"Sena!"
Melihat dirinya terbangun di kamarnya sendiri, ia pun menghela napas.
Ah mimpi....
Ia lantas mengusap wajahnya kemudian turun dari ranjang, berniat ke dapur mengambil minum. Mimpi itu terasa sangat nyata. Ini memang bukan pertama kalinya dia bermimpi buruk, tapi ini adalah pertama kalinya mimpi buruk itu terasa sangat-sangat nyata. Sena ... ah, Yoongi tak mau mengingatnya. Lebih tepatnya jangan diingat-ingat lagi. Bagaimana kalau mimpi itu jadi kenyataan?
Yoongi langsung berhenti dan menggeleng cepat. Tidak, tidak, jangan pernah membayangkannya.
Saat dia akan melanjutkan langkahnya. Tidak sengaja matanya mendapati siluet tak asing di dapur. Matanya menyipit seiring dengan presensinya yang makin mendekati dapur.
"Yoonjung? Belum tidur?"
Yoonjung terkesiap layaknya pencuri yang tertangkap basah sebelum menghela napas. Ia menggeleng, menjawab pertanyaan ayahnya. "Aku mimpi buruk."
Yoongi pun duduk di hadapannya. Mengambil satu gelas plastik, mengisinya dengan air lalu meneguknya habis. "Mimpi tentang apa?"
"Jimin ... dia—"
"Ssstt, tidak usah diceritakan."
Kedua mata Yoonjung tampak mulai berkaca-kaca. "Tapi bagaimana kalau itu jadi kenyataan?"
"Jangan coba-coba membayangkannya. Nah, minum. Setelah ini tidur lagi." Yoongi dengan tenangnya mengisi gelas Yoonjung hingga penuh. Menatap kedua manik sang putri yang berkilauan saat Yoonjung tak kunjung meminumnya.
"Jangan dibayangkan, jangan merasa takut. Kalau kau tidak mau mimpi itu menjadi kenyataan, abaikan."
Yoonjung lantas menyeka kedua matanya. Kemudian menatap Yoongi. "Aku takut tidur lagi. Appa temani aku, hm?"
Yoongi mengangguk disertai senyum tipisnya. "Hm. Cepat habiskan airnya."
Yoonjung adalah anak pintar yang langsung melaksanakan apa yang disuruh orangtuanya. Dia menghabiskan air di dalam gelasnya. Sedangnya di sisi lain Yoongi tengah menatapnya penuh arti.
Apa mungkin mimpi kami berkaitan?
Setelah menghabiskan minumnya, mereka pun pergi ke kamar Yoonjung. Gadis remaja itu dengan manjanya meminta digendong. Ia bertengger seperti koala dengan kepala bersandar di dada bidang sang ayah. Bahkan saat sudah berbaring pun, dia tidak mau terlepas seinchi pun dari Yoongi sehingga mereka terus berpelukan sampai pagi.
Dan pagi itu, apa yang berusaha mereka abaikan pun menjadi kenyataan.
—
"Hiks."
Suara isakan itu seolah alarm yang membangunkan si raja tidur, Park Jimin. Dia adalah tipe orang yang akan langsung terbangun untuk mematikan alarm dan tidur lagi, tapi kali ini, saat dia terbangun, dia tidak bisa tidur lagi karena dirinya kemudian menyadari jika ia tidak memakai sehelai kain pun di ranjang itu.
Tunggu.
Dia telanjang dan....
"Hiks."
Jimin langsung terduduk dengan mata membola lebar. Sekali lagi ia melirik tubuhnya di bawah selimut sebelum menoleh pada asal suara isakan tersebut.
"T-t-tunggu ... k-k-kenapa aku ... nuna—situasi macam apa ini?!" Jimin berteriak frustasi. Pikirannya mendadak berantakan. Kenapa dia dalam kondisi seperti ini? Kenapa Sena menangis? KENAPA MEREKA BERAKHIR DI RANJANG YANG SAMA?!
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Parent [myg]
FanfictionSUDAH TERSEDIA DI GOOGLE PLAY STORE Kau tahu bagaimana sulitnya mencintaimu yang bahkan pantas kupanggil sebagai ayah?
![Single Parent [myg]](https://img.wattpad.com/cover/118101685-64-k693409.jpg)