Tidak ada patah hati yang menyenangkan.
Ah, benarkah?
Tapi, mengapa aku lebih suka bermain dalam lingkaran luka hingga aku tak lagi tahu seperti apa wujud bahagia?
Kenapa aku lebih pandai menyembunyikan rasa daripada mengutarakan cinta jika patah hati tak menghadirkan sebuah senyuman?
Ah, mungkin di sini aku yang salah, hingga tak mampu memilah mana senyum kebahagiaan dan seperti apa senyum kepalsuan.
Tapi sebentar, jangan menyalahkanku saat keadaan memintaku bertindak demikian.
Bukankah tidak ada orang yang bersukarela mengakui kejatuhan?
Bukankah tidak ada orang yang dengan mudahnya mengaku lemah hanya karena sudah lelah?
Lalu apa salahnya menyenangi patah hati saat bahagia tak memberiku ruang untuk ku masuki?
Ah, harusnya aku tak terlalu memuja patah hati hingga tak mengizinkan ia dipanggil sebagai luka.
Harusnya aku tak terlalu mengagungkan patah hati hingga menutupi bahagia yang mungkin tak ku sadari.
Ah, memang aku yang selalu salah.
Jika saja aku tidak mencintai dia yang tak mungkin ada di sisi, mungkin patah hati akan menjadi teman terjauh yang tak mungkin mampu ku rengkuh.
Jika saja aku pintar menjaga hati dengan sabar, mungkin luka tak ku temui di setiap langkah yang ku lalui.
Nyatanya, mungkin senantiasa membuatku terseret pada angan-angan berujung kepahitan.
Tak ada yang bisa ku sesalkan, perihal cinta yang ku punya, juga kecewa yang timbul pada akhirnya.
Sebab pada awal yang ku pilih untuk mencintai, telah ku ketahui bahwa luka berpotensi besar sebagai penyambut paling utama.
Kota K, 31 Desember 2017
KAMU SEDANG MEMBACA
Memoar
Poetry[CERITA TIDAK DI PRIVATE] Mari ke sini, biar ku ceritakan bagaimana masa laluku bekerja sampai saat ini. Bagaimana luka setiap hari menyertai bahagia yang baru akan ku nikmati. Tidak masalah, akan ku jalani setiap resah pada rindu yang meminta sudah...
