Yuuhu! Ator balik lagi neh...part kali ini mungkin agak terasa spesial [bagi ator sendiri...gatau kalau kalian] karena akan beberapa flashback. Dan part ini juga aku nulisnya agak banyak dari biasanya [hore!!] okay tanpa basa basi langsung saja Happy Reading!
Previous
"Baiklah...Jadi begini,"
Sumire masih diam.
"Aku akan pindah rumah pada hari Jumat besok ke Suna"
.
.
.
"Aku akan pindah rumah pada hari Jumat besok ke Suna"
Boruto masih duduk pada kursi belajar miliknya, namun kali ini dalam keadaan menunduk, tidak berani menatap lawan bicaranya. Meskipun suara yang dikeluarkan tadi bersifat tegas, namun juga sedikit terdengar parau.
Sedangkan Sumire yang menatap Boruto sedikit tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Gadis itu sedikit menahan nafas akibat terkejut, lalu mencoba memastikan. "Boruto-kun, serius?"
Kepala kuning yang masih menunduk memberikan gestur mengangguk pelan pertanda memang benar apa yang baru saja didengarnya, mata gadis itu membulat lalu dengan perlahan mulai menunduk.
"Sampai kapan Boruto-kun berada di Suna?"
Pemuda itu masih menunduk, diam seperti mencari jeda nafas yang sesuai untuk memberikan jawabannya.
"...8 tahun"
Melebarkan matanya lagi, namun kali ini disertai dengan air yang mulai keluar dari matanya. Boruto bisa mendengar itu, hal yang paling dia cegah hingga saat ini, membuatnya menangis. Sumire masih menangis, bahkan tangannya sudah mulai menghapus air mata yang berjatuhan. Di sela-sela tangisannya tiba-tiba dia merasakan hangat, kepala ungunya terangkat dan dapat dia rasakan pelukan pemuda itu. Boruto memeluknya dari samping, melingkarkan tangannya pada leher ramping milik sang gadis, namun Sumire tidak bisa melihat wajah pemuda tersebut karena kepalanya yang berada dibagian pundak belakang.
"Aku juga sangat kaget waktu itu..."
"...padahal malam itu adalah malam dimana aku menyatakan perasaanku padamu"
Gadis itu memilih diam disertai sesegukan.
"Touchan mendapat tugas mengurus proyek yang berada di Suna. Katanya tidak ada orang sebaik Touchan yang bisa menduduki jabatan tersebut, jadilah dia yang terpilih"
Boruto masih memeluk gadis itu.
"Aku awalnya marah kepada Touchan karena tidak tahu apapun, tapi Kaachan bilang Touchan sempat protes karena kita juga masih baru tinggal disini, namun..."
Diam. Gadis itu paham. Tangannya terangkat, mengelus kepala kuning itu lembut. Tangisannya sudah berhenti meskipun masih ada bekas air mata.
"Aku paham Boruto-kun" Gadis itu mencoba tersenyum, meski berat. Dan dapat dia rasakan pelukan pemuda itu semakin erat.
"Kalau memang sudah begitu, mungkin ini adalah takdirnya, Boruto-kun" Kali ini tangannya menarik kepala kuning tersebut agar pemuda tersebut dapat menatapnya.
"Aku justru sangat berterima kasih kepadamu, Boruto-kun selalu baik kepadaku, laki-laki pertama yang tidak terpengaruh dengan traumaku. Aku juga ingin Boruto-kun nanti tidak melupakanku." Tangan itu kini mengelus dua garis pipi Boruto. Pemuda tersebut yang awalnya tidak menitikkan air mata, barulah keluar setelah mendengar penuturan gadis ungu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sweet Lady
Romance[COMPLETED] Boruto yang sepertinya mulai mengenal dengan yang namanya cinta//Sumire yang memiliki sedikit trauma terhadap laki-laki.// Sebuah cerita buatan from my idea. Sorry jika ada salah-salah My first Story. END!!
