chapter ini khusus untuk pemain pendukung. Jadi pemain utama (Sena, Yoongi, Jimin, Yoonjung), nggak ada di sini.
btw, ini ff pertamaku yang views-nya udah diatas 10K. dan dapet rangking #799 yeay! Thanks semuanya :*
bacain juga work-ku yang baru ya ^_^
ngomong-ngomong, aku berencana bikin novel K-fiction yang targetnya kukasih ke penerbit tahun ini. Masih bentuk kerangka sih, belum dibikin ceritanya. Nah, aku lagi memilih 7 pembaca yang sering banget ngasih komen mendukung di semua ceritaku untuk kujadikan 'oknum' pembaca selama bikin novelnya, soalnya aku nggak punya motivasi kalau ngga ada yang baca T^T DAAAN!! ceritanya nggak akan ku post di wattpad atau blog karena biar original dikasih ke penerbit mayornya.
***
"Abeoji."
Sehun yang sedang serius dengan laptopnya, mau tak mau menoleh pada asal suara. Hanya sekilas, itu pun tanpa ekspresi. "Wae?"
"Beritahu aku, apa sebenarnya yang ada dalam pikiranmu?"
Sehun masih terlihat tenang mengetik sesuatu di laptopnya. "Kau menggangguku kerja. Enyahlah."
Taehyung tersenyum miring. "Abeoji, kau tahu pasti apa maksud pertanyaanku."
Kali ini Sehun tak memberikan respon apa pun. Taehyung mendengus tak percaya. Sementara Daena dan Jungkook yang sejak tadi memperhatikan, sudah tak bisa menutupi rasa penasaran mereka lagi.
"Ada apa, Taehyung?" tanya ibunya.
Taehyung menatap lurus pada ayahnya. "Aku hanya ingin tahu, apa sebenarnya yang ada di pikiran ayahku ini yang baru saja merenggut masa depan putrinya sendiri. Kenapa dia tega menghancurkan masa depan anaknya sendiri dengan membiarkannya diperkosa? Apa salah Sena? Dan kenapa harus memperalat Jimin? Aku tidak mengerti. Apa dengan melakukan semua itu dia bahagia? Seorang ayah yang kuharapkan bisa menjadi panutanku tak kusangka ternyata adalah orang yang sekejam ini."
Atmosfer di ruangan tersebut mendadak berubah. Tak ada seorang pun dari Daena atau pun Jungkook yang berani angkat bicara. Keduanya terlalu shock mendengar pernyataan Taehyung. Terlebih Daena, yang seolah-olah baru saja ditampar oleh tangan tak kasat mata.
Daena mungkin adalah seorang ibu yang terkesan kasar dan tidak peduli pada anak perempuannya, tapi jauh di lubuk hatinya dia tidak pernah sekalipun mengharapkan Sena dirusak seperti yang terjadi padanya dulu.
"Apa maksudmu melakukan itu, Abeoji? Kalau kau membenci Min Yoongi, bukan berarti harus dengan menghancurkan anakmu sendiri!"
Sehun tiba-tiba menutup laptopnya hingga terdengar bunyi "TAK" yang menggema. Kemudian ia melipat kedua lengannya di dada, menatap Taehyung datar.
"Aku tidak suka orang lain ikut campur urusanku."
"Orang lain? Hah! Pelakunya adalah ayahku sendiri, korbannya adalah kakak dan temanku, jadi aku bukanlah orang lain di sini. Aku punya hak untuk ikut campur."
"Hm." Sehun mengangguk-angguk santai. "Jadi, apa yang kau inginkan dariku? Mengembalikan keperawanan Sena? Bahkan meskipun kau merekatkan guci yang telah pecah dengan lem terbaik, tetap saja akan kelihatan cacatnya. Aku bukan Tuhan yang bisa mengeluarkan sperma Jimin dari rahim Sena."
Taehyung benar-benar marah usai mendengar kalimat terakhir dari mulut Sehun. Ia menarik kerah kemeja Sehun dan bersiap melayangkan tinju. Mungkin dia akan mendapatkan dosa besar karena memukul orangtua andai saja Daena tidak datang dan memisahkan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Parent [myg]
FanficSUDAH TERSEDIA DI GOOGLE PLAY STORE Kau tahu bagaimana sulitnya mencintaimu yang bahkan pantas kupanggil sebagai ayah?
![Single Parent [myg]](https://img.wattpad.com/cover/118101685-64-k693409.jpg)