Bab 7

508 4 0
                                    

Sore itu langit cerah. Semilir angin bertiup sepoi-sepoi, membuat jilbabku berkibar bak bendera. Aku, Kak Eli dan Kak Iin sedang berjalan di pinggir lapangan bola, menyusuri lulurung atau gang menuju tempat Uwa Fiah untuk mengaji kitab gundul. Gang kecil yang selalu kami sebut lulurung, yang dulu pernah membuat nyali kami menciut lantaran dua bola mata api mengejar-ngejar kami di lapangan. Konon menurut tetua kampung, bola api itu bernama 'kamangmang', sejenis siluman yang mencari tumbal.

"Nara, kau tengok ke depan sana!" Kak Iin memutuskan gurauan kami.

Sesosok makhluk besar berpakaian serba hitam, berambut panjang kusut, duduk di emperan rumah warga. Aku memekik. Itulah orang paling berisik di kampung kami. Seseorang yang menyebut dirinya Orang Indonesia...

Tiap kali ia lewat, angin menyampaikan pesan pada hidung tentang aroma tubuhnya yang amat menyengat. Bau. Kata orang, Kusin jarang mandi. Bajunya itu-itu saja. Bosan sekali melihatnya. Jangankan ganti baju, rumahpun dia tidak punya.

Lihatlah, Mr. Baja Hitam sedang nangkring sambil melantunkan lagu-lagunya yang tak pernah masuk dapur rekaman. Kami bertiga berjalan pelan. Bertiga? Ya, karena Kak Fatin sebulan yang lalu merantau ke Jakarta. Ia hanya menamatkan sekolahnya sampai sekolah menengah tingkat pertama, Madrasah Tsanawiyah. Meski keluarga Kak Fatin termasuk orang berada, namun di desaku jarang sekali pelajar yang melanjutkan sekolah ke tingkat menengah atas / SMA / dan sederajatnya.

"Ari beurit mah karawin bae. Beurit sia mah, - tikus-tikus pada kawin terus," Mr. Baja Hitam sedang berkicau.

Kak Iin usil meledeknya. "Kamu sendiri kapan?"

"Maukah kau menikah denganku?" Matanya melirik Kak Eli.

Kak Eli bergidik ngeri. "Heh, apa kau bilang? Kau mau melamarku, Kusin? Kau harus punya kambing berwarna hijau dulu, baru aku mau menikah denganmu. Enak saja mau menikahi gadis perawan sepertiku." Kak Eli berkata ketus. Lidahnya dileletkan, kedua bola matanya melotot lebar.

Desaku berada di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, sehingga bahasanya pun meragukan. Kadang sunda kasar, Jawa tidak jelas, dan sunda halus yang hanya beberapa orang saja menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tak ayal, di sekolah kami ada dua pelajaran bahasa daerah; Bahasa Jawa dan Bahasa sunda. Kedua pelajaran itu selalu menjadi nilai terendahku di rapor.

"Hustt, nanti kalau tiba-tiba dia benar-benar kasih kambing warna hijau, kau harus mau menikah dengannya, Eli?" Kak Iin tertawa menggoda.

Aku ikut tertawa. Lucu memang menertawai Mr. Baja Hitam yang sering kali melamar Kak Eli namun selalu ditolak dengan memberikan syarat yang aneh-aneh.

"Mana ada kambing berwarna hijau, coba? Tidak akan pernah ada." Kak Eli berkata amat yakin. Ia berjalan lebih cepat dari sebelumnya.

"Siapa tahu dicat, Kak." Aku ikut menimbrung, menyejajari langkah Kak Eli yang sekarang melotot ke arahku. Tidak mungkin ada, desisnya sekali lagi.

"Aku tidak mau menjadi istrinya. Tidak akan pernah sudi. Mana badannya bau, tidak pernah mau mandi, orangnya aneh. Sudah, deh, jangan meledekku terus." Wajah kak Eli merah padam bagai cabai.

Setelah Kak Fatin tidak ada, Kak Iin betah sekali menggoda Kak Eli. Padahal dulu kak Iin amatlah pendiam dan bersikap lurus. Namun kejahilannya kini menggantikan sosok Kak Fatin, membuat Kak Eli manyun dibuatnya.

Kusin. Nama asli dari Mr. Baja Hitam. Kelakuannya memang aneh. Tidak punya tempat tinggal, tidak punya keluarga. Entah darimana ia berasal. Setiap hari kujumpai dirinya berada di emperan rumah warga. Kadang di dekat sekolah, di pinggir lapangan, di dekat sungai, dan di balai-balai. Kehadirannya seperti hantu. Berpindah-pindah sesuka hatinya.

DESA TERKUTUKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang