Everlasting Love | 15

21.1K 1.6K 44
                                        

Mas Aby💞
Sayang, aku pulang telat. Ada meeting

Millen
Iya mas. Nanti pulangnya hati-hati ya

Selesai membalas chat suaminya Millen meletakkan kembali ponsel di sampingnya kemudian menatap Aksen yang sedang sibuk mewarnai.

Beberapa hari ini Aksen memang sedang gemar mewarnai karena kemarin lusa ia baru saja mendapat pujian dari guru di sekolahnya.

Pujian yang mengatakan bahwa hasil mewarnai Aksen bagus—tidak keluar garis. Dan karena pujian sederhana tersebut Aksen jadi gemar mewarnai bahkan ia sampai meminta Aby membelikannya buku mewarnai kemarin.

Suara bel pintu mengalihkan perhatian Millen, ia bangkit berdiri kemudian berjalan menuju pintu utama sambil menjawab salam yang diserukan si tamu.

Disaat langit sudah mulai menggelap seperti sekarang bi Atih memang sudah pulang sejak tadi hingga Millen memang hanya berdua dengan Aksen.

Millen memutar kunci kemudian membuka handel pintu hingga langsung terlihat dua orang wanita yang tengah berdiri di depan pintu tersenyum padanya. Seorang wanita paruh baya dengan gamis panjang berwarna hijau soft dan kerudung berwarna senada yang menutupi hingga dada.

Di samping wanita tersebut terlihat seorang wanita yang diperkirakan berusia tiga puluh tahunan dengan celana panjang hitam, kemeja biru dan rambutnya yang dikuncir kuda. Mereka adalah Annisa dan mbak Tini.

“mamah, mbak Tini.. kok ke sini nggak bilang-bilang” Millen mencium punggung tangan mamahnya

Annisa tersenyum, “mamah tadi abis ke rumah teman mamah di sekitar sini, yaudah langsung mampir aja ke sini”

“yaudah masuk yuk” ia menggeser tubuhnya memberi ruang pada Annisa dan mbak Tini melangkah masuk ke dalam

Wanita paruh baya berusia lima puluh tahunan itu melangkah masuk menuju ruang tengah dengan Tini yang berjalan di sampingnya. Senyuman terukir diwajah Annisa begitu melihat Aksen yang sedang menunduk mewarnai gambar, “Aksen”

Bocah tampan yang sudah berbalut piyama mengangkat wajahnya. Matanya langsung berbinar saat melihat siapa yang datang, “oma.. mbak Tini..” ia langsung berlari ke arah keduanya lalu memeluknya bergantian

Sementara Annisa dan mbak Tini sudah bergabung menemani Aksen mewarnai sekaligus mendengarkan celotehan si bocah tampan itu. Millen tengah sibuk berada di dapur membuatkan minuman untuk mamahnya dan juga mbak Tini.

Selesai membuatkan minuman, Millen membawa nampan dengan dua gelas berisi minuman sirup dan sepiring brownies coklat yang tadi diberikan mahasiswi bimbingannya. Tadi salah satu mahasiswi bimbingan Millen ada yang baru saja selesai melaksanakan sidang skripsi.

Dan mahasiswi tersebut memberikan dua kotak brownies coklat dan sebuah hadiah tas pada Millen sebagai ucapan terimakasih karena telah membimbingnya dalam menyusun skripsi selama ini.

Awalnya Millen menolak karena merasa hadiahnya terlalu banyak. Ia cukup mengerti bagaimana kantong para mahasiswa. Terlebih lagi membimbing skripsi memang sudah menjadi kewajibannya sebagai dosen pembimbing.

Namun mahasiswi tersebut terus memaksa Millen agar mau menerima pemberiannya tersebut. Katanya ia akan merasa sedih jika Millen menolaknya. Mau tak mau Millen pun menerima semua pemberian mahasiswi bimbingannya itu.

Millen meletakkan nampan berisi minuman dan sepiring brownies di meja, “diminum mah, mbak Tini”

“Aby belum pulang?”

“belum, Mas Aby pulang telat. Ada meeting”

Annisa mengangguk mengerti kemudian kembali menatap ke arah Aksen, “cucu oma makin ganteng aja. Pipinya makin gembul deh, Acen makan mulu ya di rumah”

Everlasting Love [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang