Everlasting Love | 19

22.9K 2K 73
                                        

“nggak mau. Acen nggak mau makan. Aku cuma mau mama”

“aku kangen mama”

“Acen mau ketemu mama”

Setelahnya tangis Aksen langsung pecah saat itu juga bersamaan dengan air mata yang langsung turun membasahi pipinya. Bocah tampan yang sudah berbalut piyama tidur menangis di tengah tempat tidur berharap dengan menangis sekencang-kencangnya mamanya bisa pulang ke rumah.

Sudah seminggu berlalu setelah Millen pergi tanpa kabar. Sampai saat ini semua orang di Jakarta masih belum tahu dimana keberadaan Millen. Mereka semua bahkan sudah bingung harus mencari kemana lagi sementara sampai saat ini ponsel Millen pun masih tidak bisa dihubungi.

Annisa menyeka air mata yang tanpa permisi turun ke pipinya kemudian meletakkan piring berisi lauk di nakas dan memeluk Aksen erat. Ia pun sama sedihnya dengan Aksen. Ia juga sama rindunya seperti Aksen. Tetapi Annisa sendiri tidak tahu harus mencari putrinya dimana lagi.

Bahkan ia sudah menelpon Rudi dan Mitha karena mungkin saja mereka mengetahui Millen namun tetap saja hasilnya nihil. Mereka tidak mengetahui dimana Millen.

Sandra yang kebetulan berada di sana mengelus punggung Annisa saat terlihat wanita paruh baya itu yang terisak menangis sambil memeluk Aksen. Sejak kemarin Aksen memang tinggal di rumah Annisa karena permintaan bocah itu.

Katanya ia ingin menunggu pulang mamanya di rumah Annisa dan Aksen tidak mau pulang ke rumah Aby sampai Millen pulang.

Tak berselang lama pintu kamar terbuka menampilkan Aby yang baru saja pulang kerja. Ya, selama Millen pergi tanpa kejelasan seperti ini Aby selalu pulang terlambat.

Hal tersebut dikarenakan dirinya yang masih terus mencari Millen setelah pulang bekerja. Bahkan terkadang disela-sela jam kerjanya ia terus menyempatkan diri mencari istrinya.

“kenapa mah?”

Sandra menoleh kemudian menyeka air matanya, “Aksen nggak mau makan padahal dari siang tadi dia belum makan. Dia cuma bilang kalo mau ketemu Millen” ia bangkit berdiri

Annisa melepaskan pelukannya kemudian menggeser sedikit tubuhnya memberi ruang pada Aby yang sudah duduk di samping Aksen yang masih sesegukkan menangis,

“Acen kenapa nggak mau makan?” ia menangkup wajah Aksen

“aku mau ketemu mama ayah” air mata kembali turun ke pipinya “mama kapan pulang aku udah kangen banget sama mama. Kenapa mama ninggalin kita ayah?”

Ibu jari Aby bergerak menghapus air mata diwajah putranya. Hatinya selalu mencelos seperti sekarang tiap kali Aksen sudah mengeluaran berbagai pertanyaan mengenai Millen, “mama nggak ninggalin kita. Mama pasti pulang dan kumpul lagi sama kita”

“ayah bohong! Kemarin ayah juga bilang gitu tapi sekarang mama belum pulang” teriak Aksen sambil menangis. Ia menjauhkan diri dari ayahnya, beringsut ke sudut kepala ranjang sambil menangis lagi.

Aksen memang benar, Aby selalu mengatakan pada Aksen bahwa Millen akan pulang tiap kali anak itu tidak mau makan atau pun sekolah.

Hal tersebut tentu saja membuat Aksen berharap besar akan kepulangan mamanya namun nyatanya sampai sekarang Millen belum pulang membuat Aksen tidak percaya lagi dengan ayahnya.

Aby naik ke atas ranjang, ia mendekati Aksen kemudian memindahkannya menjadi ke pangkuannya, “Acen lihat ayah” ia menangkup wajah Aksen.  Mata indah Aksen yang basah langsung membalas tatapan ayahnya,

“ayah janji ayah akan bawa mama pulang. Ayah akan cari mama kemana pun dan dimana pun. Mama pasti pulang sayang. Tapi Acen harus janji sama ayah”

Everlasting Love [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang