24. Terakhir Kali

543 22 0
                                        

"Ada apa?"

Kinan menatap datar ke arah Dio yang masih menunduk di hadapannya. Sudah lebih dari sepuluh menit mereka duduk berhadap-hadapan tanpa pembicaraan sedikitpun.

"Gue mau minta maaf."

Kinan menghela napas. "Ini udah yang kesekian kalinya lo minta maaf sama gue. Lo masih belom sadar juga ya? Emang lo ngerasa pantas dapetin maaf dari gue?" Kesal Kinan.

"Justru itu!" Dio mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk menatap gadis dihadapannya itu. "Justru karena gue merasa gak pantas buat dapat maaf dari lo, makanya gue ada disini. Gue bener-bener nyesal atas apa yang udah gue lakuin dulu."

Kinan memalingkan wajahnya mencoba menahan air mata.

"Gue tau gue salah, gue tau gue emang bodoh, gue tau..., tapi gue mohon tolong sekali ini aja lo maafin gue."

Dio menggenggam tangan Kinan lalu menunduk. Air matanya tumpah, menunjukkan seberapa besar rasa penyesalannya.

"Gue mohon maafin gue. Gue ga akan ganggu lo lagi. Jadi please, maafin gue Kinan." Punggung Dio semakin bergetar.

Air mata yang sedari tadi Kinan coba untuk tahan, akhirnya jatuh juga. Rasa sakit yang selama ini ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya kini kembali dikorek.

"Gue dengan bodohnya selingkuh di belakang lo disaat gue udah punya cewek terbaik disisi gue. Kinan tolong maaf—"

Kinan berteriak kencang saat kerah Dio ditarik kuat lalu sebuah pukulan melayang mengenai pipi Dio.

"Dio!"

Sebelum tangannya berhasil menyentuh Dio yang kini tergeletak di tanah, tangannya lebih dulu ditahan oleh Zaky yang menatap Dio penuh amarah.

"Cowok bangsat! Lo masih berani muncul di depan Kinan setelah apa yang lo lakuin? Lo sadar ga sih, anjing?!" Teriak Zaky.

Kinan menahan tangan Zaky yang ingin kembali melayangkan pukulannya.

"Udah Kak, jangan!" Tangisnya bertambah kencang melihat darah yang keluar dari sudut bibir Dio.

"Woy Zaky! Lo udah gila ya?!" Gilang dan Dewa yang melihat kejadian tersebut langsung berlari dan membantu Dio berdiri.

"Tuh orang yang udah gila! Ngapain lo masih disini? Mau sekalian gue abisin?"

Dio meloloskan lengannya dari genggaman Dewa dan Gilang. "Gue gapapa, kak. Makasih. Gue cabut dulu." Sambil memegangi pipinya yang masih terasa ngilu, Dio berjalan menjauh dari taman.

Zaky menghela napasnya frustasi sambil berteriak. Matanya menatap bergantian ke arah Dewa dan Gilang. Keduanya yang mengerti langsung pergi dari taman menyusul Dio untuk membantunya.

Zaky memegang kedua bahu Kinan yang masih berdiri di depannya sambil menangis. "Lo gapapa?" Tanya Zaky khawatir.

Gadis itu menggeleng sebagai jawaban. Air matanya masih terus mengalir melalui pipinya.

Zaky menggigit bibir bagian bawahnya lalu tanpa aba-aba langsung memeluk Kinan erat. Gadis itu pasti masih merasa shock atas apa yang baru saja terjadi. Ia benar-benar kehilangan kontrol begitu tanpa sengaja mendengar percakapan keduanya. Hatinya merasa panas dan marah apalagi saat melihat Kinan mulai meneteskan air matanya. Laki-laki itu memang benar-benar brengsek.

"Maafin gue udah bikin lo takut. Gue lepas kendali begitu liat lo nangis gara-gara cowok brengsek itu. Maafin gue." Zaky mengelus pelan kepala Kinan untuk membantu menenangkan gadis itu.

Kinan sedikit mengangguk di dalam pelukan Zaky. Setidaknya pelukan itu bisa sedikit membuatnya merasa nyaman.

***

"Lo beneran baik-baik aja?" Tanya Aya begitu selesai mengobati Dio.

Dio tersenyum sekilas lalu mengangguk. Di hadapannya juga berdiri Dewa yang menatapnya sama khawatirnya dengan Aya. "Beneran kak gue gapapa." Ucap Dio lalu terkekeh melihat ekspresi Dewa.

Dewa tersenyum sekilas lalu menghela napas. "Maafin Zaky ya, ga biasanya dia mukul orang kayak gitu. Kalo pak Surya tau, bisa gawat nih."

"Gapapa kak, lagian gue-nya yang salah. Gue pantes kok dipukul kayak gitu." Jawab Dio sambil berdiri dari kursi yang ia duduki. "Gue cabut ke kelas dulu deh. Bye kak!"

Setelah Dio pergi Dewa duduk di kursi yang sebelumnya Dio duduki lalu kembali menghela napas.

"Loh? Dia pergi kemana?" Tanya Aya yang baru kembali dari mencuci tangan.

"Balik ke kelas." Jawab Dewa singkat.

Aya berjalan mendekat ke arah Dewa lalu duduk di sebelahnya. "Lo kepikiran soal Zaky? Udah gapapa, anaknya emang agak bandel." Ucap Aya lalu terkekeh.

"Iya ya?"

Aya mengangguk. "Dulu pas SMP, Zaky emang sering keluar-masuk ruang BK. Baru pas SMA dia dapet pencerahan dan jadi ketua osis." Lanjut Aya.

"Jangan terlalu dipikirin, ya? Nanti lo sakit." Ucap Aya sambil menepuk pelan bahu Dewa.

Dewa yang tadinya masih menunduk, langsung mengangkat kepalanya. Matanya langsung terarah ke arah Aya yang sedang tersenyum sambil tetap menepuk pelan bahunya.

"Tenang aja, nanti tuh anak gue laporin ke Bunda biar dimarahin!"

Laki-laki itu terkekeh. Tangannya terulur lalu mengacak pelan rambut Aya. Mulutnya terbuka, namun sedetik kemudian kembali tertutup.

"Kenapa?" Tanya Aya bingung. Gadis itu tahu, pasti ada suatu hal yang ingin Dewa bicarakan.

Dewa menggeleng. "Nggak, gapapa. Ke kelas, yuk?"

Kok aku ngerasa part ini pendek sih?
Kalian gitu juga nggak? 😂

(✔) METANOIACerita yang bikin terobses. Temukan sekarang