Banyak typo ya~
***
Millen memarkirkan mobil di pekarangan rumah saat waktu menunjukkan pukul empat sore. Sejak ada Aksen ia memang selalu pulang lebih cepat dari biasanya.
Sepuluh hari berlalu setelah meninggalnya Bella. Itu artinya sudah sepuluh hari pula Aksen tinggal bersamanya. Saat ini Aksen sendiri sudah terlihat ceria kembali.
Setelah bundanya pergi untuk selama-lamanya, Aksen lebih banyak murung dan wajahnya selalu bersedih. Disetiap tidur malamnya ia akan selalu memanggil sang bunda yang nantinya ketika terbangun berujung dengan Aksen yang menangis mengingat bundanya.
Hal seperti itu terjadi hampir satu minggu. Dan untungnya saat ini Aksen sudah tidak seperti itu lagi. Ia sudah kembali menjadi anak yang ceria dan banyak bicara. Tidurnya pun sudah nyenyak seperti biasanya.
Tentu hal tersebut membuat Millen sangat-sangat bersyukur. Ia sangat lega melihat Aksen sudah ceria kembali. Karena jujur saja setiap kali Aksen terbangun dalam kondisi menangis maka Millen pun akan ikut menangis karena tak tega melihatnya dan kembali mengingat Bella.
Namun beberapa hari ini Aksen sudah tidur dengan nyenyak membuat Millen pun bisa tertidur nyenyak.
Sambil mengucapkan salam Millen melangkah masuk ke dalam rumah. Ia mengedarkan pandangan mencari sosok tampan yang biasanya akan langsung berlari ke arahnya sambil tersenyum manis begitu melihatnya pulang,
"ontyyy"
Baru saja dicari keberadaannya, Aksen sudah menunjukkan diri. Ia berlari ke arah Millen yang sudah duduk di sofa.
Hal baru bagi Millen ketika ia pulang bekerja ada seseorang yang menyambutnya seperti ini. Sungguh hal seperti ini lah yang membuatnya ingin cepat-cepat pulang.
Aksen yang sudah berbalut piyama tidur bergambar mobil-mobilan duduk di atas kedua paha Millen dengan tangan yang melingkari leher Millen.
Gadis berkerudung tosca itu memajukan wajahnya menghujani ciuman di pipi, dahi dan bibir Aksen bergantian hingga membuat bocah tampan itu tertawa karena geli,
"jagoan onty lagi ngapain?"
"aku liatin mbak Tini tanam pohon cabe di belakang"
"cabe apa?"
"cabe rawit" Aksen tertawa yang juga menular pada Millen. Ia memajukan wajahnya mencium pipi Aksen gemas
"kamu nggak main sama Cila?"
Satu tangan Aksen bergerak memainkan bros kecil berbentuk pita yang digunakan Millen pada kerudungnya, "Cila pergi sama mama papa-nya" jawabnya dengan wajah sendu
Memang sudah beberapa hari ini Aksen selalu bermain dengan Cila--anak tetangga samping rumah Millen. Berawal dari mereka yang tak sengaja berkenalan hingga akhirnya membuat mereka menjadi akrab sampai sekarang.
Bahkan Millen merasa karena Cila-lah yang akhirnya membuat Aksen kembali ceria dan perlahan-perlahan melupakan kesedihannya. Lagi-lagi Millen sangat bersyukur dengan hal tersebut.
"loh kamu udah pulang Mil?"
Terlihat Annisa yang baru datang dari arah dapur dengan membawa piring berisikan potongan buah. Millen tersenyum sambil menganggukkan kepala,
"baru sampe kok mah" ia mengambil garpu yang sudah tertusuk melon kemudian mengarahkannya ke mulut Aksen
Bocah tampan itu tersenyum sebelum akhirnya membuka mulutnya lebar dan mengunyah melon tersebut. Setelahnya ia kembali menusukkan garpu pada melon dan mengarahkan ke dalam mulutnya sendiri,
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
BeletrieSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)