"Semua bisa berubah kapanpun, dimanapun, dan atas alasan apapun."
***
"Assalamualaikum."
Zaky mengetuk pelan pintu ruangan guru baru kemudian masuk. Ia sedikit tersenyum saat seseorang yang akan ditemuinya menatapnya.
"Kamu udah disini ternyata." Surya menaruh beberapa kertas yang tadinya tengah ia baca. "Duduk, Zaky."
"Ada apa ya, Pak?"
Surya menautkan jarinya. "Jadi, gimana soal persiapan pensi bulan depan? Semuanya udah oke?"
Zaky menggaruk tengkuknya. "Belum, Pak." jawabnya dengan kekehan pelan. "Masih ada beberapa hal yang belum siap."
"Loh? Pensinya itu kurang lebih seminggu lagi loh. Kamu tau kan kalo acaranya diadakan awal bulan? Jangan kamu kira saya ngomong bulan depan berarti tiga puluh hari mulai dari sekarang." omel Surya.
"I-iya Pak."
"Kalian ngapain aja pas rapat kemarin? Kok masalah pensi yang udah dari bulan lalu belum selesai-selesai juga." Surya menautkan alisnya. "Oh iya, osis baru rekrut anggota baru, kan? Harusnya bisa lebih produktif dong!"
"Justru itu, Pak! Karena anggotanya masih baru, makanya mereka masih suka main-main. Gak kayak anggota osis sebelumnya yang lebih produktif." timpal Zaky.
"Jadi, kamu mau nyalahin siapa? Pembina osis? Mau nyalahin saya, iya?"
Zaky hanya bisa diam. Dirinya benar-benar tidak akan bisa menang jika beradu debat dengan Surya. Bisa-bisa nilai mata pelajaran Kimia Zaky berkurang.
"Kamu kan ketua osis! Seharusnya harus bisa lebih mengkoordinir anggotanya dong. Jangan malas-malasan mulu!" Omel Surya.
"Hushh bapak, jangan marah-marah lah. Nanti cepet tua. Kalo bapak jadi tua, terus keriput, ntar ga ada yang mau jadi istri bapak." jawab Zaky.
Surya langsung duduk dengan tegak. Matanya menatap Zaky intens. "Emang iya? Saya udah keriput ya?" ucap Surya sambil meraba wajahnya.
Zaky tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang sih belum, Pak. Tapi kalo bapak marah-marah terus, nanti muncul kerutan tuh disini." ucap Zaky sambil menunjuk ujung matanya. "Terus disini." lanjutnya sambil menunjuk keningnya.
Surya bergidik ngeri. "Ihhh. Yaudah kamu aja yang urus masalah pensi, pokoknya semuanya saya serahkan ke kamu. Saya cuma nerima hasilnya aja. Pokoknya acara ini harus perfect! Saya gak mau pusing-pusing mikirin acara pensi ini, nanti muka saya keriputan!"
Zaky langsung berdiri lalu memberikan gestur hormat pada Surya. "Siap, Pak!" ucapnya sambil tersenyum lebar.
"Ingat, kalo acaranya gak sesuai sama ekspektasi saya, nilai Kimia kamu jadi B!" lanjut Surya yang membuat senyum di wajah Zaky luntur seketika.
***
Zaky membuka kasar pintu ruangan osis yang langsung dihadiahi tatapan keheranan dari Dewa yang sedari tadi tengah sibuk dengan beberapa kertas di tangannya. Laki-laki itu duduk di kursi lalu mengusak kasar rambutnya frustasi.
"Lo kenapa lagi?" tanya Dewa seakan-akan sudah sangat malas dengan pertanyaan yang ia lontarkan itu.
"Masalah pensi." jawab Zaky singkat. Bahkan matanya tidak melirik ke arah Dewa sedikitpun. Ia menautkan jarinya lalu menopang dagunya dengan kedua tangan sedang matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong.
"Apa perlu gue yang ngambil alih masalah pensi ini? Kayaknya lo tiap hari tambah frustasi aja."
Zaky menggeleng cepat. "Nggak! Gimanapun juga, ini tugas gue, apalagi Pak Surya emang kasih amanat ini buat gue." tolak Zaky.
Dewa mendengus pelan lalu tersenyum kecil. "Yaudah, kalo gitu pulang sekolah nanti gue bakal kumpulin anak osis buat bahas soal pensi ini. Rapat kemaren gue rasa gak berguna sama sekali. Lo sibuk ngoceh sementara anggota lainnya cuma nyimak doang dan ga ada niat buat kasih pendapat atau ide mereka." cibir Dewa sambil terkekeh kecil.
Mendengar hal tersebut, Zaky ikut tersenyum kecut. "Akhirnya belum ada keputusan yang fiks. Rapat kemarin emang bener-bener ngabisin waktu doang, gak guna!" Ucapnya lalu tertawa.
Zaky jadi teringat dengan perkataan Kinan kemarin saat dirinya mendatangi gadis itu ke kelasnya.
"Ohh, jadi gini ya sistem kerja di osis? Kalo gak hadir dalam rapat, anggotanya dihukum? Meskipun rapatnya gak guna gitu?"
Zaky mulai kesal mendengar perkataan Kinan. "Gak guna lo bilang?!" tanpa sadar suaranya sedikit meninggi.
Ia merasa benar-benar bodoh saat itu. Membela rapat osis yang sebenarnya memang 'gak guna'.
"Ngapain lo ngelamun? Kerja, kerja!" teriak Dewa di depan wajah Zaky lalu kembali duduk di tempatnya semula.
***
TING!!!
Sebuah pesan masuk. Kinan yang tadinya sedang sibuk membereskan pelaratan belajarnya hanya melirik sekilas. Guru mata pelajaran masih ada di hadapannya, jadi tidak mungkin ia akan mengecek handphonenya sekarang.
Setelah guru tersebut pergi meninggalkan kelas, Kinan berjalan berdampingan dengan Karin sambil mengecek pesan yang masuk. Matanya membulat seketika begitu membaca pesan tersebut.
"Kenapa, Nan?" tanya Karin penasaran. Tubuhnya juga agak dicondongkan untuk melihat apa yang ada di handphone Kinan.
"Lo ada rapat osis hari ini?"
Kinan mengangguk pelan. "Kayaknya hari ini kita gak jadi lagi ke toko bukunya."
"Yaudah gapapa. Tapi Kinan, lo tau gak, rapat osis nanti mau bahas soal apa?"
"Gue juga gak tau sih, soalnya ini rapat osis pertama gue. Yang kemarin kan, gue gak ikut."
Karin mengangguk mengerti. "Yaudah deh, kalo gitu gue duluan. Tapi—" Karin menggantung kalimatnya. Matanya menatap ke arah Kinan yang sekarang tengah kebingungan.
"Tapi kenapa?"
"Soal pertanyaan gue yang kemarin..." Karin memegang kedua bahu Kinan. "Gue udah setuju jadi MC-nya dan lo juga harus setuju buat jadi performer." setelah mengucapkan kalimat tersebut, Karin berlalu dari hadapan Kinan.
"Performer buat acara apa?"
Kira-kira Kinan bakal jadi performer di acara apa???
Oke, gue udah mutusin. Soal gimana kelanjutan dari wattpad ini. Gue bakal tetap lanjutin ceritanya, dan gak akan unpublish!!!!
Secepatnya gue juga bakal tamat-in ceritanya. Maybe sampe chapter 30 udah selesai.....
See you soon.
Gue bakal cepet update!!
KAMU SEDANG MEMBACA
(✔) METANOIA
Teen Fiction"Kakak gak ada kerjaan banget ya. Gak bisa berhenti gangguin aku? Salah aku apa sama kakak?" "Masih nanya salah lo apa. Mau gue kasih tau ke semua orang kalo lo itu cewek mesum?" Highest rank : #10 in putih #11 in abu # 6 in abu # 5 in abu # 4 in abu
