11. Aku nggak suka sama kakak!

940 35 7
                                        

TOK! TOK!

Karin menyembulkan kepalanya melalui celah pintu yang sedikit terbuka lalu terkekeh pelan saat orang-orang yang ada disana menatapnya dengan heran. Sementara Kinan hanya bisa menghela napas pelan lalu ikut mengekori Karin.

"Kak Zaky!" panggilnya, namun tidak dengan volume suara yang tinggi.

Zaky yang awalnya sedang sibuk membaca daftar nama-nama siswa yang telah mendaftar untuk menjadi anggota osis pun menoleh. Alisnya bertaut saat melihat senyuman aneh yang merekah dari bibir gadis di hadapannya itu.

"Ngapain lo senyum-senyum?" tanyanya ketus.

Karin tidak mengidahkan pertanyaan dari Zaky dan masih tetap tersenyum. Matanya sesekali melirik ke arah samping kanannya, atau lebih tepatnya ke arah Dewa yang masih sibuk dengan urusannya.

"Gak kenapa-napa." jawabnya pelan.

Zaky menggeleng pelan. Merasa sedikit aneh dengan tingkah gadis ini. Ia kembali teringat dengan ekspresi gugup-namun lebih ke arah takut-yang ditunjukkan gadis itu saat ia mencegatnya di koridor siang tadi. Namun lihat sekarang, gadis ini bahkan tidak menunjukkan sedikitpun ekspresi takutnya.

Alis Zaky kembali menyatu saat melihat gadis yang ada di belakang gadis aneh tadi. Matanya menatap ke arah Zaky dengan ekspresi yang super datar.

"Bukannya, gue cuma minta lo dateng kesini? Kenapa..." Zaky menunjuk ke arah Kinan.

"Emangnya kenapa? Aku gak boleh gitu ikut sama Karin? Dia kan temen aku." jawab Kinan ketus. Matanya masih menatap tajam ke arah laki-laki yang ada di depannya itu.

Karin berdehem pelan. "Tapi sebenernya, Kinan itu kesini karena mau daftar jadi anggota osis." jelas Karin yang langsung membuat mata Kinan membulat sempurna.

"Apaan sih?! Kapan gue ngomong kayak gitu?!" kesalnya pada Karin sesaat setelah ia mendapatkan tatapan meremehkan dari Zaky.

"Lah? Bukannya di depan tadi lo bilangnya mau ikut?" Karin yang berada di antara mereka berdua jadi ikut bingung. "Lo ngomong gitu kan tadi?"

Kinan mengulum bibirnya. Ya, ia baru teringat dengan perkataannya beberapa saat yang lalu.

Zaky mendengus pelan. "Ternyata, dugaan gue bener." ia menatap Kinan dengan senyuman miringnya. "Lo suka kan sama gue?" tebaknya yang langsung membuat semua orang yang ada di ruangan itu sontak menatap kaget.

"SEMBARANGAN! NGGAK! AKU SAMA SEKALI NGGAK SUKA SAMA KAKAK! KAKAK KALI YANG SUKA SAMA AKU, MAKANYA KAKAK SERING JAHIL SAMA AKU!" balas Kinan setengah berteriak. Oke, harga dirinya benar-benar dipertaruhkan saat ini.

"Dih ge-er, siapa juga yang suka sama lo!" bantah Zaky.

"Aku juga nggak suka sama kakak!" balas Kinan ketus.

"Yaudah sih, kan, gue cuma nanya doang." jawab Zaky cuek lalu kembali duduk di kursinya.

Kinan menatap tajam Zaky yang tampak tidak peduli dengan tatapan orang di sekelilingnya. Kinan mendengus pelan lalu pergi dari ruangan itu.

"Ki-kinan!" panggil Karin yang bingung harus berbuat apa.

"Udah, biarin aja, tuh cewek pasti malu banget udah teriak-teriak gitu." gumam Zaky yang masih sibuk dengan kegiatannya.

"Hm..k-kak, sekarang, aku gimana?"

"Oh iya, gue lupa masih ada urusan sama lo."

***

"Kinan!"

Lagi-lagi gadis itu berlari dengan tergesa-gesa. Ia tampak tidak peduli dengan beberapa orang yang ia tabrak dan menatapnya kesal.

"Jangan lari-lari di koridor!" nasihat Kinan. Namun sayang, sebelum perkataannya benar-benar di dengarkan oleh Karin, gadis itu sudah terlebih dahulu menabrak seseorang hingga terjatuh ke lantai. Ia meringis kesakitan sambil memegang pantatnya—yang secara tidak elit—mencium lantai.

"Sori, gue gak liat kalau lo lagi lari-larian." ucapnya sambil mengulurkan tangannya, berniat untuk membantu Karin.

"Gak papa." jawab Karin malu, lalu menyambut uluran tangannya. "Makasih."

Laki-laki itu mengangguk. "Sama-sama." jawabnya sambil tersenyum. "Oh iya, gue boleh kenalan nggak? Nama gue Dio Nagarjuna." untuk yang kedua kalinya, laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Lima detik. Karin menghitung berapa lama waktu yang diperlukannya untuk terpesona dengan tatapan dari seorang Dio Nagarjuna. Namun detik setelahnya, ia langsung membuang jauh-jauh khayalannya tentang Dio. Dewa Ardiaz mau dikemanain?

Ia memutuskan untuk tetap konsisten dengan pilihannya sendiri, yaitu tetap menyukai dan mengagumi seorang Dewa Ardiaz!

Dio berdehem pelan saat uluran tangannya sama sekali tak dihiraukan oleh gadis itu. "Dan nama lo?"

Karin langsung menyambut uluran tangan Dio. "Karin Ananta." jawabnya singkat sambil tersenyum.

Dio tersenyum. "Oh iya, gue boleh nanya nggak? Kantor kepala sekolah dimana?"

Karin memandang sekilas penampilan Dio. Ia baru menyadari bahwa laki-laki itu tidak mengenakan seragam sekolah seperti dirinya, melainkan baju kaos lengan panjang berwarna abu-abu, serta celana jeans warna hitam. Ia juga memegang sebuah map di tangannya.

"Lo murid baru, ya?" tanya Karin.

Dio tersenyum, lalu mengangguk. "Tepatnya sih, calon murid baru." koreksinya lalu ia tertawa pelan.

Karin tersenyum bahagia. Dengan masuknya Dio ke SMA Nusantara akan menambah jumlah spesies cogan alias cowok ganteng di sekolahnya. Ia yakin, setiap hari matanya akan selalu segar dengan pemandangan yang menyejukkan mata dan hatinya.

"Gue anterin deh, ke kantor kepala sekolah." ajak Karin yang langsung diangguki oleh Dio. Mereka berdua pun langsung berjalan ke arah yang berlawanan saat Karin berlari tadi, melupakan Kinan yang menatapnya heran dengan tas di tangannya.

"Tuh anak mau ngapain sama cowok itu?" herannya.

Karin menatap tas di tangannya, lalu mendengus pelan. Nampaknya ia harus menunggu Karin kembali untuk menyerahkan tasnya baru kemudian pulang ke rumah.

"Nyusahin!" kesalnya lalu berjalan ke arah gerbang sekolah.


Siapakah Dio Nagarjuna????
Yang udah baca part sebelum di revisi pasti tau. Tapi disini, ceritanya mau aku buat lebih greget dari sebelumnya.

So, tunggu part selanjutnya aku revisi, oke?

Don't forget to vomment!❤

(✔) METANOIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang