44

1.3K 189 7
                                        

Yoongi kurang bersemangat hari itu. Setelah mengantar Yoonjung ke tempat kursusnya, dia pergi ke kantor. Itu pun terpaksa karena ia harus menghadiri meeting penting. Begitu meeting berakhir, dia langsung pergi ke rumah orangtuanya. Berharap dengan mengobrol dan meminum soju bersama ayah dan ibunya, perasaannya akan sedikit lebih baik.

Nyatanya, soju justru membuat semuanya makin parah.

Hanya satu yang dia inginkan.

Sena.

Tubuhnya limbung ke dalam pelukan Sena sesaat setelah pintu apartemen yang selalu dikunjunginya itu terbuka. Entah kenapa, rasanya seperti baru saja pulang ke rumah. Dia merasa nyaman dalam pelukan wanita muda yang terus bertanya 'ahjussi baik-baik saja?'. Kepalanya terlalu pusing untuk menjawab dengan anggukan, tapi senyumnya mengembang saat mencium aroma tubuh Sena, rasanya seperti sedang melayang di langit ke tujuh.

Matanya berkedip lambat. Dia tidak sadar kapan Sena membopongnya, tahu-tahu dia sudah duduk di sebuah sofa, sendirian.

"Sena! Sena!"

Samar-samar dia bisa mendengar suara Sena, tidak yakin apa yang dibicarakannya, tapi Yoongi tahu Sena sedang tidak berada di dekatnya.

"Jangan tinggalkan aku sendirian! Yaa!"

Sena yang sedang membuat minuman pereda mabuk di dapur tampak terburu-buru. Sejak awal mengenal Yoongi dia tidak pernah sekalipun dihadapkan pada kondisi mabuk pria itu, dan sekarang, dia bingung harus bagaimana karena Yoongi tidak biasanya berteriak padanya.

Alhasil karena Yoongi berteriak semakin keras, dia pun mempercepat pekerjaannya dan membawa minuman pereda mabuk itu pada Yoongi.

"Kemana saja kau ini?! Jangan jauh-jauh dariku! Bagaimana kalau sesuatu terjadi padamu dan aku tidak tahu? Duduk saja di sampingku! Diam di sini."

Beruntung Sena sudah duluan menaruh minuman pereda mabuk itu di atas meja sebelum Yoongi menariknya paksa untuk duduk kembali di samping pria itu, jika tidak, mungkin minuman itu akan membuat pakaian mereka basah.

"Jangan kemana-mana ... jangan tinggalkan aku sendiri ... aku takut...."

Yoongi membuat Sena bingung. Pasalnya, baru beberapa detik lalu Yoongi marah-marah seolah ingin membunuhnya, dan sekarang tiba-tiba merengek seperti anak kecil yang meminta kasih sayang orangtuanya.

Setahunya, berdasarkan apa yang dilihatnya di drama, orang dewasa yang tidak biasanya minum dan tiba-tiba minum, itu artinya dia sedang mengalami suatu masalah. Jadi, apa Yoongi sedang ada masalah sehingga dia minum dan berakhir seperti saat ini? Masalah sesulit apa yang tengah dihadapinya itu?

Kedua alisnya terangkat saat Yoongi tiba-tiba menoleh. Ciuman secepat kilat di pipinya sukses membuat matanya membola. Dia langsung menyentuh bekas ciuman itu sambil menatap Yoongi tak mengerti.

"Ahjussi...."

"...aku merindukanmu...." Satu kalimat itu akhirnya terucap, setelah beberapa menit hanya terdiam, dengan mata sayunya yang tak hentinya mengabsen setiap titik wajah Sena.

"A-ahjussi...." Pipi Sena mulai memerah. Dia pun memilih melihat kakinya daripada membalas tatapan Yoongi. "Ke-kemarin kita sudah bertemu...."

"Hm. Padahal baru sehari, tapi aku sudah sangat merindukanmu sampai rasanya sulit sekali untuk bernapas."

Sena kembali melihat wajah sayu Yoongi dalam jangkauan pandangnya. Satu pertanyaan yang muncul di pikirannya, kenapa kekasihnya begitu lelah dan sedih?

"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya lembut. Dia berusaha untuk tidak kelihatan memaksa, meski hatinya ingin. Tangannya membelai pipi Yoongi yang terasa agak hangat.

Single Parent [myg]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang