Kabar

776 47 1
                                        


Previous


"Hihihi, Boruto-kun memang lucu sekali. Itulah yang kusuka darimu." Tangan gadis itu terangkat untuk mengusap air mata yang keluar dari pipi pemuda itu.

"Rasanya diriku tidak keren sama sekali didepanmu, Sumire."

"Tidak apa-apa, kau boleh menangis didepanku kapanpun, Boruto-kun." Tangannya masih menghapus air mata tersebut, mereka saling menatap satu sama lain. Biru bertemu ungu, jarak wajah mereka hanya kurang dari tiga puluh senti. Bukannya menjauh, keduanya malah mendekat sampai kedua bibir itu terkunci rapat diantara mereka. Bersamaan dengan meletusnya kembang api.

.

.

.


"Wah...kita sampai lupa kalau ada hanabi depan kita, hahaha"

"Tadi yang 'memulai' duluan siapa?"

"Eh? Tapikan kau tidak menolak, Sumire. Jadi bukan salahku juga dong"

"Aku bermaksud begitu supaya Boruto-kun tidak kecewa tahu" dibarengi dengan semburat merah tipis diwajahnya.

Lalu mereka berdua tertawa bersama, mereka masih di atap sekolah waktu itu. Waktu menunjukkan pukul 8.10 , yang mana itu artinya acara hanabi atau kembang api sudah selesai. Mereka masih menetap disana sambil menikmati semilir angin malam yang menerpa wajah mereka.

"Jadi...kita sudah menjadi...sepasang kekasih?" Sumire hanya ingin memastikan apakah ini mimpi atau bukan, dia tadi juga sudah sempat mencubit tangannya sendiri.

"Huh? Apa maksudmu? Tentu saja, inchou" Boruto hanya berkata seperti itu dengan nada santai.

Gadis itu menelan ludahnya sendiri, entah kenapa dia melakukan itu, "Apa Boruto-kun akan selalu berada di sisi ku?"

"Eh..?" Boruto nampak kurang mengerti dengan konteks 'di sisi ku' yang dimaksud gadis itu, apa itu artinya 'selalu berada disampingnya' atau 'selalu ada dimanapun dia membutuhkannya'. Dan Boruto lebih mengambil paham kedua yaitu 'selalu ada dimanapun dia membutuhkannya'.

"Ya! Aku akan selalu berada di sisi mu!"

Dan jawaban pemuda kuning itu sukses membuat hati gadis itu menghangat, dan untuk konteks yang dipikirkan Boruto tadi sepertinya pemuda itu dengan benar memahami konteks tersebut. Selalu ada disaat membutuhkan adalah pemikiran yang dipikirkan juga oleh gadis itu.

"Apa kau berjanji, Boruto-kun?" Sumire lalu mengulurkan tangan kanannya dan menunjukkan kelingking. Boruto tertegun, dan mulai tersenyum dan membalas uluran tersebut.

"Oke! Dan janji ini juga berlaku untukmu ya"

Gadis bersurai ungu itu mengangguk seraya mengaitkan kelingking mereka. Sesaat kemudian, pemuda kuning tersadar akan sesuatu.

"Oh iya Inchou, kau tidak pulang? Ini sudah malam jadi kuantar ya"

.

.

.

Saat sampai rumah setelah mengantar gadis itu pulang, Boruto masuk dan menuju dapur untuk mengambil minum karena haus. Tapi diruang tengah pemuda itu dipertemukan oleh ayahnya yang sudah menunggu dirinya. Dan dilihat dari ekspresi ayahnya, pemuda kuning merasa ada hal tidak enak yang akan terjadi.

"Yo, Boruto. Bagaimana festivalnya? Berjalan lancar?" Naruto memang tidak datang ke acara tersebut karena masalah pekerjaan, yah Boruto bisa mengerti itu.

Sweet LadyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang