Kembali lagi ator disinii!!! Yeay, bisa lanjut dan memang saya senang jika bisa lanjut seperti ini padahal sudah 6 part namun di waktu Boruto hanya 2 hari! Baru sadar saya. Mungkin ada yang akan saya lompat2 saja waktunya supaya lebih simple ceritanya. Yosh langsung saja Happy reading!!
Previous
"Kau memang pintar! Timing yang tepat sepertinya setelah pulang sekolah ya."
"Ya, dan hari ini bertepatan kita piket kelas. Biasanya inchou suka mengawasi sebelum semuanya selesai. Jadi setelah sudah pulang semua baru kau minta, aku akan menunggumu di luar." Shikadai melempar senyum untuk lebih meyakinkan Boruto, sebagai langkah awalnya. 'Mungkin beberapa tips lain kali saja', pikirnya.
"Oh iya, kau tidak membeli makanan? Tinggal 10 menit lagi istirahatnya." Bertanya dan menjelaskan situasi, setelah berdiskusi dengan Boruto kurang lebih 10 menit juga ternyata cukup menyita waktu namun Shikadai berpikir Boruto teman yang cukup enak diajak mengobrol.
"Benar juga, tinggal kita berdua dalam kelas, aku baru sadar. Kalau begitu ayo beli sesuatu!" Ajak pemuda kuning.
.
.
.
Pada jam istirahat yang sama Sumire bersama dengan Sarada dan Cho Cho sedang duduk pada bangku yang terdapat di kantin sekolah. Mereka mengobrol sambil menyantap makanan yang dibeli diatas meja. Setelah bercengkrama cukup lama, Cho Cho membuka pembicaraan baru.
"Nee inchou, bagaimana menurutmu tentang anak baru itu?" Tanya Cho Cho dengan nada menggoda.
"Ma..maksudmu Boruto-kun?" Sambil dengan nada gugup Sumire menjawab.
"Ya tentu sajaa...memang siapa lagi hmm?" Cho Cho justru makin menggodanya.
"I..itu aku t..tidak ingin membicarakannya." Nada lelah keluar dari mulut gadis ungu, seperti ingin mengelak dari pertanyaan Cho Cho.
"Hei, katakan saja ayolahh..." Masih bersikeras Cho Cho bertanya, Sarada yang sedari tadi Nampak diam mulai mengerti keadaan Sumire.
"Cho Cho! Sudahlah, kau tidak lihat Sumire seperti kelelahan? Apalagi kau tahu 'itu' kan?" Sarada cukup mengkhawatirkan Sumire karena dulu gadis ungu ini pernah mengalami masa-masa pilu yang hanya mereka bertiga saja yang tahu.
"Kau kenapa Sarada aku kan masih...." Ketika ingin bertanya lebih jauh lagi dia melihat Sumire yang nampak tidak ingin menjawab lantaran hal 'itu' sepertinya masih menghantuinya.
"Oh..maafkan aku inchou." Cho Cho menyadari kesalahannya lalu dengan nada sendu dia meminta maaf. Tapi pernyataan Sumire yang selanjutnya membuat Sarada dan Cho Cho membulatkan matanya.
"Ngg..tidak apa-apa Cho Cho aku baik-baik saja. Tapi jika soal Boruto-kun..." Setelah itu Sumire mulai bercerita. Tidak memperhatikan kedua temannya yang sedang menganga itu.
.
.
.
Bel pulang berbunyi dan seperti kebiasaan murid lainnya, yaitu pulang kecuali jika masih ada urusan atau kegiatan klub dan lain-lain. Boruto yang belum membereskan tasnya didatangi oleh Shikadai.
"Oi Boruto, kau masih ingat kan tentang tadi?" Memastikan sesuatu. Boruto hanya mengangguk.
"Ya, tentu saja!" Dijawab mantap oleh Boruto.
Seperti biasa Sumire menjalankan tugasnya sebagai ketua kelas, menjaga piket kelas supaya tidak ada yang kabur tentunya. Boruto dan Shikadai hanya membersihkan kelas secara biasa, murid lain yang piket ada yang menghapus papan tulis dan ada juga yang merapikan meja kursi. Setelah semua selesai, Shikadai keluar kelas karena dia hanya perlu menunggu Boruto sampai Boruto berhasil. Menurutnya pemuda kuning itu harus mendapat sendiri informasi kontak milik perempuan, jika tidak bisa ya bukan laki namanya, iya kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Lady
Storie d'amore[COMPLETED] Boruto yang sepertinya mulai mengenal dengan yang namanya cinta//Sumire yang memiliki sedikit trauma terhadap laki-laki.// Sebuah cerita buatan from my idea. Sorry jika ada salah-salah My first Story. END!!
