagi itu, hujan turun dengan derasnya. Butiran-butiran besar air hujan terasa seperti batu yang menghantam atap yang terbuat dari seng itu. Sesekali angin bertiup kencang, menghantarkan hawa dingin yang membuat Nala sedikit menyesal karena dirinya tidak membawa jaket. Alhasil, gadis itu hanya bisa mengusap lengannya sambil sesekali mengusir rambut yang menari di wajahnya.
Nala menoleh pada Farel yang masih sibuk dengan sang montir.
" Masih lama?" Tanya Nala. Farel menoleh ke arahnya. Pipinya tercoreng dan tangannya sudah kusam, begitu pula kemeja yang ia gunakan. Dengan sigap laki-laki itu berdiri dan menatap Nala dengan raut cemas.
" Saya khawatir ini membutuhkan waktu lebih lama dari yang saya perkirakan, Nona. Maaf." Ucap laki-laki itu menyesal. Nala menghembuskan nafas panjang dan menggeleng.
" Bukan salahmu. Kamu justru bertindak cepat dengan mencari bengkel terdekat." Kata Nala tersenyum seraya menepuk bahu Farel. Ajudan pribadinya itu langsung menepikan mobil begitu mendengar suara dentuman diikuti kepulan asap putih tebal yang membumbung dari kap mobil.
" Padahal saya selalu memeriksakannya sesuai jadwal, tapi tetap saja..."
" Farel, sudah." Ucap Nala memotong penyesalan Farel. Sekali lagi, laki-laki itu membungkuk dalam-dalam.
" Tuan Fabian pasti..."
" Ck!" Decak Nala tidak sabar. " Ini bukan salahmu dan Fabian tidak akan menghukummu. Dia tidak sejahat itu."
Farel menghembuskan nafas, " Saya akan lebih senang jika tuan menghukum saya saja."
" Issss...kamu itu tipe orang yang suka menyiksa diri sendiri apa gimana? Farel, Fabian memang orangnya tegas, tapi dia bukan robot yang tidak mengerti duduk permasalahannya. Lagipula, siapa yang tahu kalau..."
" Ada masalah?"
Nala terlonjak ke belakang. Dia pasti akan jatuh jika saja Farel tidak menyambar bahunya dengan tangkas. Detik berikutnya, matanya membulat melihat siapa yang tengah keluar dari mobil hitam yang baru saja berhenti tepat di depan mereka.
" Kenapa?" Tanyanya dengan nada khawatir. Nala berpaling, sama sekali tidak berniat menjawabnya.
" Ada sedikit masalah." Farel menjawab seraya menunjuk mobil mereka di belakangnya.
" Hmm...buru-buru? Aku bisa mengantarmu duluan."
Nala bersedekap tanpa membalasnya. Gadis itu memandang lantai kelabu yang penuh oli di bawahnya. Kemudian, sepasang sandal jepit hijau masuk dalam pandangannya.
" Nala, aku bisa mengantarmu." Ucapnya tiba-tiba saja sudah berada di hadapan Nala.
" Aku nunggu bis aja." Sahut Nala dingin.
" Susah dapat bis di jalur ini sekarang." Jawab Dewa menatap Nala yang terus saja menunduk. Laki-laki itu menghirup nafas dalam, " Ajak Farel, kalau pergi sama aku terlalu mengganggumu."
Mendengar itu, Nala langsung menatap Dewa. Laki-laki ini brengsek sekali!
" Farel." Panggil Nala gemetar. " Mari kita terima niat baik tetangga kita. Karena urusan hotel sama sekali tidak bisa menunggu, aku harus sampai sana tepat waktu."
Farel membungkuk lagi sebelum mengawasi Dewa. Dia sudah mendengar dari Fabian bahwa tetangga mereka mempunyai hubungan dengan nonanya di masa lalu. Tapi tetap saja, itu bukan alasan untuk menurunkan kewaspadaan.
**
Seharusnya, laki-laki itu bersikap jahat padanya.
Seharusnya, laki-laki itu tidak peduli padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ENTWINED [COMPLETED]
Romantik"Kamu melepaskanku dan aku melupakanmu. Itu wajar." Mana berhak Nala menyebutnya 'mantan'? Kata Jess, bertemu mantan adalah salah satu hal tersulit yang akan ditemui dalam hidup. Oh bukan! Mana berhak Nala menyebutnya mantan? Lebih tepatnya bekas-or...
![ENTWINED [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/120972213-64-k835583.jpg)