“Cila, itu ayah aku. Aku dijemput ayah”
Aksen berseru girang saat tanpa sengaja melihat Aby dan Millen dari jendela yang berjalan menuju kelasnya. Cila—anak perempuan dengan rambutnya yang diikat dua berlari ke sisi jendela—begitu juga dengan teman sekelas Aksen yang lainnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi Aksen langsung menyambar tas kemudian berlari keluar kelas sambil memanggil ayahnya.
Aby dan Millen yang sebelumnya berjalan sambil sesekali mengobrol menolehkan kepalanya secara bersamaan saat mendengar suara Aksen. Refleks Aby langsung menekuk lutut menangkap Aksen lalu menggendongnya,
“anak ayah udah selesai sekolahnya. Tadi belajar apa?”
“tadi aku menggambar terus dapet bintang tiga”
“wah hebat dong anak ayah” Aby mencium pipi Aksen
Bersamaan dengan itu terdengar derap langkah kaki yang menghampiri mereka sebelum akhirnya terdengar suara yang menginterupsi mereka, “Aksen kita baca doa sebelum pulang dulu yuk. Masa langsung pergi gitu aja” ucap guru Aksen
“oh iya aku lupa bu guru”
Aksen terkikik geli karena lupa belum membaca doa sebelum pulang tetapi ia sudah lari keluar kelas lebih dulu—saking senangnya dijemput oleh Aby.
Millen dan Aby pun tertawa melihatnya. Aby mencium pipi Aksen sekali lagi kemudian menurunkan putra tampannya dan membiarkan Aksen kembali ke kelas bersama dengan ibu guru.
Satu jam berlalu Aby, Millen dan Aksen sudah kembali berada di rumah. Tadi mereka sempat mampir ke supermarket berbelanja bahan makanan sekaligus mengisi kulkas mereka yang masih kosong.
Mereka baru saja selesai makan siang tadi. Aksen sudah terlelap tidur di kamarnya. Ia memang selalu terbiasa tidur setelah pulang sekolah karena memang hal tersebut sudah dibiasakan sejak dulu.
Sementara Aby sedang melaksanakan shalat dzuhur di kamar dan Millen sendiri yang sudah lebih dulu mengerjakan shalat dzuhur sedang menonton tv di ruang tengah. Ingin tidur tetapi tidak mengantuk.
Dengan remote ditangannya Millen menggonta-ganti channel tv mencari acara tv yang menarik menurutnya. Namun sebagian besar acara yang ditayangkan saat siang hari seperti ini tak jauh dari sinetron-sinetron yang kebanyakan memiliki inti cerita sama.
Disaat Millen masih terus menggonta-ganti channel tv. Aby keluar dari kamar dengan rambutnya yang masih basah sehabis shalat.
Ia menuruni anak tangga dengan tangan diponsel kemudian mengambil posisi disebelah Millen dengan merebahkan kepalanya di atas paha istrinya,
“Mil, barusan mamah kabarin aku katanya mamah udah dapet ART yang cocok buat kita” katanya sambil memeriksa chat dari Wina
Millen meletakkan remote dilengan sofa, “kok mamah cepet banget dapetnya?”
“bentar aku bacain chat mamah ya. Iya jadi katanya ART yang nanti kerja di rumah kita itu masih saudaraan gitulah sama ART yang kerja di rumah mamah.
"... Mamah bilang namanya itu bi Atih. Tapi katanya bi Atih itu nggak bisa tinggal di rumah kita karena dia juga punya anak dan suami”
Tangan Millen bergerak mengelus rambut Aby, “jadi bi Atih dateng pagi terus sore pulang gitu?”
Aby menatap istrinya sambil mengangguk, “iya kayak gitu. Sore kamu udah di rumah kan jadi Aksen nggak akan sendiri. Gimana mau nggak?”
“yaudah nggak pa-pa Mas daripada cari lagi nanti malah nggak ada”
“oke aku bilang mamah ya” jemari tangan Aby bergerak membalas chat Wina
Setelah membalas chat Wina, Aby meletakkan ponsel di meja. Ia menatap ke layar tv begitu juga dengan Millen. Karena tangan Millen yang terus bergerak mengelus rambut Aby membuat si empunya mengantuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
General FictionSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)