Bayangan tentang Jimin yang begitu kejam dalam mimpinya semalam terus menghantuinya. Terlebih didukung dengan absennya Jimin, Sena dan Taehyung hari ini. Dia semakin takut jika mimpinya menjadi kenyataan.
Tapi, bukankah di pesan tadi Jimin baik-baik saja? Maksudnya, kekasihnya itu masih pergi kerja bahkan lembur. Kemungkinan, alasan ketiga temannya tidak masuk hari ini berbeda. Ya, setidaknya hal itu bisa membuat Yoonjung lebih tenang. Kesimpulannya, mimpi tadi malam, hanyalah mimpi belaka.
"Min Yoonjung. Min Yoonjung."
"A-ah, ya, Seonsaengnim?"
Kim Seokjin, wali kelasnya yang kedapatan jadwal mengajar hari ini, menghela napas. Ia pun menumpukan ujung penggaris kayu yang dipegangnya di lantai. "Kau sudah lima kali melamun di kelasku, Yoonjung."
Yoonjung secara otomatis memperlihatkan cengirannya. "Maaf, Ssaem. Aku hanya kurang tidur semalam."
Sekali lagi Kim Seokjin menghela napas. Begitu bel istirahat berbunyi, ia pun menaruh penggaris kayu di atas meja, lalu membereskan mejanya. "Min Yoonjung, ikut aku ke kantor setelah ini. Baiklah, kelasku hari ini selesai. Silahkan istirahat. Siang."
"Siang, Ssaem."
Berbeda dari teman-temannya yang mulai bersiap menuju kantin, Yoonjung harus pasrah mengekor Kim Seokjin ke ruang guru untuk menerima interogasi.
Saatnya membuat naskah drama.
—
Rasanya jantung Taehyung ingin melompat keluar dari tempatnya. Demi apa seharian ini dia sudah dikagetkan oleh tiga hal berturut-turut. Pertama, saat di vila keluarganya, dia melihat kakaknya menangis di ranjang dengan tanpa memakai baju apa pun –kecuali selimut. Kedua, saat Yoongi tiba-tiba muncul di depan pintu apartemennya tanpa ada pemberitahuan apa pun. Dan ketiga, ayah dan ibunya berada di dalam lift menuju lantai 3.
Tolong berikan rantai supaya jantung Taehyung tetap berada pada tempatnya.
"Kenapa hanya diam di sana, Taehyung?" tanya ibunya karena dia yang begitu lelet untuk sekadar memerintah kakinya melangkah ke dalam lift. Di sebelahnya, Sehun juga mulai tidak sabaran dengan dirinya.
Taehyung pun menggaruk kepala belakangnya, canggung. Kemudian melangkah masuk. "Ayah dan ibu akan ke apartemen Sena?"
Sehun, entah bisikan malaikat mana, mendahului Daena menekan tombol 'menutup' lift. Tampak Daena yang terpukau, sebelum seulas senyum merekah di wajahnya dan menjawab pertanyaan Taehyung.
"Hm. Kami ingin mengunjungi kalian."
"W-wae?" Taehyung menolehkan kepalanya pada ibunya yang berdiri di tengah, ekspresinya benar-benar tak bisa menutupi kebingungannya.
"Apa maksudmu kenapa? Tentu saja melihat apa kalian hidup dengan baik. Memangnya orangtua tidak boleh mengunjungi anaknya sendiri?"
Taehyung dibuat bungkam. Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba seperti ini? Apakah ayah dan ibunya ini sedang merencanakan sesuatu? Mereka bahkan tidak lagi memberi ia dan kakaknya uang saku selama beberapa bulan terakhir ini, bahkan untuk sekadar menanyakan kabar via ponsel saja tidak. Taehyung jadi takut.
Denting lift pun terdengar. Sehun langsung melangkah keluar diikuti oleh Taehyung dan Daena. Begitu Sehun berhenti, Taehyung lekas mendahuluinya untuk mengetik sandi apartemen. Setelah terdengar bunyi unlock, giliran Taehyung yang memimpin.
"Sepatu siapa ini, Taehyung?"
Taehyung mengarahkan pandangannya menuju sesuatu yang ditunjuk Daena. Kedua mata hazel-nya pun membelalak heboh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Single Parent [myg]
FanfictionSUDAH TERSEDIA DI GOOGLE PLAY STORE Kau tahu bagaimana sulitnya mencintaimu yang bahkan pantas kupanggil sebagai ayah?
![Single Parent [myg]](https://img.wattpad.com/cover/118101685-64-k693409.jpg)