29. Terhempas

27K 2.6K 84
                                        

"You cut every ballon I have. But it's okay, because I never want to fly"

Sepanjang perjalanan, Nala menjadi pendiam. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Selepas perkataan Dilla di kamar itu, tanpa kata Nala berjalan cepat untuk keluar rumah. Ia bisa merasakan seolah seluruh dinding rumah itu dipasangi mata hitam legam yang mengawasinya.

Di sampingnya, Dilla sibuk mengeluarkan sesuatu dari kantong. Kemudian, ia beringsut ke depan sembari mengulurkan sebuah headset berwarna putih ke arah Tristan.

" Tristan, aku minta kamu memakainya." Pinta Dilla ketika Tristan meliriknya dari spion. " Karena aku mau pembicaraanku dengan kak Nala tetap pribadi, dan keberadaanmu mengganggu."

" Apa maksudnya, Nona Adilla? Saya memerlukan pendengaran saya ketika mengemudi." Tepis Tristan sopan.

Pandangan Dilla menajam. " Seharusnya, ini momen privasi antara aku dan kak Nala. Tapi kehadiranmu mengganggu. Aku jadi tidak bisa bebas bicara dengannya."

" Tapi..."

" Ayolah Tristan! Kamu dipilih secara pribadi oleh Fabian pasti karena punya kemampuan. Masa pakai headset saja jadi halangan?"

Tristan melirik Nala.

" Turuti saja. Aku percaya padamu." Jawab Nala meskipun ia sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan gadis itu. Tapi satu yang ia ketahui tentang Tristan, bahwa laki-laki itu bisa mengemudi di bawah tekanan apapun. Karena Tristan adalah kepala pasukan penjaga Fabian, dan dia yang paling sering menjadi supir pribadi Fabian ketika adik kesayangannya diam-diam menyelesaikan masalah dengan mereka yang ada di dunia hitam.

"Ponselmu. Buka password-nya!" Perintah Dilla seenaknya, yang lagi-lagi membuat Tristan melirik ke arah Nala.

" Gut!" Seru Dilla ketika Tristan membukakan password ponselnya. Dengan cekatan, jemarinya membuka library musik dan memutar playlist. Dilla memasang headset pada ponsel Tristan sebelum menyerahkannya pada Tristan.

"Pakai." Ucap Dilla. " Dengan benar. Akan terlihat bedanya kalau kamu tidak memakainya dengan benar."

Setelah melirik Nala untuk ketiga kalinya, akhirnya Tristan memasangnya tanpa protes. Laki-laki itu memasangnya dengan tangan kiri sementara tangan kanannya memegang kemudi.

Tristan tetap mengemudi dengan tenang ketika gadis itu memeriksa kedua telinga Tristan, memastikan headset sudah terpasang dengan benar. Lalu Dilla kembali duduk dengan tampang puas.

" Perlu sekali ya?" Tanya Nala melihat tingkah Dilla. Dilla tersenyum kecil.

" Itu perlu. Aku nggak mau cerita kakakku jadi konsumsi publik." Jawaban Dilla meninju perut Nala. Nala menghirup nafas dalam sebelum memfokuskan pandangan ke depan.

" What are you doing, Adilla Anastasya?" Tanya Nala tidak habis pikir.

" Aku...agak bisa menebak hubungan kalian." Jawab Dilla pelan. " Aku cuma pingin dukung abang. Abang selalu memikirkan kak Nala. Dari dulu."

Nala terdiam.

" Kak Nala tahu? Selepas kalian putus, Dilla sering lihat abang nangis di dapur, di kamar, di manapun ketika nggak ada orang. Bang Dewa nggak pernah pingin pisah sama kak Nala. Dilla pastikan itu." Kata Dilla dengan suara bergetar. " Waktu tahu kak Nala di sini, Dilla berpikir akhirnya Tuhan mulai berbaik hati sama abang."

" Dilla." Panggil Nala. " Jangan salah sangka, tapi aku dan abangmu sudah selesai."

Dilla mengangguk kecil dengan mata tetap terpancang ke depan. " Aku bisa membayangkan apa aja yang mungkin terjadi setelah delapan tahun ini, kak. Tapi tetap saja, aku pingin bantu abang sampai akhir. Karena Dilla pingin abang bahagia, dan Dilla tahu kebahagiaan abang itu kak Nala. Kalaupun kak Nala udah sama orang lain, aku cuma berharap apa yang aku tunjukin bisa buat kak Nala jatuh cinta lagi sama abang."

ENTWINED [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang