Everlasting Love | 10

23.4K 1.9K 69
                                        

Terlalu cepat.

Waktu terlalu cepat berlalu hingga tak terasa pernikahan Millen dan Aby hanya tinggal menghitung jam saja.

Ya. Esok pagi hari dimana akan menjadi hari yang paling bersejarah dan membahagiakan bagi Millen dan Aby.

Bahagia? Apa keduanya benar-benar bahagia dengan pernikahan mereka esok? Entahlah.

Acara pengajian sudah diadakan saat siang tadi di rumah Millen. Begitu juga dengan di rumah Aby.

Segala persiapan untuk hari esok pun sudah semuanya dipersiapkan. Millen dan Aby hanya tinggal menyiapkan diri untuk menghadapi hari panjang mereka esok.

Namun ada yang berbeda kali ini. Bukannya memikirkan hari pernikahannya esok pagi. Millen justru terlihat cemas, khawatir karena hal lain.

Ia cemas dan khawatir karena sejak tadi Aksen demam. Bocah tampan itu sedang tertidur di tengah ranjang dengan Millen yang sejak tadi tak bergeser sedikit pun menemaninya.

Padahal saat siang sampai sore tadi Aksen terlihat baik-baik saja. Ia banyak bermain dengan sepupu dan saudara Millen yang memang sudah berkumpul di rumahnya.

Millen mengambil handuk kecil di dahi Aksen kemudian mencelupkan handuk ke dalam wadah berisi air. Setelah diperas ia kembali meletakkannya di dahi Aksen.

Bersamaan dengan itu terdengar suara pintu kamar yang dibuka. Annisa melangkah masuk lalu duduk di tepi ranjang sambil mengusap lembut sebelah pipi Aksen,

"belum turun panasnya?"

Millen menggeleng, "belum mah"

"nggak usah khawatir. Ini cuma demam biasa. Setelah minum obat dan dikompres juga demamnya bakalan turun"

Ya. Millen harap begitu. Ia tidak ingin Aksen sakit dihari bahagianya esok. Terlebih lagi Aksen lah salah satu orang yang paling bersemangat menyambut hari esok.

Karena setelah Aby menikahi Millen maka ia bisa memanggil Aby dengan sebutan ayah. Itu yang dikatakan Mita padanya hingga membuat Aksen begitu semangat dan tak sabar menyambut hari esok.

Tetapi melihat kondisi Aksen sekarang membuat Millen khawatir sekaligus sedih. Sedih karena tak tega melihat Aksen sakit seperti ini.

Terlebih lagi selama Aksen tinggal bersamanya, ini pertama kalinya bocah tampan itu jatuh sakit yang akhirnya sukses membuat Millen cemas dan bersedih.

"Mil, kamu belum makan kan? Makan dulu ya"

Tangan Millen bergerak mengelus lembut rambut hitam Aksen, "nanti aja mah"

Sungguh melihat Aksen yang masih demam seperti ini membuat Millen tak nafsu makan. Ia tidak ingin melakukan apa-apa dan hanya ingin menemani Aksen.

Jadi begini rasanya menjadi seorang ibu. Jadi seperti ini perasaan yang dirasakan seorang ibu ketika melihat anaknya jatuh sakit.

Sedih.

Sekarang Millen mengerti kenapa dulu mamanya sering kali melarangnya untuk tidak jajan sembarangan. Karena Annisa tidak ingin Millen jatuh sakit yang pada akhirnya membuat Annisa bersedih.

"makan dulu dong Mil. Besok kan hari pernikahan kamu. Mamah takut maag kamu kambuh kalo nggak makan" bujuk Annisa

"iya nanti aku makan kok mah"

Millen tersenyum pada Annisa berharap jawaban yang ia berikan barusan tidak akan membuat mamanya cemas.

"yaudah mamah tinggal ya. Jangan lupa makan nanti"

Gadis cantik itu menganggukkan kepala mengiyakan ucapan Annisa sambil tersenyum. Kemudian kembali menatap Aksen yang masih terlelap tidur.

Sementara itu diwaktu yang bersamaan namun tempat yang berbeda. Seorang pria dengan celana pendek berwarna hitam yang ditimpali dengan kaos yang juga berwarna hitam berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.

Everlasting Love [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang