Extra 2. Mine

48K 2.9K 235
                                        

Mikaila membuang benda pipih berplastik itu ke sudut ruangan. Dengan raut muka keruh, ia membanting diri ke sebuah sofa single sembari bersedekap.

" Nikah?!!" Serunya tidak percaya. " Mereka nikah?! Bukannya mereka putus pas akhir tahun?"

Seorang perempuan lain yang berdiri di tepi meja berdecak, " Iya emang, sampai lo girang banget waktu itu. Tapi katanya mereka ketemu lagi. Si Nala itu balik lagi ke Indonesia."

Mikaila mendengus. Ia mengambil sebuah cermin mungil dari meja di sampingnya, menilai dirinya sendiri sebelum pemotretan dilakukan. " Ngapain? Setelah selama ini dia ngemis sama Dewa lagi? Berharap sama Dewa yang sekarang udah jadi 'orang'? Cih! Dari dulu anak itu nggak punya malu!"

Sonya memutar bola matanya, " Terserah lo mau ngomong apapun tentang cewek begundal itu, yang jelas Dewa udah jatuh lagi sama dia. Lo nggak punya kans kali ini, Kai."

Mikaila menarik satu sudut mulutnya. Perempuan itu meletakkan cermin ke meja, menegakkan diri dan menyilangkan kaki hingga rok sepahanya semakin naik. " Apa lo bilang?" Ucapnya meremehkan.

" Lagian ngapain juga lo masih ngejar Dewa? Lo kan udah punya Vero! Mau dikemanain dia?"

" Ini bukan masalah ngejar mengejar! Ini masalah harga diri gue! Lihat aja, nggak akan ada yang bisa berpaling dari gue di pesta mereka nanti. Semua orang akan bilang, gue yang lebih pantas jadi pengantin daripada cewek miskin itu!" Ucap Mikaila penuh percaya diri seraya mengibaskan rambutnya ke belakang.

" Lagipula kalau gue dapet Dewa, Vero gue buang lah! Cowok miskin yang bisanya cuma ngajak gue jalan-jalan keliling Eropa tiap gue ulang tahun gitu nggak banyak gunanya!"

**

" Dan aku masih berpikir pilihanmu sangat dibawah standar, Alex."

Alex meluruskan kakinya di bawah meja sembari menangkupkan tangannya di pangkuan. Saat ini, dia sedang berada di tengah-tengah kerumunan yang bisa jadi kawan, bisa jadi lawan. Seperti itulah dunia bisnis. Pria itu mengecek jam tangannya. Masih ada satu jam lagi sebelum ia menjemput anak perempuannya yang masih sibuk berias diri. Alex menatap ke depan, ke arah ballroom yang kini penuh dengan tamu undangan baik dari pihaknya maupun pihak Dewa. Sebagai salah satu pemain bisnis yang paling disegani, Alex tentunya harus menyapa mereka.

" Anakmu itu menolak Samuel, menolak Leonard, menolak Damien, menolak anakku dan dia memilih pemuda yang bahkan asing di telinga kita. Akan jadi apa Halid nantinya?" Celetuk yang lain di meja itu. Seorang pria yang juga pemain bisnis. Sepertinya dia masih sakit hati ketika anak perempuan Halid menolak perjodohan dengan putranya. Putra mahkotanya.

" Kau belum pernah bertemu dengannya, Don." Ucap Alex santai. " Setelah ini, kusarankan bertemulah dengannya dan katakan pendapatmu tentangnya padaku. Anak itu mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai pemuda lain."

Donald mengangkat alis meremehkan, " Yang jelas adalah, dia tidak mempunyai sesuatu yang dipunyai pemuda di kasta kita, Alex. Walau bagaimanapun, Kanala adalah seorang Halid. Menantumu membawa kehormatan, nama besarmu dan masa depan Halid! Bagaimana bisa kau menyerahkannya pada pemuda rendahan yang tidak kompeten?"

" Don, tenang!" Ucap seorang pria beralis pirang, bahkan keseluruhan rambut di kepala orang itu pun pirang. Dia berdehem dengan suaranya yang dalam, " Aku hanya berharap menantumu tidak membawa dampak buruk pada Halid."

Alex terkekeh pelan, " Tidak akan. Aku justru berharap yang sebaliknya. Dengan dia di samping Fabian, aku optimis dirinya membawa hal yang baik bagi Halid."

Donald lagi-lagi mendengus, " Sehebat apa dia hingga kau memujinya? Kau orang yang jarang memuji, Alexander Halid. Aku bahkan tidak pernah mendengarmu memuji Ravic ketika anakku nyata-nyata membawa dampak besar bagi perusahaan kami! Apa obyektivitasmu sudah kabur?"

ENTWINED [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang