Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam saat masih terdengar suara hujan yang turun membasahi langit ibukota.
Waktu cepat berlalu hingga tak terasa sudah satu minggu sejak kembalinya Millen dari Bandung. Sekarang ini keluarga kecil Aby sudah kembali ke rumah mereka. Rumah yang tak mereka tinggali selama sebulan.
Begitu Millen kembali ke Jakarta, esoknya Aby memang langsung memboyong istri dan juga putranya pulang. Karena ia sendiri sudah tidak ingin terlalu lama merepotkan kedua orang tuanya dan juga Annisa. Ditambah lagi ia juga sudah rindu berkumpul dengan keluarga kecilnya di istana mereka.
Millen baru saja selesai membacakan dongeng untuk Aksen, anak itu baru tertidur setelah Millen membacakan tiga buku dongeng.
Biasanya membacakan dongeng sebelum tidur menjadi rutinitas Aby namun selama seminggu ini Aksen merengek agar Millen yang membacakannya dongeng. Ia masih belum ingin terpisah sedikit pun dengan mamahnya.
Setelah menyelimuti Aksen dan memberikan kecupan selamat tidur di dahi Aksen, ia keluar kamar dan menutup pintu kamar dengan sangat perlahan.
Wanita cantik itu kemudian melangkah menuju kamarnya, ia melangkah masuk ke dalam kamar dengan sang suami tampannya yang sedang duduk di tengah ranjang dengan laptop yang berada di pangkuan.
“Acen udah tidur?”
Millen berjalan ke arah kamar mandi, “udah. Harus bacain tiga dongeng dulu baru tidur”
Aby tersenyum mendengar jawaban istrinya dan kembali menatap layar laptop saat Millen sudah menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Memilih melanjutkan pekerjaannya besok di kantor Aby mematikan laptop kemudian meletakkannya di nakas samping ranjang.
Bersamaan dengan itu Millen keluar dari kamar mandi. Ia berjalan ke sisi ranjang satunya kemudian menyibak selimut dan merangkak naik. Tangannya terulur mengambil ponsel di nakas melihat beberapa notifikasi yang masuk. Merasa tak ada yang penting ia pun merebahkan dirinya.
“Mas”
Aby yang sedang mengutak ngatik ponselnya menoleh sekilas, “ya sayang?”
“kamu besok ada urusan?”
Terlebih dulu Aby meletakkan ponsel di nakas kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Millen,
“nggak ada. Kenapa emangnya?” ia menyelipkan juntaian rambut istrinya ke belakang telinga
“aku pengen ke makam Bella. Mas mau kan? Kita ajak Aksen sekalian”
Gerakan tangan Aby berhenti seketika. Ia menatap istrinya. Entah kenapa setiap kali mendengar nama Bella membuat Aby kembali teringat dengan kesalahan besarnya.
Walaupun Millen memang sudah memaafkan dirinya tetapi tetap saja tiap kali ia mendengar nama Bella maka rasa bersalah akan kembali muncul ke permukaan.
“Mas” Millen memegang sebelah pipi suaminya seakan tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya
Aby tersenyum dengan satu tangannya yang bergerak mengambil tangan Millen di pipinya kemudian mengecup punggung tangannya, “aku nggak pa-pa. Besok kita ke makam Bella sekalian ajak Aksen ya”
Millen membalas senyuman Aby kemudian menggeser tubuhnya dan mulai menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Aby. Sementara Aby melingkarkan tangannya memeluk erat Millen sembari terus menciumi pucuk kepala istrinya.
***
Keesokan harinya, Millen sudah siap dengan setelannya untuk ke makam Bella. Ia menuruni anak tangga rumahnya menuju lantai satu dimana sudah terlihat Aby yang menunggunya sejak tadi di sofa ruang tengah sambil memainkan ponsel.
KAMU SEDANG MEMBACA
Everlasting Love [Completed]
General FictionSemua terasa membingungkan bagi Milen. Aby yang setahun lalu meminta putus secara tiba-tiba datang bersama keluarganya untuk melamar Millen. Belum cukup sampai disitu, Millen pun merasa ada yang aneh saat melihat kedekatan antara Aby dan Aksen--anak...
![Everlasting Love [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/132831758-64-k389838.jpg)