Everlasting Love | 25

23.7K 1.8K 71
                                        

Aby merasa benar-benar sial hari ini, ia yang awalnya berniat untuk tidak ke kantor karena tak tega meninggalkan Millen seperti ini harus membatalkan niatannya tersebut karena telepon dari atasannya yang mengatakan ada meeting penting.

Belum lagi ia yang lagi-lagi berniat untuk segera pulang setelah meeting harus menggagalkan niatnya lagi karena sang atasan yang memintanya kembali menemani dirinya meeting.

Ditambah lagi Aby harus menyelesaikan pekerjaannya yang harus hari itu juga diserahkan pada atasannya. Dan alhasil Aby baru pulang disaat jam pulang kantor seperti biasanya.

Pria tampan itu membelokkan stir mobilnya memasuki pekarangan rumah. Di sana juga terparkir mobil Wina, mamahnya itu datang bersama dengan Andra tadi. Sedangkan Annisa juga datang saat Millen meneleponnya tadi.

Setelah memarkirkan mobil, Aby keluar mobil kemudian berjalan masuk ke dalam rumah seraya mengucapkan salam. Samar-samar terdengar suara tv yang berasal dari ruang tengah, di sana terlihat Andra yang sedang menonton tv sambil menikmati cemilan di toples.

“Aksen sama kak Millen mana Ndra?”

Andra menoleh sambil memasukkan keripik singkong ke dalam mulutnya, “kak Millen di kamar, Aksen lagi di meja makan sama mamah”

Aby pun melangkahkan kakinya menuju meja makan yang langsung menyambung dengan dapur. Terlihat Aksen yang sudah duduk di kursi meja makan dengan Wina yang sedang menggoreng sesuatu dan Annisa yang sedang menyendokkan nasi untuk Aksen.

“loh By, kamu baru pulang?” ucap Annisa saat melihat kedatangan menantunya

“iya mah”

Ia menghampiri Annisa dan Wina kemudian mencium punggung tangan keduanya bergantian. Aksen langsung berseru memanggil ayahnya girang saat melihat Aby. Setelahnya Aby menghampiri Aksen kemudian menciumi pipi putranya membuat bocah tampan itu tertawa kegelian.

“Millen gimana mah?”

Ia bertanya sambil kembali mendudukkan Aksen di kursi. Sebelum berangkat ke kantor tadi Aby memang menelepon dokter pribadinya dan memintanya datang ke rumah memeriksa keadaan Millen. Namun karena pekerjaannya ia belum sempat menghubungi Millen.

Annisa menghela nafas, “dokter bilang Millen nggak apa-apa. Cuma masuk angin dan kecapekan aja”

Mendengar jawaban mamah mertuanya membuat Aby bisa bernafas lega tetapi juga ia merasa sedikit kecewa karena mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena bohong saja jika ia mengatakan kalau Aby tak mengharapkan Millen hamil setelah melihat istrinya mual-mual dipagi hari seperti tadi.

Tetapi yang terjadi malah berkebalikan, Millen tidak hamil dan hanya masuk angin biasa. Mungkin memang belum saatnya Millen hamil. Aby yakin kalau sudah saatnya Allah pasti akan memberikan mereka momongan.

“By, kamu ke kamar sana temenin istri kamu. Walaupun Millen nggak cerita apa-apa ke mamah tapi mamah ngerti banget apa yang dia rasain, daritadi Millen nggak keluar kamar” Wina yang baru bergabung dengan membawa sepiring ayam goreng ikut bersuara

Aby menganggukkan kepala sebelum akhirnya berjalan keluar dari ruang makan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Dengan satu tangan yang sudah memegang handle pintu, ia membuka pintu kamar kemudian melangkah masuk ke dalam.

Di sana, di atas ranjang terlihat Millen yang sedang meringkuk seperti janin dengan selimut yang melorot sampai ke pahanya. Aby perlahan melangkah menuju sisi ranjang satunya.

Sementara itu Millen, begitu ia mendengar suara pintu kamar yang dibuka buru-buru ia menghapus air mata yang sejak tadi seakan tak pernah mau berhenti turun ke pipinya.

Everlasting Love [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang